Air Mata dan Doa di Katedral
Imam Besar Istiqlal Nasaruddin Umar Tahan Tangis Kenang Paus Fransiskus
ASKARA — Suasana haru menyelimuti Gereja Katedral Jakarta saat Misa Requiem untuk mendiang Paus Fransiskus digelar, Kamis petang (24/4). Di antara lautan umat yang memenuhi setiap sudut gereja, tampak sosok Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir memberikan penghormatan terakhir.
Disambut hangat oleh Kardinal Ignatius Suharyo, Nasaruddin berdiri di hadapan altar dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak mengikuti prosesi misa konselebrasi, namun sebelum misa dimulai, ia menyampaikan pesan yang menggetarkan hati.
“Saya seperti sangat emosional melihat wajah Pope, kami sangat terharu,” ucapnya lirih, menahan tangis. Ucapan belasungkawa dan doa pun ia lantunkan dengan suara bergetar.
Bagi Imam Besar Masjid Istiqlal itu, Paus Fransiskus adalah lebih dari sekadar pemimpin umat Katolik. Ia adalah cahaya yang menyatukan, pribadi yang penuh kasih dan keteladanan.
“Memang beliau sudah wafat, tapi Insya Allah akan tetap hidup pesan-pesannya di dalam batin,” katanya.
Ribuan umat tumpah ruah di dalam dan luar gereja. Ada yang duduk lesehan, ada yang berdiri, semuanya larut dalam duka dan doa. Malam itu, Gereja Katedral menjadi rumah bagi hati-hati yang kehilangan, namun juga rumah bagi harapan yang diwariskan oleh Paus.

Komentar