Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:25
COMMUNITY

Tragedi di Gunung Binaiya, Refleksi bagi Para Pendaki

Tragedi di Gunung Binaiya, Refleksi bagi Para Pendaki
Almarhum Firdaus ketika mendaki gunung (Dok Pribadi)

ASKARA – Dunia pendakian Indonesia kembali diselimuti duka. Firdaus Ahmad Fauji, pendaki asal Bogor, Jawa Barat, yang dilaporkan hilang sejak 26 April 2025 di Gunung Binaiya, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada Sabtu (17/5) di Kawasan Lembah Aimoto. Informasi ini dikonfirmasi oleh Kepala Balai Taman Nasional Manusela, Deny Rahadi, yang menyebutkan bahwa proses evakuasi tengah dilakukan oleh tim lapangan.

Firdaus terakhir terlihat di jalur pendakian Pos Nasapeha, sebelum kemudian dinyatakan hilang. Setelah lebih dari dua minggu pencarian yang melibatkan berbagai unsur relawan dan tim SAR, kabar penemuan jenazahnya menjadi akhir tragis dari sebuah perjalanan yang tidak kembali.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pendaki dan calon pendaki akan pentingnya persiapan, pengetahuan medan, dan kesadaran risiko yang melekat dalam setiap ekspedisi ke alam bebas.

Dar Edi Yoga, penggiat alam bebas dari komunitas Top Ranger and Mountain Pathfinder (TRAMP), menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi ini. Menurutnya, setiap pendakian harus dijalani bukan hanya dengan semangat petualangan, tapi juga kesiapan fisik, mental, logistik, serta kemampuan navigasi yang memadai.

“Gunung bukan tempat pelarian, ia bukan hanya indah tapi juga menantang dan tak terduga. Tragedi ini seharusnya menyadarkan kita bahwa mendaki bukan soal menaklukkan alam, tapi berdamai dan bersahabat dengannya,” ujar Dar Edi Yoga, Senin (19/5).

Ia menekankan pentingnya edukasi keselamatan dan komunikasi darurat yang harus menjadi standar dalam setiap kegiatan pendakian. Tidak hanya bagi pendaki pemula, tetapi juga bagi yang telah berpengalaman.

“Setiap langkah ke atas harus disertai tanggung jawab. Jangan anggap remeh cuaca, kondisi medan, atau kemampuan diri sendiri. Dan yang paling penting, jangan pernah abaikan prosedur keselamatan,” tambahnya.

Kematian Firdaus adalah kehilangan yang menyentuh hati komunitas pecinta alam. Namun lebih dari itu, peristiwa ini adalah cermin refleksi bersama: bahwa semangat petualangan harus selalu disertai kehati-hatian, perencanaan matang, dan kesadaran bahwa nyawa jauh lebih berharga daripada pencapaian puncak.

Gunung Binaiya—dengan keindahan dan misterinya—telah mengajarkan satu pelajaran berharga: alam bisa menjadi sahabat, tapi juga bisa berubah menjadi ujian.

 

 

Komentar