Inilah Enam Mukjizat Paus Fransiskus
ASKARA - Ketika dunia mengucapkan selamat jalan kepada Paus Fransiskus pada 21 April 2025, bukan hanya pemimpin Gereja Katolik yang wafat, melainkan seorang bapak umat yang hidupnya penuh dengan mukjizat, bukan dari langit yang terbuka atau air yang jadi anggur, melainkan mukjizat yang lahir dari kasih, keberanian, dan ketulusan.
Mukjizat pertama adalah saat beliau terpilih sebagai Paus. Jorge Mario Bergoglio bukan kandidat utama. Ia datang dari Argentina, bukan dari pusat Eropa. Tapi justru dalam ketidakpopuleran itu, Roh Kudus bekerja. Ia menjadi Paus pertama dari Jesuit, dari Amerika Latin, dan yang pertama memakai nama Fransiskus, nama yang mencerminkan hidup sederhana dan berpihak pada kaum kecil.
Mukjizat kedua adalah kasih yang menyentuh jiwa. Paus Fransiskus tidak takut memeluk orang yang dunia jauhi. Ia mencium penderita penyakit langka, merangkul anak-anak berkebutuhan khusus, dan menampung para tunawisma di Vatikan. Mukjizatnya adalah kehadiran. Ketika banyak pemimpin menjaga jarak, ia datang mendekat.
Mukjizat ketiga adalah upayanya menjembatani yang bertikai. Ia mempertemukan pemimpin Israel dan Palestina di taman Vatikan, mengundang mereka berdoa bersama. Di tengah dunia yang penuh kebencian, Paus Fransiskus menunjukkan bahwa damai tidak hanya mungkin, tapi perlu diperjuangkan dengan kelembutan hati.
Mukjizat keempat adalah pembaruan Gereja. Dengan tangan gemetar dan hati kuat, ia membersihkan birokrasi Vatikan, membuka transparansi keuangan, dan menyederhanakan sistem hukum kanonik. Dalam tubuh Gereja yang kadang lambat bergerak, ia meniupkan angin segar reformasi.
Mukjizat kelima adalah kasih tanpa syarat. Ia berkata, “Siapakah saya untuk menghakimi?” saat ditanya soal kaum LGBT. Ia membuka jalan pulang bagi mereka yang merasa tersesat: para janda, para pendosa, mereka yang gagal, mereka yang bertanya-tanya, “Masihkah Tuhan mencintaiku?” Paus menjawabnya dengan pelukan.
Mukjizat keenam adalah keteguhan dalam sakit. Di usia senja, dengan paru-paru yang lemah dan operasi berkali-kali, ia tetap hadir, tetap tersenyum, tetap berdoa bersama umatnya. Banyak yang mengatakan, “Semangatnya menyembuhkan.” Bukan hanya tubuh, tapi jiwa-jiwa yang lelah.
Paus Fransiskus mengajarkan bahwa mukjizat sejati bukan soal menaklukkan hukum alam, melainkan menaklukkan diri sendiri untuk menjadi alat kasih Tuhan. Ia adalah paus yang menghidupkan Injil dengan langkah nyata.
Kini ia telah pulang ke rumah Bapa. Tapi mukjizatnya tinggal dalam hati jutaan orang yang pernah disentuhnya, dalam Gereja yang lebih terbuka, dan dalam dunia yang sempat merasakan hangatnya cinta seorang Fransiskus.

Komentar