Kita yang Nyasar di Inbox
ASKARA - Langit pagi itu mendung, persis seperti hati Livia. Tangannya gemetar memegang surat panggilan mediasi dari pengadilan agama. Namanya tertulis di sana, bersanding dengan nama lelaki yang dulu ia kenal sebagai mimpi dan kini menjelma jadi luka: Reno.
Anak-anak masih tidur, belum tahu apa-apa. Belum tahu bahwa rumah yang dulu penuh tawa sebentar lagi tinggal kenangan. Livia duduk termenung di sudut meja makan, menatap cangkir kopi yang tak pernah disentuh Reno lagi sejak beberapa bulan terakhir.
Ia menarik napas, menengok ke luar jendela. Di luar sana, dunia tetap berjalan. Tapi di dalam dirinya, segalanya hancur seperti kaca jatuh dari ketinggian.
Dua Tahun Lalu
“Boleh minta pin BB-nya?” tulis Reno dalam pesan Facebook malam itu. Livia menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya mengetik balasan, “Hehe, buat apa, Mas?”
Lalu percakapan mereka terus berlanjut. Bermula dari komentaran lucu soal status lucu, hingga membahas masalah rumah tangga. Reno bilang ia lelah. Istrinya tak mengerti. Livia hanya membalas dengan empati, bukan simpati. Tapi siapa sangka, empati bisa berubah bentuk seperti air dalam gelas siapa pun.
Dan mereka pun makin sering berbagi. Dari BBM, pindah ke WhatsApp. Dari chat pagi-siang-malam, jadi suara lirih tengah malam. Reno bilang, “Andai kita dipertemukan duluan.” Livia tersenyum waktu itu. Senyum yang seharusnya tak tumbuh dari pesan seseorang yang bukan suaminya.
“Bu, Abi mana?” tanya Keysha, anak pertamanya, usia tujuh tahun. Livia menoleh dan tersenyum pahit.
“Abi ada urusan,” jawabnya singkat, menahan gemuruh amarah yang telah mengendap jadi sedimen dalam dada.
Livia lalu membuka ponsel. Hal yang dulu ia tunggu-tunggu—status Reno, foto-fotonya, voice note-nya—kini hanya membawa perih. Reno sekarang malah semakin aktif memajang kemesraan dengan wanita lain. Wanita yang bukan dirinya, juga bukan istrinya yang sah. Seolah drama perselingkuhan dunia maya sudah mencapai level klimaks, dan Reno menari di atas reruntuhan dua keluarga.
Pertemuan pertama mereka di dunia nyata terjadi saat hujan turun tipis di sebuah warung kopi di tepi kota. Reno datang dengan senyum yang sama seperti foto profilnya. Livia gugup, tapi hati seperti digiring tak berdaya.
Mereka bicara tentang buku, film, bahkan politik. Tapi lebih banyak tentang rasa yang tak bisa dijelaskan. Sejak itu, dunia maya terasa terlalu sempit. Mereka butuh dunia nyata untuk menyalurkan kedekatan yang menjelma candu.
“Jangan terlalu larut,” pesan Reno suatu hari. Tapi dia sendiri yang terus menarik Livia masuk. Dan Livia, alih-alih mundur, justru berjalan makin dalam. Seolah hutan gelap yang penuh jebakan adalah tempat paling nyaman dibanding rumahnya yang terang tapi dingin.
Reno tak datang pada sidang pertama. Ia sibuk, katanya. Tapi Livia tahu, ia sedang jalan-jalan di luar kota bersama ‘yang baru’. Mertua Livia datang, menangis, menggenggam tangan Livia erat.
“Maafkan anak kami,” ucap sang ibu mertua.
Livia hanya diam. Ia tidak lagi tahu siapa yang harus dimaafkan. Reno? Dirinya sendiri? Atau dunia maya yang mempertemukan mereka di tempat yang salah?
Ada masa ketika Livia merasa hidup kembali. Reno memperlakukannya seperti wanita muda yang penuh pesona, bukan seperti istri yang sehari-hari berkutat dengan popok dan dapur. Ia tertawa lagi. Ia menulis puisi lagi. Ia merasa dilihat, didengar, dihargai.
Namun, cinta tanpa komitmen adalah air hujan di daun keladi—sejuk, tapi tak pernah menetap. Hari-hari bahagia mereka hanya seperti percikan api yang cepat padam. Reno mulai lambat membalas pesan. Mulai menghindar. Dan tiba-tiba, status Facebook-nya berganti: “Menjalin hubungan dengan—” bukan Livia.
Livia menghapus semua percakapan mereka. Satu per satu, seperti mencabuti duri yang telanjur menancap di dalam daging. Ia bahkan menghapus akunnya sendiri, tak ingin lagi melihat dunia yang mempermainkan hatinya seperti bidak catur.
Namun, luka sudah keburu tertanam. Bekasnya menghitam, menetap. Anak-anak mulai merasakan perubahan. Rumah sunyi. Ayah tak pernah pulang. Dan Livia? Ia duduk di depan cermin, menatap dirinya yang dulu hampir tak dikenali.
Suami Livia, Fikran, bukan pria sempurna. Ia jarang berkata manis, seringkali terlalu lelah untuk mendengar cerita. Namun ia tak pernah main tangan, tak pernah lupa membelikan susu untuk anak-anak, dan selalu membenahi genteng bocor sebelum hujan tiba.
Namun, kebaikan itu terkubur dalam diam. Livia lebih tertarik pada Reno yang selalu menulis status bijak, mengutip kalimat puitis, dan tahu bagaimana membuatnya merasa dibutuhkan. Ironis. Kadang yang nyata kalah oleh yang maya.
Livia berdiri di depan rumah orangtuanya, membawa koper. Anak-anaknya menggenggam erat tangannya. Rumah tangga yang dulu dibangun dengan harap dan doa, kini tinggal kenangan.
Ia menatap langit sore, berharap hujan turun agar bisa menyembunyikan air matanya. Tapi langit tetap cerah, seolah menertawakan kebodohannya.
Reno? Ia tak pernah kembali, bahkan ketika Livia benar-benar sendiri.
Livia menatap foto keluarga lama. Ada dirinya, Fikran, dan anak-anak. Semuanya tersenyum. Foto itu diambil saat ulang tahun pernikahan mereka yang keempat, saat Reno belum ada dalam hidupnya, saat semuanya masih utuh.
Ia menutup album foto itu pelan, memeluk anak-anaknya. Dalam hati ia tahu, tidak semua luka bisa disembuhkan oleh waktu. Beberapa luka hanya bisa dijalani, diterima sebagai bagian dari harga yang harus dibayar karena tersesat di ruang maya yang fana.
Dan malam pun datang. Sunyi, tanpa notifikasi.
Tanpa Reno.
Tanpa Fikran.
Hanya suara batin Livia yang terus berbisik, “Seandainya waktu bisa diulang...”
Tapi hidup tak pernah punya tombol undo.(Dwi Taufan Hidayat)

Komentar