Toleransi di Depok Meningkat, Saatnya Wujudkan Kota yang Harmoni
ASKARA - Kabar baik datang dari Depok. Kota yang selama ini kerap disebut dalam konteks polemik keberagaman, kini menorehkan prestasi yang patut diapresiasi. Indeks Kota Toleran (IKT) versi SETARA Institute mencatat lonjakan peringkat Depok dari posisi 94 ke 78. Memang belum sempurna, tapi ini adalah langkah awal yang signifikan menuju arah yang lebih baik.
Di tengah pergeseran nilai sosial yang kerap memicu sekat-sekat baru, suara yang jernih dan menyejukkan datang dari Pastor Paroki Gereja Bunda Maria Ratu, Romo Dionisius Aditejo Saputro. Beliau menyebut pencapaian ini bukan semata hasil kerja pemerintah, tetapi buah kolaborasi seluruh elemen masyarakat—termasuk umat Katolik dan kelompok minoritas lainnya—yang terus mendorong hadirnya ruang bersama yang damai.
“Perbedaan bukan untuk disamakan, tetapi untuk saling menyempurnakan,” ujar Romo Dionisius. Sebuah pernyataan sederhana namun sarat makna, yang mengingatkan kita bahwa fondasi toleransi bukan sekadar hidup berdampingan, tetapi saling menguatkan dalam perbedaan.
Langkah progresif Wali Kota Depok H. Supian Suri yang menunjuk camat dari kalangan non-Muslim juga patut dicatat sebagai terobosan penting. Ini bukan soal simbol politik semata, tapi gestur keberanian untuk melampaui batasan lama yang membelenggu potensi anak bangsa. Bahwa pemimpin tidak dilihat dari latar belakang agama, tetapi dari kapasitas, integritas, dan keberpihakannya kepada masyarakat.
Tentu, jalan menuju Depok yang benar-benar toleran masih panjang. Masih banyak pekerjaan rumah: dari edukasi keberagaman sejak usia dini, kebijakan publik yang inklusif, hingga keberanian komunitas untuk saling menyapa dan bekerja sama lintas iman dan budaya.
Namun, jika semangat seperti yang ditunjukkan Romo Dionisius dan keberanian politik seperti yang ditunjukkan Wali Kota Depok terus dijaga, kita optimistis: Depok bukan hanya akan menjadi kota yang maju secara fisik, tapi juga matang secara sosial.
Depok hari ini sedang belajar menjadi kota toleran. Dan seperti semua proses pembelajaran, hal itu butuh kejujuran, keberanian, dan konsistensi.
Askara percaya, toleransi sejati tidak cukup dimuliakan dalam wacana. Ia harus hidup dalam keputusan-keputusan yang adil, dalam ruang publik yang terbuka, dan dalam hati setiap warganya.

Komentar