Selasa, 21 Juli 2026 | 23:00
NEWS

Uskup Timika Kutuk Keras Perusakan Lingkungan di Papua, Khususnya Raja Ampat

Suara Kemanusiaan dan Alam dari Tanah Papua

Uskup Timika Kutuk Keras Perusakan Lingkungan di Papua, Khususnya Raja Ampat
Kerusakan lingkungan akibat tambang (Dok Greenpeace)

ASKARA - Seruan moral kembali menggema dari ujung timur Indonesia. Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernadus Bofitwos Baru, OSA, dalam khotbah Pentakosta pada Minggu lalu, mengutuk keras praktik perusakan lingkungan di Papua, khususnya di wilayah Raja Ampat yang sedang menjadi sorotan akibat ekspansi pertambangan nikel. Ia menegaskan bahwa lebih dari 2.000 hektare tanah di Tanah Marind telah dibabat habis demi kepentingan oligarki. “Hanya untuk ketamakan dan kerakusan, tanah ini dihancurkan,” serunya dari mimbar Gereja Katedral Tiga Raja, Timika.

Uskup Bernadus juga menyoroti hancurnya keindahan Raja Ampat, ikon pariwisata dunia, yang kini terancam menjadi korban proyek strategis nasional yang berpihak pada modal, bukan pada kehidupan. Kritik ini bukan sekadar ajakan religius, melainkan peringatan moral dari tokoh yang menyuarakan jeritan alam dan manusia Papua yang kian termarjinalkan oleh kerakusan industrialisasi.

Kekhawatiran itu sejalan dengan aksi Greenpeace Indonesia dalam konferensi tambang mineral kritis beberapa hari lalu. Iqbal Damanik, juru kampanye hutan dari Greenpeace, menyebut bahwa pertambangan nikel di pulau-pulau kecil Raja Ampat bukan hanya ancaman ekologis, tetapi juga pengkhianatan terhadap keberlanjutan alam Indonesia. “Kalau diteruskan, ini akan merusak lingkungan pulau tersebut,” ujarnya. Pulau-pulau kecil tak memiliki daya tahan ekologis yang besar, dan begitu rusak, tak akan bisa pulih dalam hitungan generasi.

Lebih dari sekadar gerakan lingkungan, suara kritik ini juga datang dari komunitas pencinta alam. Dar Edi Yoga, penggiat alam bebas dari komunitas TRAMP (Top Ranger And Mountain Pathfinder), menegaskan bahwa kerusakan alam di Papua bukan hanya soal lingkungan, tetapi menyangkut keutuhan identitas dan masa depan bangsa.

"Kerusakan lingkungan di Papua adalah luka terbuka yang dibiarkan menganga. Di balik hutan, laut, dan pegunungan itu ada kehidupan masyarakat adat, sumber pangan, budaya, dan spiritualitas yang tak bisa diukur dengan keuntungan tambang," tegas Dar Edi Yoga, Kamis (11/6).

Ia juga menambahkan, komunitas pencinta alam harus menjadi garda terdepan dalam membela ekosistem Indonesia. "Kita tidak bisa diam ketika gunung diledakkan, hutan dibabat, dan laut dicemari atas nama pembangunan yang tidak manusiawi," katanya.

Seruan dari Uskup Bernadus, aktivis lingkungan, dan pencinta alam seperti Dar Edi Yoga harus menjadi alarm keras bagi pemerintah. Proyek strategis nasional tidak boleh menjadi dalih untuk menghancurkan warisan ekologis yang telah menjaga kehidupan ribuan tahun lamanya.

Hal ini bukan sekadar kritik, melainkan ajakan: hentikan ekspansi yang merusak alam Papua. Kembalikan kehormatan kepada bumi Raja Ampat. Alam bukan milik segelintir penguasa dan pemodal, tapi warisan seluruh anak bangsa dan titipan generasi masa depan.

 

 

Komentar