Masa Bodoh Terhadap Nerizen yang Asal Komen, Tidak Substansial dan Tidak Kontekstual
ASKARA - Dalam kehidupan digital yang semakin riuh dan bising, kita dihadapkan pada fenomena yang menggelitik sekaligus memprihatinkan: komentar netizen—atau dalam gaya akrabnya, “nerizen”—yang kerap kali asal bunyi, tanpa dasar ilmu, tanpa empati, dan sering kali menjauh dari konteks pembahasan. Sebagian dari mereka tidak bermaksud mencari kebenaran atau bertukar pikiran dengan bijak, tetapi lebih terdorong oleh dorongan sesaat untuk terlihat aktif, lucu, atau sekadar meluapkan emosi yang tak selesai.
Namun sebagai Muslim, kita dituntun oleh iman, bukan oleh impuls dunia maya. Ketika komentar miring datang menghantam, sikap terbaik bukanlah membalas dengan emosi, tetapi menempatkan semuanya dalam kaca mata tauhid dan akhlak. Islam tidak mengajarkan kita untuk mendewakan opini publik, apalagi yang tidak berbasis ilmu dan adab.
Allah Subhānahu wa Ta'ālā berfirman:
فَصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا
Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. (QS. Al-Ma‘ārij: 5)
Sabar yang baik bukan hanya menahan amarah, tetapi juga tidak mengemis validasi dari orang-orang yang tidak paham arah. Kita tidak perlu menjelaskan segala hal kepada mereka yang tidak berusaha memahami. Biarlah mereka berkomen, asal jangan sampai kita ikut terseret dalam pusaran energi negatif yang mereka bawa.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
"Termasuk tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi, no. 2317)
Komen-komen tanpa substansi yang tidak mendekatkan kita pada kebaikan hanyalah perkara sia-sia. Maka, Islam mengajarkan kita seni memilih: mana yang perlu ditanggapi, dan mana yang cukup dibaca sambil tersenyum tipis lalu dilupakan.
Sayangnya, dunia digital memicu ilusi bahwa semua orang berhak bicara tentang segala hal. Padahal tidak semua yang tahu membaca telah benar-benar membaca dengan pemahaman. Tidak semua yang bisa mengetik telah lulus dalam ujian hati. Banyak yang sekadar ingin bersuara, tapi lupa bertanggung jawab atas gema suaranya di kehidupan orang lain.
Karenanya, jika kita mendapati diri kita diserang, direndahkan, atau dikomentari secara sembrono, ingatlah firman Allah:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam”. (QS. Al-Furqān: 63)
Mereka tidak terpancing oleh ejekan. Tidak terseret dalam debat kusir. Mereka tahu kapan harus bicara, dan lebih tahu kapan harus diam. Dalam diam mereka ada kedalaman. Dalam sabar mereka ada kemenangan yang tidak tampak oleh mata yang dangkal.
Mereka tahu bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh trending topic atau jumlah likes, tetapi oleh kesungguhan menjaga lisan, hati, dan amal dari hal-hal yang tidak Allah ridai.
Sahabatku, hidup ini terlalu singkat untuk menjelaskan diri kita kepada setiap orang. Terutama kepada mereka yang tidak benar-benar ingin mengenal. Kita tidak sedang dalam kompetisi popularitas. Kita sedang menempuh jalan menuju ridha Allah.
Maka masa bodohlah terhadap komen nerizen yang hanya berisik, tidak subtansial, dan jauh dari kontekstual. Fokuslah kepada amal kita, sikap kita, dan suara batin yang terhubung dengan langit. Biarlah orang bicara, selama Allah ridha, itu sudah cukup.
Ingat pesan Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka kita pun hendaknya memilih: berkata dengan kebaikan, atau diam dengan kebijaksanaan. Dan kepada komentar yang tidak pantas, tidak usah kita jawab dengan panjang lebar. Sebab, yang tidak layak dijawab, kadang justru menjadi pelajaran terbaik bahwa diam itu kekuatan.
Berhentilah menjelaskan pada mereka yang berniat tidak ingin paham. Karena mereka tidak kekurangan penjelasan. Mereka hanya kekurangan kesediaan hati.
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar