Minggu, 07 Juni 2026 | 21:06
COMMUNITY

Yang Tidak Allah Berikan Kepada Kita dari Dunia Itu Juga Merupakan Nikmat

Yang Tidak Allah Berikan Kepada Kita dari Dunia Itu Juga Merupakan Nikmat
Ilustrasi

ASKARA - Kita hidup dalam dunia yang dipenuhi hiruk pikuk keinginan. Sebagian manusia merasa bahagia ketika keinginannya terpenuhi, dan merasa sedih, bahkan seolah-olah terbuang, ketika tidak mendapatkan apa yang ia dambakan. Namun pernahkah kita merenungi bahwa sesuatu yang tidak Allah berikan kepada kita dari dunia ini—justru bisa jadi merupakan nikmat yang jauh lebih besar daripada yang tampak di depan mata?

Seorang ulama salaf bernama Abu Haazim rahimahullah pernah berkata,

نعمة الله علي فيما زوى عني من الدنيا أعظم علي من نعمته فيما أعطاني منها، إني رأيته أعطاها قوما فهلكوا

"Nikmat Allah kepadaku dalam hal yang Allah sembunyikan dariku dari dunia itu lebih agung daripada nikmat-Nya yang telah Dia berikan kepadaku. Sesungguhnya aku melihat Dia memberikannya kepada satu kaum, lalu mereka binasa."

Perkataan ini bukanlah sekadar bunga kata. Ini adalah buah dari kedalaman iman dan kejernihan hati. Dunia seringkali menggoda. Harta, tahta, dan popularitas seolah menawarkan surga di bumi. Tapi tak jarang, justru di sanalah banyak manusia tergelincir, lupa diri, lalu terjerumus dalam kehancuran. Mereka yang diberi dunia secara berlimpah, belum tentu sedang mendapatkan nikmat. Bisa jadi justru sedang diuji, atau bahkan sedang disesatkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ۞ وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ۞ كَلَّا

"Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: 'Tuhanku telah memuliakanku'. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: 'Tuhanku menghinakanku'. Sekali-kali tidak (demikian)." (QS. Al-Fajr: 15–17)

Ayat ini menggugurkan persepsi keliru manusia yang mengukur kemuliaan dan kehinaan dengan kadar dunia. Allah menegaskan: كَلاَّ — tidak seperti itu! Bukan sedikitnya rezeki berarti kehinaan, dan bukan banyaknya harta berarti kemuliaan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi:

إِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ، وَلاَ يُعْطِي الإِيمَانَ إِلاَّ لِمَنْ أَحَبَّ

"Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa saja yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Tapi Dia tidak memberikan iman kecuali kepada orang yang Dia cintai."
(HR. Tirmidzi, no. 2325, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Iman lebih mahal dari dunia dan seisinya. Maka ketika kita tidak mendapatkan banyak bagian dari dunia, namun Allah anugerahkan kepada kita keimanan, ketenangan hati, kesabaran, dan keistiqamahan dalam kebaikan, maka sungguh itulah nikmat sejati.

Terkadang kita berdoa meminta sesuatu yang kita kira baik untuk diri kita. Tapi Allah tidak memberikannya. Bukan karena Allah tidak sayang, melainkan karena Allah tahu bahwa apa yang kita minta bisa mencelakakan kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Kita sering menangis karena tidak bisa memiliki apa yang dimiliki orang lain. Padahal bisa jadi, Allah telah menyelamatkan kita dari musibah yang lebih besar. Betapa banyak orang yang dulu mengeluh tidak diberi jabatan, lalu bersyukur karena terhindar dari korupsi yang menjerat banyak koleganya. Betapa banyak yang kecewa karena tak kunjung kaya, tapi justru menjadi pribadi yang bersih, lapang dada, dan dekat dengan Allah.

Nikmat bukan selalu tentang apa yang tampak di tangan. Tapi juga tentang apa yang Allah cegah untuk masuk ke tangan kita. Karena dalam penolakan itu, bisa jadi tersembunyi kasih sayang yang tak kita pahami sekarang.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berdoa dengan penuh penghayatan:

اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ حَبَسْتَ عَنِّي بَلَاغَتِي، فَاجْعَلْ ذَلِكَ كَفَّارَةً لِي

"Ya Allah, jika Engkau menahan aku dari kelapangan rezeki, maka jadikanlah itu sebagai penghapus dosa-dosaku."

Maka, jangan pernah mengira bahwa kita kurang dicintai Allah hanya karena dunia menjauh dari kita. Justru bisa jadi, Allah sedang menjaga kita dari dunia yang memabukkan. Karena yang paling indah adalah bukan ketika dunia datang, tapi ketika kita diselamatkan darinya dan tetap istiqamah dalam iman.

Jangan iri pada orang yang mendapatkan dunia, jika kita tidak tahu bagaimana akhirnya. Iri-lah pada mereka yang hatinya selalu lapang meski rezekinya sempit, yang bibirnya tetap basah dengan dzikir meski perutnya kadang kosong, dan yang amalnya tetap istiqamah meski tanpa sorotan dunia.

Karena bisa jadi, mereka lebih kaya—di sisi Allah—daripada semua yang dunia puja dan agungkan. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar