Kamis, 04 Juni 2026 | 08:49
NEWS

Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Ketahuan Bentrok! Rebutan Buktikan Ijazah

Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Ketahuan Bentrok! Rebutan Buktikan Ijazah
Ilustrasi masalah ijazah (Dok Askara)

ASKARA - Drama panjang soal ijazah Mulyono, mantan Presiden yang kini jadi “Matahari Cadangan Nasional”, kembali memanas. Kali ini bukan hanya antara kubu pro dan kontra, tapi antara dua kekuatan besar: Ilmu Pengetahuan vs Ilmu Ketahuan.

Pihak Ilmu Pengetahuan, yang diwakili oleh Profesor Logika dan Doktor Metodologi, bersikukuh menggunakan riset, dokumen, dan bukti akademis. “Kami sudah cek cap tiga jari, tinta printer, dan bahkan keringat dosen pembimbingnya. Valid!” tegas Prof. Logika sambil memegang mikroskop dan semangat.

Namun, kubu Ilmu Ketahuan tak tinggal diam. Mereka dipimpin oleh Master Kepo dan Ratu Tebak-Tebakan, yang bersumpah demi netizen +62 untuk “mengetahui kebenaran hakiki lewat insting dan feeling.”

“Ngaku aja deh, saya tuh ketahuan dari awal! Liat gaya jalannya aja udah mirip yang belum lulus,” kata Ratu Tebak-Tebakan sambil menunjuk foto lama hitam putih dengan panah warna-warni.

Pertarungan sengit terjadi di arena debat publik yang disiarkan langsung oleh stasiun TV “Berita atau Bercanda”. Kedua kubu saling adu argumen:

Ilmu Pengetahuan: “Kami punya transkrip nilai!”

Ilmu Ketahuan: “Kami punya firasat!”

Bahkan muncul istilah baru: Kebenaran vs Pembenaran. Kubu pengetahuan mengklaim mereka bawa kebenaran objektif, sementara kubu ketahuan bersikeras, “Yang penting cocok sama narasi!”

Dalam kekacauan ini, muncul tokoh netral bernama Ki Halu yang bilang, “Ijazah itu hanya simbol duniawi. Yang penting itu ijazah kehidupan.” Ucapannya langsung viral dan dijadikan quote di tukang tambal ban.

Sampai berita ini diturunkan, ijazah masih asli menurut ilmu ketahuan, dan masih “belum cocok vibe-nya” menurut ilmu pengtahuan. Rakyat pun mulai bimbang: “Kami percaya pada sains, tapi juga pada tetangga sebelah yang katanya lihat Mulyono dulu jual es mambo.”

Presiden baru, belum berkomentar, karena sedang menunggang kuda sambil membaca buku Psikologi Publik dan Politik Pecah Kongsi.

 

 

Komentar