Minggu, 07 Juni 2026 | 22:20
COMMUNITY

Pahitnya Buah Dari Kemaksiatan Dan Kelalaian

Pahitnya Buah Dari Kemaksiatan Dan Kelalaian

ASKARA - Tidak ada satu pun makhluk yang mampu hidup tanpa dosa. Namun yang membedakan antara mereka yang dicintai Allah dan yang dijauhkan dari kasih sayang-Nya, adalah bagaimana mereka menyikapi dosa dan kelalaian itu. Sebab, kemaksiatan bukan hanya soal dosa yang terlampau atau kesalahan yang dikerjakan, melainkan tentang bagaimana pengaruh buruknya merasuki kehidupan seorang hamba, perlahan tapi pasti, hingga membuat hati mengeras dan jiwa terasa hampa.

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengungkapkan sebuah pemaparan mendalam yang menggambarkan betapa getirnya buah dari maksiat. Dalam Al-Fawa’id, beliau menulis:

"Qillatut tawfîq, wa fasâdul ra’yi, wa khafâ’ul haqq, wa fasâdul qalb, wa khumûd dhikr, wa idhâ’atul waqt, wa bughdhun nâs, wa wuhsyatun baynal ‘abd wa bayna Rabbihi, wa hijâb ad-du’â’, wa qaswatul qalb, wa zawâl barakatil ‘umr war rizq, wa hirmânul ‘ilm, wa lubsul dzillah, wa dhighus shadr, wa ibtilâ’ biqurana’is sû’, wa hammun thawîl, wa ‘aysyun dhank, wa hajrun ‘an at-tasharruf fî al-hal."

"Sedikitnya taufik (pertolongan dari Allah), rusaknya pemikiran, tersamarnya kebenaran, rusaknya isi hati, tidak membekasnya bacaan zikir yang dibaca, perjalanan waktu yang tersia-siakan, ketidaksukaan dan kepergian teman, perasaan hampa dan sempit pada diri seorang hamba di hadapan Rabb-nya, terhambatnya pengabulan doa, hati yang keras, tercabutnya keberkahan dalam urusan rezeki dan umur, terhalang mendapatkan ilmu, terselimuti dengan kehinaan dan kerendahan karena tekanan musuh, perasaan sempit dada, tertimpa musibah berupa dikelilingi oleh teman-teman dekat yang jelek sehingga merusakkan isi hati dan membuang-buang waktu, kesedihan dan gundah gulana yang berkepanjangan, penghidupan yang sempit dan tertutupnya kemampuan untuk memperbaiki keadaan diri, itu semua terlahir dari kemaksiatan dan kelalaian untuk mengingat Allah." (Al-Fawa’id, hal. 35-36)

Kita mesti merenungi betapa banyak kehidupan yang hancur bukan karena kurangnya rizki atau karena musuh yang terlalu kuat, melainkan karena rusaknya hati yang telah diliputi debu kemaksiatan. Hati yang terbiasa melakukan dosa akan kehilangan rasa malu kepada Allah, dan jika itu terjadi, ia akan berjalan tanpa arah dalam gelap dunia.

Allah Ta'ala telah mengingatkan manusia agar tidak berpaling dari-Nya, sebab berpaling dari peringatan Allah akan membawa kehidupan yang sempit.

فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

"Maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."
(QS. Thaha: 124)

Inilah akibat dari melalaikan perintah Allah dan menjadikan dunia sebagai poros kehidupan. Kehidupan yang sempit bukan selalu berarti miskin harta, namun bisa jadi miskin ketenangan, miskin rasa syukur, dan miskin kebahagiaan yang hakiki.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajarkan bahwa maksiat memiliki pengaruh buruk dalam relasi spiritual seorang hamba kepada Tuhannya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

"Sesungguhnya seorang hamba diharamkan dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya."
(HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani)

Ini bukan berarti setiap orang miskin adalah pendosa. Namun bisa jadi, pintu rezeki seseorang yang sebenarnya luas, tertutup karena dosa yang tidak pernah disadari, atau karena taubat yang tak pernah benar-benar dilakukan. Sebab, dosa-dosa itu bisa menjadi penghalang datangnya kebaikan dan keberkahan dalam hidup.

Selain itu, kemaksiatan juga bisa menjauhkan seseorang dari ilmu. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada hati yang kotor karena maksiat. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku merasa sulit untuk bangun malam selama lima bulan karena satu dosa yang kulakukan.” Imam Syafi’i juga pernah berkata:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي، فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي، وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ، وَنُورُ اللَّهِ لَا يُؤْتَى لِعَاصٍ

"Aku mengadukan kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, maka ia menasihatiku agar meninggalkan maksiat, dan memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat."

Maka wahai saudaraku, bila kita merasa doa tak kunjung terkabul, hidup terasa sempit meski rezeki cukup, hati gelisah meski tidak ada masalah nyata, maka barangkali bukan dunia yang bermasalah, tapi dosa kita yang belum dihisab. Barangkali hati ini sudah kaku, karena seringnya bermaksiat tanpa rasa bersalah.

Jika maksiat melahirkan kehampaan dan kesempitan, maka ketaatanlah yang melahirkan kelapangan dan ketenangan. Lihatlah bagaimana Allah menjanjikan kehidupan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

"Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik."
(QS. An-Nahl: 97)

Kehidupan yang baik itu bukan hanya soal materi, tapi lebih kepada ketenangan hati, kedamaian pikiran, keberkahan waktu, dan keindahan dalam ibadah. Maka, jangan sampai kita mengganti semua itu dengan kenikmatan sesaat dari kemaksiatan yang menipu.

Mari kita jaga hati dan amal. Bila pernah terjatuh dalam maksiat, segera bertaubat. Jangan tunda-tunda, sebab hati yang keras bisa jadi tak punya peluang lagi untuk menyesal. Ingatlah sabda Nabi:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap anak Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat."
(HR. Tirmidzi, hasan)

Semoga Allah melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari jalan-jalan maksiat, dan mengganti kelalaian kita dengan ketaatan yang ikhlas dan istiqamah. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar