Senin, 08 Juni 2026 | 04:33
Ruang Menulis

Cerpen: Jempol yang Menyesatkan

Cerpen: Jempol yang Menyesatkan
Ilustrasi

ASKARA - Rudi tidak pernah berniat mengkhianati. Tidak ada niat sadar, tak ada rencana busuk. Semua terjadi... karena hal yang sepele.

Awalnya hanya jempol di kolom status. Sebatas menyukai tulisan-tulisan Rina yang puitis dan sering membagikan kisah parenting. Rudi merasa itu normal, sekadar apresiasi.

Lalu ia mulai jempol-in foto-foto Rina. Tidak ada niat buruk, hanya karena senyum Rina tampak ramah. Ia komentari sesekali, dengan kata-kata sopan yang, menurutnya, tak melanggar batas.

Hari-hari berjalan. Kebiasaan kecil itu menjelma ritual. Ia mulai menunggu Rina online. Jika tidak muncul di lini masa, Rudi merasa ada yang kurang. Ia mulai menyadari, senyuman itu tak sekadar manis—ada sesuatu yang mengisi celah kekosongan dalam dirinya.

Akhirnya, ia memberanikan diri masuk ke kotak masuk. Basa-basi.

"Hai, sering banget liat statusnya. Inspirasional banget, Mbak."

Rina membalas. Ramah, seperti yang ia duga.

Percakapan berkembang. Dari parenting, ke hobi, lalu ke kisah hidup. Tak terasa, Rudi menanyakan nomor WhatsApp. Rina memberinya. Entah siapa yang lebih dulu berharap lebih, tapi keduanya mulai mencari celah waktu untuk saling sapa.

Hari-hari Rudi berubah. Ia jadi sering menyendiri, sibuk di pojok kamar dengan ponsel yang digenggam lebih erat dari tangan anaknya. Ia lebih cepat marah di rumah, lebih pelit senyum untuk istrinya, Dita.

“Kenapa ya kita gak ketemu dari dulu,” ujar Rina suatu malam lewat pesan suara. “Kamu tuh satu-satunya orang yang bisa ngerti aku.”

Rudi terdiam.

Kalimat itu menancap seperti anak panah. Ia mulai membandingkan. Dita yang cerewet, Rina yang manis. Dita yang kadang berantakan, Rina yang anggun di tiap potret. Dita yang nyata, Rina yang hanya ia lihat dari layar.

Akhirnya, mereka sepakat bertemu.

Di sebuah kafe yang remang-remang, Rina tampak seperti bayangannya: menawan. Rudi merasa muda kembali. Ia lupa usia, lupa janji, lupa rumah.

Hari-hari berikutnya, Rudi seperti kecanduan. Pesan Rina menjadi candu digital yang memabukkan. Ia menunda pulang, berdusta soal lembur, menyembunyikan ponsel dari anak-anak.

Dan hari itu pun datang.

Dita menemukan jejak. Sederhana: jempol, komentar, pesan yang tak terhapus sempurna. Dita tidak marah. Ia diam. Air matanya bicara lebih banyak dari kata-kata.

Rudi mencoba menjelaskan. Gagal.

Dita hanya mengangguk. “Makasih udah jujur, meski telat.”

Beberapa hari setelah itu, suasana rumah menjadi hening. Anak-anak lebih sering bermain di rumah tetangga. Mertua datang dan hanya menatap Rudi tanpa suara. Dita mulai sering membaca buku agama. Sesekali ia mengajak Rudi sholat berjamaah. Tapi Rudi seperti sudah kehilangan wibawa sebagai imam.

Hatinya menghitam oleh dusta. Telinganya tuli oleh nasihat. Matanya rabun oleh ilusi. Fikirannya tumpul, tertindih oleh harapan semu yang ditawarkan dunia maya.

Rudi mulai merasa kehilangan arah.

Hidupnya tak lagi tenang. Usahanya mulai lesu. Ia lebih sering termenung di mobil usai kerja, merasa hampa.

Lalu datang pagi itu.

Anak bungsunya demam. Dita menolak ajakan ibunya pulang kampung karena tak ingin meninggalkan rumah terlalu lama. Ia ingin menjaga Rudi. “Aku tahu ayahmu sedang diuji. Dan aku gak mau dia jalan sendirian.”

Rudi mendengar kalimat itu dari balik pintu. Ia terdiam. Rasa bersalah menampar keras di dada.

Rudi masuk ke kamar. Suasana hening, hanya suara kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Di meja kerja kecil di sudut ruangan, terlihat setumpuk buku parenting, catatan pengeluaran rumah tangga, dan secarik kertas yang tampaknya sudah diremas lalu diluruskan kembali.

Dita duduk di tepi ranjang. Ia tampak lelah. Matanya bengkak, namun bibirnya mencoba tersenyum.

“Aku sempat berpikir mungkin kamu bosan,” katanya lirih. “Bosan dengan rumah yang berantakan, anak-anak yang rewel, istrimu yang enggak lagi semenarik dulu…”

“Dit, aku…” suara Rudi tertahan. Baru kali ini ia benar-benar melihat istrinya—bukan sekadar perempuan yang menunggunya di rumah, tapi seseorang yang sedang mencoba bertahan dari luka yang tak ia sebabkan sendiri.

Dita berdiri. Ia mengambil sebuah map berwarna cokelat dari laci. “Ini... catatan kita. Tentang pengeluaran rumah, tabungan pendidikan anak, target renovasi dapur. Aku susun waktu kamu sibuk kerja. Atau sibuk dengan Rina.”

Rudi membuka map itu. Ada banyak tulisan tangan Dita. Detail. Teliti. Seperti seseorang yang benar-benar ingin membuat rumah ini tetap berdiri.

“Dita, aku salah.”

“Ya, kamu salah. Tapi bukan cuma salah ‘jempolin status orang’. Kamu salah karena lupa, bahwa aku ini bukan cuma istri. Aku juga manusia. Yang bisa cemburu. Yang bisa kecewa. Tapi juga masih bisa memaafkan.”

Rudi tertunduk. Dalam hatinya, ada gemuruh penyesalan yang sulit dibendung.

“Aku... bisa mulai dari mana?” tanya Rudi.

“Mulailah dari satu hal,” jawab Dita. “Tinggalkan apa yang membuatmu lupa jalan pulang.”

Dua bulan kemudian...

Rudi duduk di masjid selepas Magrib. Di sampingnya, anak sulungnya memegang Al-Qur’an kecil. Ia tersenyum saat sang anak menatapnya bangga, “Abi sekarang sering di rumah, ya?”

Rudi mengangguk. Ponselnya sudah tak lagi penuh notifikasi kosong. Ia mengganti foto profil Facebook-nya dengan gambar keluarganya.

Tiba-tiba sebuah akun baru mengirim pesan:

> “Hai... inget aku? Rina. Pake akun baru nih. Kamu masih simpan chat kita?”

Rudi memandangi pesan itu lama.

Lalu ia mengetik:

> “Maaf. Aku sudah pulang.”

Dan ia menekan tombol hapus percakapan.

Hari itu, ia menyadari: bukan Rina yang menghancurkan rumah tangganya. Tapi kelalaiannya menjaga pintu hati—yang terbuka lebar hanya karena sebuah jempol di dunia maya. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar