Work-Life-Study Balance: Jalan Ninja Seorang Mahasiswa Gudang
Oleh: Abdul Aziz
Mahasiswa Universitas Pamulang
ASKARA - Katanya, hidup itu harus seimbang. Kerja, kuliah, dan kehidupan pribadi harus bisa jalan bareng—kayak trio Kwek-Kwek, gitu. Haha. Tapi kenyataannya? Kadang hidup itu kayak motor tua yang remnya blong. Kita cuma bisa pegangan erat sambil berharap nggak nyungsep di tikungan.
Saya ini seorang mahasiswa. Tapi bukan mahasiswa yang hidupnya cuma muter di kelas, kafe, dan kosan. Saya kerja full time juga—di bagian gudang. Iya, gudang. Bukan startup keren yang ngasih bean bag dan kopi gratis, tapi gudang beneran, yang isinya kardus, palet, dan keringat. Haha.
Setiap pagi saya bangun—ya emang harus bangun, buat shalat subuh. Saya seorang muslim. Tapi bukan buat lari pagi atau meditasi, melainkan buat siap-siap ngangkut barang. Jam delapan udah harus stand by di lokasi. Kerjaannya? Bongkar muat, ngatur stok, angkat barang yang kadang lebih berat dari beban hidup. Kadang tangan pegal, kaki nyut-nyutan, dan badan berasa kayak habis tanding lawan Madara Uchiha.
Tapi pulang kerja belum bisa rebahan. Masih ada kuliah yang harus dikejar. Entah lewat e-learning yang sering error, atau datang langsung ke kampus—yang jaraknya beda kota dan provinsi.
Capek? Jangan ditanya.
Itu udah pasti. Bukan cuma fisik, tapi mental juga capek. Kadang saya ngerasa kayak laptop RAM 2 GB yang dipaksa buka 17 tab Chrome. Ngerjain tugas sambil ngantuk, ikut kelas setengah sadar, atau ketiduran dengan video pembelajaran masih muter di latar belakang.
Tapi lucunya, saya tetap jalanin semua itu. Entah karena kepepet, tekad, atau emang saya keras kepala.
Saya mulai nyusun jadwal, nulis to-do list, dan belajar bilang “nggak” ke ajakan nongkrong yang nggak penting. Nonton film ditunda, scroll Instagram dikurangi, dan “me time” berubah jadi “sleep time”.
Saya juga belajar satu hal penting: komunikasi itu kunci. Kadang saya harus jujur ke dosen buat minta tenggat tambahan—meski bilangnya lewat ketua kelas, haha. Atau ngobrol sama atasan buat ganti shift karena ada ujian. Untungnya, saya dikelilingi orang-orang yang cukup waras dan pengertian.
Teman kuliah juga sering jadi penyelamat—berbagi catatan, ngingetin tugas, bahkan kadang bantuin ngerjain juga. Haha. Pokoknya, terima kasih buat orang-orang baik.
Saya nggak mau mempromosikan hidup super sibuk ini kayak influencer yang bilang “semangat yaaa!” padahal hidupnya disponsori kopi susu kekinian. Nggak semua orang harus begini, dan ini jelas bukan standar sukses. Tapi saya percaya, jalan yang berat ini bikin saya tumbuh dan dewasa—walaupun kenyataannya, dewasa itu nggak sebahagia kelihatannya.
Saya jadi lebih tahan banting. Lebih paham mana yang penting dan mana yang cuma noise.
Keseimbangan?
Kadang itu bukan tentang semua bisa jalan bareng dengan mulus. Tapi tentang tahu kapan harus berhenti, kapan harus gas, dan kapan harus minta bantuan. Kadang, kita cuma perlu bertahan. Nggak usah muluk-muluk. Nggak usah sempurna.
Untuk kamu yang juga lagi kuliah sambil kerja—terutama yang kerjanya bukan di balik meja—saya cuma mau bilang: kamu nggak sendirian.
Kalau hari ini kamu cuma bisa nyicil tugas tiga paragraf sambil ngantuk berat, itu juga pencapaian. Kita mungkin nggak bisa jadi mahasiswa ideal versi brosur kampus, tapi kita sedang jadi versi terbaik dari diri kita yang sedang berjuang keras.
Jalan kita memang nggak mudah. Tapi bukankah hidup yang layak diceritakan justru yang penuh perjuangan? Kayak cerita pemeran utama di anime gitu—Naruto contohnya. Haha.
Jadi, buat kamu yang sedang merasa kewalahan menjalani kuliah sambil kerja, ingatlah: kamu bukan gagal, kamu sedang berjuang. Nggak perlu merasa harus sempurna. Kadang, cukup bisa bangun pagi, hadir di kelas, dan nggak ketiduran waktu kerja itu sudah luar biasa.
Karena dalam hidup yang serba multitasking ini, bertahan aja udah bentuk tertinggi dari kemewahan.

Komentar