Rabu, 22 Juli 2026 | 04:20
NEWS

Tidak Ditemukan Masalah di Tambang Raja Ampat? Ekologis Bicara Lain

Tidak Ditemukan Masalah di Tambang Raja Ampat? Ekologis Bicara Lain
Tambang Nikel di Raja Ampat (Dok Ist)

ASKARA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut tidak ditemukan masalah dalam aktivitas pertambangan PT Gag Nikel di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Namun, pernyataan itu menuai tanda tanya besar di kalangan pengamat lingkungan dan masyarakat lokal yang mengaku merasakan dampak langsung dari aktivitas tambang di kawasan konservasi tersebut.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengunjungi lokasi tambang pada Sabtu (7/6) untuk menindaklanjuti keresahan publik. Usai meninjau, Bahlil menyatakan bahwa penilaian akhir akan diserahkan kepada tim inspektur tambang. Namun di saat bersamaan, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba), Tri Winarno, menyebut tidak ditemukan masalah di wilayah pertambangan tersebut.

Pernyataan itu dinilai janggal mengingat sebelumnya, pada 5 Juni 2025, Menteri ESDM sendiri sempat menghentikan sementara operasional tambang karena adanya laporan masyarakat terkait kerusakan ekosistem pesisir dan gangguan terhadap potensi wisata bahari Raja Ampat yang dikenal dunia.

Tambang Tak Berjejak?

PT Gag Nikel merupakan satu-satunya perusahaan tambang nikel aktif di wilayah tersebut, dengan izin seluas 13.136 hektar, berdasarkan Kontrak Karya (KK) yang masih berlaku di bawah Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 2004 tentang pertambangan di kawasan hutan.

Meski memiliki legalitas formal, para pemerhati lingkungan menyebut tambang tetap menyisakan jejak ekologis. “Kalau ukurannya hanya administratif dan teknis, maka dampak ekologis yang bersifat jangka panjang bisa saja diabaikan. Padahal, Raja Ampat bukan kawasan biasa,” kata seorang aktivis lingkungan yang meminta namanya dirahasiakan.

Masyarakat Masyarakat: Kami Melihat, Kami Merasa

Warga Pulau Gag dan sekitarnya mengeluhkan perubahan warna air laut, berkurangnya hasil tangkapan ikan, serta meningkatnya sedimentasi di daerah pesisir. “Kami bukan ahli, tapi kami tinggal di sini. Kami melihat laut berubah,” ujar salah satu warga yang ditemui di dermaga desa.

Beberapa nelayan juga menyebut jalur tradisional mereka untuk menangkap ikan kini terganggu oleh aktivitas tambang dan lalu lintas alat berat.

Konservasi dan Ekonomi di Persimpangan

Raja Ampat selama ini dikenal sebagai kawasan segitiga terumbu karang dunia yang memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di planet ini. Keberadaan tambang nikel di wilayah sensitif ini menempatkan Indonesia pada persimpangan antara menjaga konservasi dan mengejar pertumbuhan ekonomi berbasis mineral strategis.

“Tidak ditemukan masalah” bisa jadi sebuah kesimpulan administratif. Namun di lapangan, masyarakat dan alam mungkin sedang berkata sebaliknya.

 

 

Komentar