Jangan Marah di Depan Kamera
ASKARA - Talkshow bukan panggung drama kemarahan. Sekeras apapun debatnya, etika bicara harus dijaga. Ketika mikrofon terbuka, emosi harus ditutup. Marah-marah di televisi, apalagi dari tokoh publik, tak menambah wibawa, justru memperlihatkan ketidakmatangan dalam berpikir dan ketergelinciran dalam menyampaikan pesan.
Indonesia sudah terlalu sering diramaikan dengan kebisingan yang tidak menambah kematangan publik. Talkshow politik, hukum, hingga diskusi kebangsaan di layar kaca kerap kali berubah menjadi panggung ego, bukan lagi ruang dialog. Dan saat seorang pejabat selevel penasehat Kapolri menghardik lawan bicaranya dengan teriakan "DIAAAAMMM" yang melengking dan menusuk, kita semua patut khawatir. Bukan hanya soal substansi perdebatan, tapi tentang krisis etika yang kini makin vulgar dipertontonkan ke publik.
Publik tidak bodoh. Mereka tahu mana argumen dan mana emosi. Di era digital seperti ini, rekaman singkat bisa viral dalam hitungan menit, dan lebih mengerikan: bisa mengaburkan semua isi diskusi hanya karena satu kata kasar yang diteriakkan keras. Lalu untuk apa bicara panjang lebar jika akhirnya semua yang diingat hanyalah nada marah dan sorot mata beringas?
Bukankah kita dibesarkan dalam budaya Timur yang menjunjung tinggi kesantunan dalam berdialog? Bukankah pemimpin, pejabat, dan penasihat seharusnya menjadi teladan dalam hal pengendalian diri, bukan malah ikut membakar bara konflik?
Teriakan “DIAM!” itu bukan sekadar ledakan emosi. Ia adalah simbol kegagalan memahami fungsi komunikasi. Ketika seseorang memilih berteriak ketimbang menjelaskan, itu tanda ia tidak percaya lagi pada kekuatan argumen. Dan lebih buruk lagi, ia sedang menunjukkan bahwa kuasa bisa dipakai untuk membungkam, bukan untuk memahamkan.
Lucunya, sering kali kemarahan dibungkus seolah bentuk keberanian. Padahal tidak. Marah dalam debat bukan keberanian, itu ketergesaan. Keberanian sejati adalah tetap tenang saat diserang, tetap logis saat dicaci, dan tetap fokus saat dipancing emosi. Kemarahan hanya menunjukkan betapa lemah seseorang dalam menghadapi perbedaan, betapa kecilnya ruang toleransi dalam kepalanya.
Sungguh ironis ketika penasihat lembaga kepolisian institusi yang seharusnya menjaga ketertiban justru kehilangan ketertiban dalam dirinya. Seolah ingin berkata, “Diamlah semua, hanya saya yang boleh bicara!” Bukankah ini berbahaya? Bukankah ini seperti membenarkan gaya kepemimpinan yang otoriter, yang lebih suka membentak ketimbang berdiskusi?
Talkshow bukan medan pertempuran, bukan ruang sidang yang bisa digeramkan dengan suara tinggi dan telunjuk tajam. Ia adalah ruang simulasi bagi bangsa ini belajar beradu ide tanpa harus saling melukai. Jika tokoh publik saja gagal mengendalikan emosi di panggung seperti itu, lalu bagaimana kita bisa berharap masyarakat tidak ikut-ikutan membentak satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari?
Dan jangan salah, satu teriakan di televisi bisa menular seperti virus. Penonton muda bisa menganggap itu biasa. Pengikut fanatik bisa menganggap itu heroik. Dan lebih parah: masyarakat bisa mengira bahwa cara terbaik mengalahkan lawan bicara adalah dengan membungkamnya. Inilah efek domino dari kesalahan satu orang yang punya mikrofon dan kamera di depannya.
Ini bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah dalam perdebatan itu. Ini soal bagaimana menyampaikan kebenaran tanpa merendahkan, menyuarakan pendapat tanpa menyiksa pendengaran. Etika dalam komunikasi bukan pelengkap, tapi fondasi. Tanpanya, debat berubah jadi sirkus.
Jika pejabat publik tidak mampu menahan diri di ruang terbuka, mungkin ia lebih cocok berbicara di ruang tertutup. Jika tak mampu membendung ego saat mikrofon menyala, maka matikan saja mikrofon itu sebelum semakin banyak generasi muda belajar salah.
Kita butuh keteladanan dalam berpikir, bertindak, dan berbicara. Bukan sekadar kata-kata manis di pidato resmi, tapi konsistensi dalam bersikap, bahkan saat provokasi datang dari depan wajah. Di sanalah kebesaran jiwa teruji. Bukan dalam diam karena takut, tapi dalam diam karena menguasai diri.
Negara ini tidak butuh teriakan untuk bangkit. Ia butuh percakapan jernih, adu gagasan yang elegan, dan debat sehat yang menggugah kesadaran. Karena bangsa besar bukan dilahirkan dari lidah-lidah yang menyuruh “diam!”, melainkan dari akal-akal yang membuat orang ingin mendengar.
Jadi, lain kali jika ada perdebatan di ruang publik, mari kita tuntut lebih dari sekadar argumen yang keras. Tuntutlah adab. Tuntutlah akhlak. Sebab sehebat apapun isi kepala, kalau mulutnya tak terjaga, ia hanya menyebar kebisingan, bukan kebijaksanaan. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar