HIPGABI Jateng dan UNIMUS Gelar Edukasi Bantuan Hidup Dasar di CFD Simpang Lima
ASKARA — Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Jawa Tengah bersama mahasiswa Keperawatan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menggelar edukasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada masyarakat umum di arena Car Free Day (CFD) Simpang Lima, Semarang, Minggu (8/6).
Kegiatan yang berlangsung di depan Gedung Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) Semarang ini dimulai sejak pukul 06.30 hingga 09.00 WIB. Edukasi difokuskan pada teknik pertolongan pertama pada kondisi henti jantung dan tersedak—dua keadaan darurat yang sering berujung fatal karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap tindakan intervensi awal.
Ketua HIPGABI Jawa Tengah, Ns. Sri Hartini, S.Kep., menegaskan pentingnya kegiatan seperti ini dilakukan secara konsisten agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan.
"Waktu saat melakukan pertolongan pertama itu sangat esensial dalam upaya menyelamatkan nyawa seseorang. Semakin cepat seseorang mendapatkan pertolongan, maka angka harapan hidupnya juga akan semakin tinggi," jelas Sri Hartini.
Dalam kegiatan ini, tim perawat dan mahasiswa melakukan demonstrasi teknik kompresi dada (pijat jantung) untuk korban henti napas dan Heimlich Manuver untuk korban tersedak. Simulasi dilakukan menggunakan pantom bayi, anak, dan dewasa agar masyarakat memahami perbedaan tindakan sesuai usia korban.
Tak hanya menyaksikan, warga yang hadir juga diajak mempraktikkan teknik-teknik tersebut langsung di bawah bimbingan instruktur. Edukasi juga dilengkapi dengan informasi tentang layanan darurat medis seperti Ambulan Hebat Semarang yang bisa diakses melalui nomor 112 atau 1500-132.
Dosen Keperawatan UNIMUS yang juga pengurus HIPGABI Jateng, Ns. Arief Sofyan Baydhowy, M.Kep., Sp.Kep.MB, menyampaikan bahwa pemahaman masyarakat terhadap BHD sangat krusial dalam memperbesar peluang selamat korban sebelum mendapatkan penanganan medis lanjutan.
"Bantuan Hidup Dasar sangat penting untuk dipelajari oleh masyarakat umum tanpa memerlukan pelatihan medis khusus. Semakin cepat dilakukan, suplai darah ke otak semakin baik, tingkat keselamatan juga pasti meningkat," ungkap Arief Sofyan.
Salah satu mahasiswa peserta, Safna Fahmae Afinda, menyatakan antusiasmenya terlibat dalam kegiatan ini.
"Kegiatan ini mendapat respon positif dari masyarakat dan saya senang bisa terlibat langsung. Akan sangat baik apabila kegiatan seperti ini dilaksanakan secara rutin," ujar Finda.
HIPGABI Jawa Tengah berharap kegiatan ini dapat menginspirasi gerakan edukatif serupa di berbagai wilayah dan mendorong terciptanya masyarakat yang tanggap dan mampu menjadi penolong pertama dalam situasi gawat darurat.

Komentar