Minggu, 07 Juni 2026 | 12:17
NEWS

Indonesia Dorong Investasi Ekosistem Haji

Indonesia Dorong Investasi Ekosistem Haji
Rombongan Amirul Hajj silaturahmi ke mantan Walikota Mekkah, Dr. Osamah Fadi Al-Barr

ASKARA - Dalam rangka memperkuat ekosistem pelayanan Haji dan Umrah, rombongan Amirul Hajj yang dipimpin Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar bersilaturahmi dengan mantan Wali Kota Mekkah, Dr. Osamah Fadl Al-Barr, di Mekkah, Arab Saudi. Pertemuan ini membahas peluang strategis investasi, termasuk pembangunan lapangan terbang dan rumah sakit khusus jemaah asal Indonesia.

Mekkah, Arab Saudi  Silaturrahmi yang sarat makna dan strategi antara delegasi Amirul Hajj Republik Indonesia dengan tokoh penting Arab Saudi, Dr. Osamah Fadl Al-Barr, yang juga mantan Wali Kota Mekkah sekaligus pengusaha berpengaruh, digelar pada Senin, 9 Juni 2025. Pertemuan ini berlangsung di kediaman pribadi Al-Barr yang terletak sekitar 3 kilometer dari Masjidil Haram, jantung spiritual umat Islam dunia.

Rombongan Amirul Hajj Indonesia dipimpin langsung oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, yang hadir bersama sejumlah tokoh nasional lintas sektor. Tampak mendampingi antara lain Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. Amirsyah Tambunan, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dr. Ikrar, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Ir. Arif Satria, serta beberapa delegasi penting lainnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, kedua pihak mendiskusikan peluang-peluang besar kerja sama strategis di bidang investasi infrastruktur pelayanan Haji dan Umrah. Fokus utama yang menjadi sorotan ialah pembangunan lapangan terbang di kawasan Thaib, serta pendirian rumah sakit modern yang representatif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan jemaah asal Indonesia yang setiap tahunnya berjumlah sangat besar.

“Indonesia merupakan penyumbang jemaah haji terbesar di dunia. Potensinya sangat besar dan harus diimbangi dengan fasilitas yang menunjang. Kita butuh ekosistem haji dan umrah yang kuat, modern, dan terintegrasi dari A sampai Z,” ujar Prof. Dr. Nasaruddin Umar dalam pertemuan tersebut.

Ia menekankan, target Indonesia adalah menyiapkan sistem layanan yang mampu mengelola minimal dua juta jemaah per tahun, baik untuk haji maupun umrah, secara profesional dan manusiawi. Oleh karena itu, kemitraan dan kerja sama strategis dengan tokoh-tokoh penting di Arab Saudi menjadi salah satu kunci sukses.

Dr. Osamah Fadl Al-Barr menyambut antusias rencana tersebut. Ia menyampaikan kesediaannya untuk membangun hubungan ekonomi dan sosial yang lebih erat dengan Indonesia. Baginya, hubungan antara Arab Saudi dan Indonesia bukan semata hubungan dua negara, tapi juga hubungan umat dan saudara seiman.

“Saya melihat Indonesia bukan hanya sebagai mitra, tapi sebagai saudara dalam semangat keislaman dan kemanusiaan. Mekkah dan Madinah adalah rumah semua Muslim, dan kami senang jika bisa memberi kontribusi nyata kepada saudara-saudara dari Indonesia,” ujar Al-Barr.

Dalam kesempatan itu pula, dibahas pentingnya pendekatan ekosistem yang holistik dalam pelayanan haji. Tidak hanya soal transportasi dan akomodasi, tapi juga sistem informasi, teknologi digital, ketahanan pangan halal, manajemen kesehatan, hingga edukasi spiritual berbasis budaya lokal Indonesia.

Rektor IPB, Dr. Arif Satria, misalnya, menyampaikan bahwa sektor pangan halal harus mendapat perhatian serius. "Kami siap membangun kerja sama untuk mendirikan pusat logistik halal berbasis pertanian dan pangan dari Indonesia, demi menjamin konsumsi jemaah Indonesia tetap sesuai standar kehalalan dan kesehatan," tegas Arif.

Sementara itu, Kepala BPOM RI, Dr. Ikrar, menambahkan pentingnya pengawasan ketat terhadap suplai obat-obatan dan makanan untuk jemaah. Ia mengusulkan pembentukan unit pengawasan terpadu antara Indonesia dan Arab Saudi.

“Jemaah kita datang dengan berbagai kondisi kesehatan. Fasilitas medis harus ditingkatkan, dan pengawasan mutu makanan dan obat-obatan menjadi hal yang tak bisa ditawar,” ujarnya.

Di sisi lain, Sekjen MUI Dr. Amirsyah menyoroti dimensi spiritual dari pelayanan haji. Menurutnya, ekosistem haji juga harus menjamin ruhiyah jemaah tetap terjaga.

“Haji bukan sekadar ibadah fisik. Ini adalah transformasi spiritual dan sosial. Maka pelayanan harus mendukung jemaah untuk khusyuk, tenang, dan tidak terbebani oleh urusan teknis yang semestinya bisa diantisipasi sejak awal,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut juga menandai babak baru dalam diplomasi kultural Indonesia di Arab Saudi. Bukan hanya dalam lingkup formalitas pemerintahan, tapi juga melalui pendekatan personal dan jaringan komunitas, termasuk para tokoh bisnis dan ulama lokal yang memiliki pengaruh kuat di kawasan.

Silaturahmi ini merupakan bagian dari agenda strategis Amirul Hajj dalam memperkuat diplomasi pelayanan haji di Tanah Suci. Tidak hanya untuk tahun ini, tapi juga sebagai fondasi jangka panjang dalam membangun Indonesia sebagai negara pengirim jemaah yang paling terorganisir, aman, dan bermartabat.

Setelah silaturahmi berakhir, rombongan Amirul Hajj menyampaikan apresiasi mendalam atas sambutan hangat dan terbuka dari pihak tuan rumah. Mereka berharap bahwa diskusi ini bisa segera ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata, termasuk pembentukan tim teknis gabungan, peninjauan lokasi potensial di Thaib, serta rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam waktu dekat.

Melalui pertemuan seperti ini, Indonesia menunjukkan keseriusannya untuk tidak sekadar mengelola jemaah secara administratif, tetapi juga berkontribusi secara konkret dalam pengembangan ekosistem haji yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan strategis di kawasan Timur Tengah.

Dengan jumlah jemaah yang terus meningkat dan kebutuhan yang semakin kompleks, pembangunan infrastruktur haji menjadi ladang amal dan investasi strategis sekaligus. Indonesia telah mengambil langkah penting menuju masa depan pelayanan ibadah yang lebih profesional, spiritual, dan manusiawi. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar