Cerpen: Takdir yang Tak Pernah Terlihat
ASKARA - Hujan turun deras di luar jendela rumah Santi. Kilatan petir sesekali menerangi langit malam, disusul gemuruh guntur yang menggema di kejauhan. Angin meniup daun-daun pohon hingga berdesir keras, seolah turut menyuarakan kegelisahan yang mengendap di dalam hati seorang perempuan yang duduk sendiri di ruang tamu itu.
Jam dinding berdetak pelan. Sudah pukul sebelas malam, dan Rudi belum juga pulang. Biasanya, jika ada urusan pekerjaan, ia akan mengabari. Tapi malam ini seperti beberapa malam belakangan teleponnya tidak aktif. Pesan yang dikirim hanya centang satu. Diam yang menyakitkan.
Santi memeluk kedua lututnya, membenamkan dagu di atasnya. Matanya menatap kosong pada genangan hujan di luar. Ada perasaan yang sulit dijelaskan resah, bingung, takut. Sejak beberapa bulan terakhir, Rudi berubah. Bukan dalam hal besar, tapi hal-hal kecil yang lambat laun membentuk jurang di antara mereka.
Dulu, sepulang kerja, Rudi akan mencium keningnya, bertanya bagaimana hari Santi, lalu duduk bersamanya menonton acara TV. Kini, dia pulang larut malam, seringkali dalam diam, dan langsung tidur tanpa sepatah kata. Senyuman hangat yang dulu menenangkan, kini berganti ekspresi dingin yang sulit ditembus.
Santi sudah mencoba berbicara. Ia mencoba mengajak Rudi berdialog, membicarakan perasaannya, menanyakan apakah ada sesuatu yang salah. Tapi setiap kali, Rudi mengelak, tersenyum hambar, lalu berkata, "Aku hanya lelah."
Tapi malam ini, insting Santi menjerit lebih keras dari biasanya.
Ia bangkit, menuju dapur, membuat secangkir teh hangat untuk menenangkan pikirannya. Saat dia kembali ke ruang tamu, hujan di luar belum juga reda. Ketika ia hendak mematikan lampu dan beranjak ke kamar, terdengar suara pintu depan dibuka perlahan. Santi menoleh. Sosok yang dinantikan berdiri di ambang pintu Rudi. Namun, ekspresinya berbeda. Pucat, cemas, matanya tak sanggup menatap langsung.
“Rudi?” Santi bertanya, pelan.
Rudi menatapnya sekilas, lalu menunduk. Langkahnya lambat saat masuk ke rumah. Ia duduk di sofa, mendesah panjang seakan memikul beban berat.
“Aku… aku butuh bicara,” ucapnya akhirnya.
Santi mengangguk pelan, duduk di sampingnya. Ia merasa tubuhnya kaku, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tahu, ini bukan percakapan biasa.
“Aku… melakukan sesuatu yang bodoh,” kata Rudi, suaranya bergetar. “Sesuatu yang tak seharusnya aku lakukan.”
Santi terdiam. Ia tak ingin menduga-duga, tapi hatinya seperti tahu arah pembicaraan ini. Dan ketika Rudi melanjutkan, semuanya menjadi nyata.
“Aku… aku memesan perempuan dari internet, Santi. Aku… aku pesan PSK.”
Waktu seakan berhenti. Hujan tetap turun, petir menyambar, tapi dunia Santi berhenti di kalimat itu. Dadanya sesak, matanya membelalak tak percaya.
“Kamu... apa?” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Rudi tertunduk. “Aku tak tahu harus mulai dari mana. Aku merasa kosong. Hubungan kita... berubah. Aku merasa sendiri. Aku tahu itu bukan alasan. Aku salah. Sangat salah. Dan yang lebih parah, Santi... perempuan yang aku pesan itu… itu kamu.”
Santi menahan napas. Ia tak mengerti. “Apa maksudmu?”
Rudi menghela napas dalam-dalam. “Aku menggunakan aplikasi, dengan nama samaran. Aku pesan lewat platform anonim. Saat pertemuan dijadwalkan dan aku melihatmu… aku kaget setengah mati. Aku langsung pergi. Aku tak tahu harus berkata apa.”
Dunia Santi runtuh. Ia merasa seperti jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar.
“Aku… aku melakukannya karena terdesak,” Santi berbisik. “Aku kehilangan pekerjaan. Uang kita tidak cukup. Kamu selalu sibuk, dingin, dan aku merasa tak lagi berarti. Aku… aku butuh bertahan hidup.”
Rudi memejamkan mata. Kepalanya tertunduk lebih dalam. Tangannya menggenggam erat lututnya sendiri.
“Kita saling menyakiti… tanpa sadar,” kata Santi lirih. “Kita hidup bersama, tapi merasa sendirian. Kita jatuh bukan karena kebencian… tapi karena kehilangan arah.”
Mereka terdiam cukup lama. Hanya suara hujan yang menjadi musik latar dari keheningan itu. Air mata jatuh dari mata Santi, diam-diam. Tidak menangis keras, tapi setetes demi setetes air mata yang menyimpan luka, pengkhianatan, dan kepedihan yang terpendam selama ini.
“Aku tidak ingin kita berakhir seperti ini,” ucap Rudi. “Tapi aku juga tidak tahu, Santi. Mungkin… kita terlalu jauh.”
Santi menoleh perlahan, menatap wajah suaminya yang tampak lebih tua malam itu. Bukan karena usia, tapi karena beban yang ditanggungnya.
“Orang bilang, takdir itu sudah digariskan. Tapi kadang, aku pikir… mungkin takdir juga menunggu kita untuk memilih.”
Rudi mengangguk. “Lalu apa pilihan kita sekarang?”
Santi menatap jendela. Hujan mulai reda. Angin sudah tidak sekencang tadi. Tapi bekas badai masih terasa.
“Aku tidak tahu,” katanya. “Tapi kita harus mulai dari kejujuran. Kalau kita ingin sembuh, kita harus mengakui luka. Jika kita ingin tetap bersama, kita harus berubah. Bukan demi formalitas pernikahan, tapi demi harga diri kita sendiri.”
Rudi menyentuh tangan Santi. “Aku akan berubah, San. Aku janji. Aku akan cari bantuan, konseling, apa pun. Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Santi menarik napas panjang. “Perbaiki dirimu. Bukan untukku saja. Tapi untuk dirimu sendiri. Aku akan melakukannya juga.”
Malam itu, mereka tak tidur. Mereka duduk berdua di ruang tamu, berbicara—untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Bukan percakapan penuh tawa seperti dulu. Tapi pembicaraan yang jujur, penuh luka, namun mungkinbaru kali ini penuh harapan.
Takdir memang tak pernah terlihat. Ia menyelinap dalam setiap keputusan kecil. Dalam kebisuan, dalam rasa sepi, dalam kesalahan. Tapi takdir juga bisa dibentuk. Dengan keberanian, dengan kejujuran, dengan niat untuk berubah.
Dan malam itu, di bawah langit yang baru saja berhenti menangis, dua manusia yang pernah saling menyakiti mulai menulis ulang takdir mereka. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar