Umat Paroki St. Yakobus Kenang Romo Sutopanitro
Gembala yang Setia dalam Keterbatasan
ASKARA – Duka mendalam menyelimuti umat Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara, atas wafatnya Romo Sutopanitro, atau yang akrab disapa Eyang Romo Suto pada usia 90 tahun di Hari Jumat Agung (18/4) pukul 19.48. Sosok yang dikenal penuh semangat, meski dalam keterbatasan fisik, telah berpulang, meninggalkan jejak iman yang kuat dalam hati umatnya.
Bagi Lucia Wowor, salah satu umat yang rutin mengikuti misa pagi, Romo Suto bukan sekadar imam, melainkan panutan dalam hidup rohani.
"Romo selalu ingin tetap memimpin misa, bahkan saat fisiknya terbatas. Beliau berusaha mandiri, tidak ingin merepotkan. Keteladanannya luar biasa," ungkapnya, Sabtu (19/4).
Romo Suto dikenal dengan kotbah-kotbahnya yang lugas, berisi, dan selalu mengarahkan umat kepada ajaran Tuhan Yesus. Dalam setiap misa, ia menekankan pentingnya hidup sesuai Sabda. Tulisan-tulisannya di Warta Paroki pun menjadi pegangan rohani bagi banyak umat.
"Beliau tak pernah asal menulis. Setiap minggunya, bacaan pertama, kedua, dan Injil dikaitkan dengan sangat dalam. Ada benang merah yang membimbing kami untuk memahami kehendak Tuhan," tambah Lucia.
Kepergian Romo Suto meninggalkan ruang hening di hati para umat yang biasa menyambut senyumnya di altar dan membaca renungannya setiap minggu. Namun, kenangan akan semangat dan keteguhannya dalam pelayanan akan terus hidup.
“Selamat jalan, Eyang Romo Suto. Doakan kami umatmu, agar tetap setia seperti yang selalu Romo ajarkan,” tutup Lucia, mewakili kerinduan umat yang kehilangan gembala penuh kasih.

Komentar