Senin, 20 Juli 2026 | 21:15
NEWS

Mukjizat Komuni Getarkan Medan, Hosti Kudus Habis Terisi Kembali

Mukjizat Komuni Getarkan Medan, Hosti Kudus Habis Terisi Kembali
Pastor Paulinus Simbolon ketika homili dalam perayaan ekariati di Gereja St Antonius dan cuts hosti kudus (Dok Askara)

ASKARA - Sebuah peristiwa iman yang mendalam dialami umat Gereja Santo Antonius dari Padua, Jalan Hayam Wuruk, Medan, saat perayaan Ekaristi dipimpin Pastor Paulinus Simbolon. Di tengah pembagian Komuni Kudus, hosti yang tersedia dinyatakan telah habis, sementara umat masih berbaris dengan hati penuh kerinduan untuk menyambut Tubuh Kristus.

Dalam situasi yang secara manusiawi tampak mustahil, Pastor Paulinus sempat meminta bantuan prodiakon untuk mengambil hosti tambahan. Namun jawaban yang diterima justru menegaskan keterbatasan: piala telah kosong, dan persediaan hosti di susteran pun telah habis.

Kegelisahan sempat menyelinap dalam hati Pastor. Ia membayangkan umat yang pulang tanpa menerima Komuni, padahal Ekaristi adalah perjumpaan terdalam antara manusia dan Tuhan. "Banyak umat yang merindukan kehadiran Tuhan kita Yesus Kristus dalam Komuni dan harus pulang dengan kecewa," ungkapnya, dalam tayangan video yang dikutip, Kamis (8/1).

Di titik itulah Pastor Paulinus memilih jalan iman: berserah sepenuhnya. Dalam doa batin ia berkata, "Up to You, Lord. Terserah. Engkaulah yang mengizinkan situasi ini terjadi, maka Engkaulah pula yang menyelesaikannya."

Pastor kemudian mengajak koor dan umat melantunkan Madah Bakti 690, Tuhan Yesus, Kau Hadir Kini. Nyanyian pujian dan doa itu menggema, seakan menjadi pengakuan iman bahwa Tuhan sungguh hadir di tengah umat-Nya, bahkan ketika logika manusia tak lagi menemukan jalan.

Saat Pastor kembali ke altar, sebuah kejutan iman terjadi. Piala-piala komuni yang sebelumnya kosong kini terisi kembali dan berlebih. Komuni Kudus dapat dilanjutkan, dan seluruh umat yang menanti akhirnya menerima Tubuh Kristus dengan penuh syukur dan haru.

Bagi umat yang hadir, peristiwa ini bukan sekadar kejadian luar biasa, melainkan pengalaman iman yang meneguhkan: bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya pulang dengan tangan kosong ketika mereka datang dengan hati yang rindu dan percaya.

Kesaksian ini menjadi pengingat bahwa dalam Ekaristi, Tuhan bukan hanya dikenang, tetapi sungguh hadir, bekerja, dan mencukupkan, melampaui keterbatasan manusia dan menjawab penyerahan diri dengan kasih-Nya yang tak terbatas.

 

Komentar