Pasti Ada Aral Melintang Dalam Berumah Tangga
ASKARA - Sungguh, siapa saja yang mengira bahwa rumah tangga akan menjadi taman abadi berhiaskan mawar tanpa duri, maka ia sedang membangun istana dari awan.
Ia sedang menanam harapan pada tanah yang tak berakar. Karena fitrah dunia bukan tempat keindahan yang kekal, melainkan tempat ujian, tempat melelahkan, tempat penuh cobaan.
Rumah tangga adalah bagian dari dunia, bukan bagian dari surga. Maka, bersiaplah bahwa di dalamnya pasti akan ada aral melintang, luka yang harus disembuhkan, dan jiwa yang perlu dirawat agar tetap hidup dalam iman.
Allah Ta’ala mengingatkan manusia bahwa penciptaannya memang bukan untuk hidup dalam kelezatan belaka. Firman-Nya:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Kata “fi kabad” dalam ayat ini, menurut para mufassir, mengandung arti hidup dalam jerih payah, kerja keras, perjuangan, dan beban. Maka, jika sejak awal manusia diciptakan untuk menghadapi beban, mengapa harus heran jika rumah tangga pun tak luput dari beban dan masalah?
Syair indah yang masyhur di kalangan ulama klasik pun berkata:
طُبِعَتْ عَلَى كَدَرٍ وَأَنْتَ تُرِيدُهَا
صَفْوًا مِنَ الْأَقْذَاءِ وَالْأَكْدَارِ
وَمُكَلِّفُ الْأَيَّامِ ضِدَّ طِبَاعِهَا
مُتَطَلِّبٌ فِي الْمَاءِ جَذْوَةَ نَارِ
Dunia diciptakan dengan tabiat keruh
Sedangkan engkau menginginkan ia bersih dari kotor dan keruh
Barangsiapa memaksa hari-hari agar bertentangan dengan tabiatnya
Maka ia ibarat mencari bara api di dalam air
Begitu pula rumah tangga. Tak selamanya diselimuti pelukan, kadang ada bentakan. Tak selamanya dihiasi senyuman, kadang diselingi tangisan. Tapi dari situlah cinta yang dewasa dilahirkan.
Cinta yang bertahan bukan karena suka, tapi karena setia. Bukan karena nyaman, tapi karena niat menjaga amanah pernikahan hingga akhir hayat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun tak lepas dari ujian rumah tangga. Beliau yang paling mulia, yang di rumahnya turun wahyu, tetap menghadapi kesalahpahaman, cemburu, bahkan ketegangan dengan istri-istrinya.
Suatu kali Aisyah radhiyallahu ‘anha memecahkan piring karena cemburu kepada istri lain, dan Rasulullah hanya tersenyum sambil berkata: “Ummukum ghoorat.” (Ibumu sedang cemburu). (HR. Bukhari)
Subhanallah, betapa bijaknya beliau menghadapi masalah rumah tangga dengan kelembutan, bukan emosi. Jika Rasulullah saja diuji dalam rumah tangganya, maka bagaimana dengan kita?
Allah juga mengingatkan bahwa pasangan kita bukanlah manusia tanpa cela. Firman-Nya:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang baik. Jika kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)
Ayat ini adalah pelajaran emas. Bahwa dalam pasanganmu, dalam pernikahanmu, bisa jadi ada hal-hal yang membuatmu tidak nyaman, tetapi Allah menyimpan banyak kebaikan di dalamnya.
Bukankah banyak orang yang tidak jadi cerai, lalu akhirnya mereka temukan kedamaian setelah bertahun-tahun bersabar?
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia tidak menyukai salah satu akhlaknya, maka bisa jadi ia menyukai akhlak lainnya.” (HR. Muslim)
Inilah cara pandang orang beriman: bukan mencari yang sempurna, tetapi berusaha menyempurnakan dengan iman. Bukan mencari yang selalu benar, tapi saling memperbaiki dalam sabar.
Dan ingatlah, bahwa setan tidak pernah istirahat. Ia senantiasa mencari cara agar suami istri saling benci, saling menjauh, saling menyimpan dendam. Rasulullah bersabda:
إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ... فَيَأْتِيهِ أَحَدُهُمْ، فَيَقُولُ: مَا زِلْتُ بِهِ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَهْلِهِ، قَالَ: فَيُقَرِّبُهُ وَيُدْنِيهِ، وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ
"Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu mengutus pasukannya... Kemudian datanglah salah satu dari mereka dan berkata: Aku terus mengganggunya sampai ia bercerai dengan istrinya. Maka Iblis mendekatkannya dan berkata: Engkau adalah sebaik-baik pasukanku.” (HR. Muslim)
Maka hati-hatilah. Jangan beri setan ruang dalam rumah tanggamu. Jangan beri peluang bagi amarah untuk merusak apa yang dibangun dengan cinta dan air mata.
Rumah tangga bukan tentang dua orang yang selalu bahagia, tapi dua orang yang tak pernah menyerah untuk saling memperbaiki. Jalan yang panjang, melelahkan, tapi penuh pahala dan keberkahan jika dijalani dengan sabar dan iman.
Bersyukurlah atas pasanganmu. Jangan terlalu cepat menyalahkan. Lihatlah ke bawah, niscaya kau akan bersyukur.
Lihatlah ke belakang, niscaya kau akan sadar bahwa semua yang kau lewati bukanlah kebetulan, melainkan rencana Allah agar kau lebih kuat dan matang.
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Tenteram itu bukan dari banyak harta, bukan dari wajah yang cantik atau tampan, bukan dari rumah megah atau kendaraan mewah, tapi dari rasa saling percaya, saling menguatkan, dan saling menerima dalam suka maupun duka.
Maka jangan lari saat badai datang. Karena sesungguhnya badai bukan untuk merobohkan kapal, tapi menguji siapa yang mau berjuang sampai ke dermaga akhir: surga. Wallahu a’lam. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar