Minggu, 07 Juni 2026 | 22:19
COMMUNITY

Allah Memanggilmu Lima Kali

Allah Memanggilmu Lima Kali
Ilustrasi Muazin (int)

ASKARA - Dalam kesibukan dunia yang tak berujung, banyak manusia berkata, "Aku tidak punya waktu untuk salat." Padahal, di tengah 24 jam yang Allah berikan dalam sehari, hanya lima waktu Ia meminta kita datang. Lima kali Allah memanggilmu, hanya butuh beberapa menit. Bukan karena engkau terlalu sibuk. Engkau hanya terlalu sombong.

Ada panggilan yang datangnya bukan dari manusia, bukan pula dari sistem atau atasan yang bisa ditunda atau dicari alasan. Ini panggilan dari Penciptamu sendiri. Setiap hari, lima kali dalam sehari, Allah memanggilmu dengan lembut namun tegas melalui adzan, "Hayya 'alaṣ-ṣalāh... hayya 'ala-l-falāḥ" "Marilah menuju salat... marilah menuju kemenangan."

Maka siapa yang memalingkan wajahnya dari panggilan ini, sesungguhnya ia telah berpaling dari keberuntungan. Ia bukan sekadar lalai, ia telah menyombongkan diri di hadapan Rabb yang Maha Pengasih.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

﴿ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا ﴾
"Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)

Perhatikanlah, betapa Allah menetapkan waktu-waktu salat sebagai pengingat agar manusia tidak larut dalam urusan dunia. Salat menjadi tanda bahwa waktu itu bukan milik kita. Waktu adalah amanah dari Allah, dan dalam 24 jam, Allah hanya minta lima waktu. Bukan semua waktu.

Namun betapa sering kita memperlakukan salat seolah beban, seolah penghalang dari kerja, dari aktivitas, dari jadwal. Padahal salat bukan pengganggu hidup, justru ia penyambung antara bumi dan langit, antara hamba dan Penciptanya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ»
"Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad." (HR. Tirmidzi, no. 2616)

Bayangkan rumah tanpa tiang—ia akan roboh. Demikian pula agama tanpa salat. Seseorang boleh mengaku Muslim, tetapi jika ia tinggalkan salat dengan sengaja, maka ia telah menghancurkan tiang keimanan.

Rasulullah ﷺ bersabda pula:

«الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ»
"Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir." (HR. Tirmidzi, no. 2621)

Betapa berat ucapan ini. Bukan karena salat itu sulit, tapi karena manusia terlalu meremehkan. Ia lebih memilih notifikasi pekerjaan daripada panggilan adzan. Lebih patuh pada jadwal rapat daripada jadwal ilahi. Padahal salat hanya beberapa menit, tak lebih lama dari waktu kita scrolling media sosial tanpa tujuan.

Adakah alasan yang lebih lemah selain "tidak punya waktu"? Bukankah kita yang mengatur waktu, tapi justru dikuasai oleh nafsu kesibukan? Apakah hati ini telah beku hingga tidak tersentuh panggilan Tuhan?

Allah berfirman:

﴿ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ، ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ﴾
"Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya." (QS. Al-Ma'un: 4-5)

Jika Allah mengancam orang yang salat namun lalai, bagaimana dengan yang sama sekali tidak mengerjakannya? Apakah ia merasa hidupnya lebih aman, lebih mapan, tanpa izin dari yang memberi rezeki?

Ketahuilah, salat bukan hanya ritual. Ia adalah nafas ruhani. Ia adalah mi'raj seorang mukmin. Setiap kali kita sujud, sejatinya kita sedang meletakkan segala ego dan kesombongan di atas tanah, tempat asal dan kembali tubuh ini. Dalam sujud, kita belajar tunduk. Dan tak akan sombong orang yang selalu bersujud.

Namun bila kita enggan salat karena merasa terlalu penting, terlalu sibuk, terlalu lelah maka kita tidak sibuk, kita sombong. Karena siapa pun yang merendahkan salat, sesungguhnya ia telah meninggikan dirinya di atas perintah Allah. Dan itulah awal kehancuran manusia.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:

«مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ»
"Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya." (HR. Bukhari)

Maka bila kita ingin dekat dengan Allah, mulailah dengan menunaikan salat pada waktunya. Bukan menundanya. Bukan menggugurkannya di ujung waktu. Tapi menjadikannya prioritas tertinggi.

Salat bukan hanya soal kewajiban, tapi soal cinta. Orang yang mencintai Allah akan rindu bertemu-Nya. Dan salat adalah momen pertemuan itu. Sehari lima kali. Di waktu subuh saat dunia masih hening, di waktu zuhur saat panas dunia mulai membakar, di asar saat matahari condong, di maghrib saat senja datang, dan di isya saat gelap menyelimuti. Lima panggilan cinta. Lima waktu perjumpaan.

Jika kamu masih berkata, "Aku tidak sempat salat", maka tanyakan kepada hatimu: adakah yang lebih layak mendapat waktumu daripada Allah?

Ingatlah, kita akan kembali kepada-Nya. Dan salat akan menjadi perkara pertama yang ditanya di akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ: الصَّلَاةُ»
"Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah salatnya." (HR. Abu Dawud, no. 864)

Tak akan ada alasan yang bisa diterima. Tak ada dalih. Tak ada pembelaan. Kita punya 24 jam sehari. Dan Allah hanya minta beberapa menit, lima kali sehari. Bila itu pun kita abaikan, maka kita bukan sekadar lalai. Kita sedang menutup pintu ampunan dengan kesombongan.

Maka jangan tunda lagi. Saat adzan berkumandang, berdirilah. Basuh wajahmu. Hadapkan hatimu. Bersujudlah. Bukan karena engkau sempurna, tapi karena engkau butuh disucikan.

Salat bukan beban. Salat adalah kemuliaan. Jawablah panggilan Allah. Lima kali dalam sehari. Bukan karena engkau sibuk, tapi karena engkau hamba yang bersyukur. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar