Museum Ijazah Nasional: Di Sini Semua Presiden Lulus (Katanya)
ASKARA - Pemerintah seharusnya segera membangun Museum Ijazah Nasional. Letaknya strategis, antara Arsip Nasional dan Gedung MK, biar mudah dicek silang kalau ada ijazah yang mendadak hilang, berubah, atau tiba-tiba muncul pakai cap tiga jari warna ungu.
Di dalam museum, setiap Presiden Indonesia dapat satu paviliun sendiri. Mari kita bayangkan:
Paviliun Soekarno: Dihiasi ornamen tempo dulu. Ijazahnya dari THS (Technische Hoogeschool), tulisannya Belanda, tapi tetap sakral. Ada audio interaktif: “Aku adalah insinyur—dan aku bangga!”
Paviliun Soeharto: Tidak terlalu banyak ijazah, tapi ada display prestasi. Tersedia juga lemari berisi "sertifikat kursus kepemimpinan selama 32 tahun".
Paviliun Habibie: Ruangannya penuh blueprint pesawat dan foto zaman kuliah di Jerman. Ijazahnya bukan cuma satu, tapi beranak-pinak: S1, S2, S3—semua asli, no debat.
Paviliun Gus Dur: Koleksi buku dan puisi. Ijazah? Nggak terlalu penting, karena IQ-nya sudah bikin ijazah minder.
Paviliun Megawati: Ada kursi kuliah semi-kosong. Ditemani teks pidato: “Pendidikan itu penting, tapi jadi putri Bung Karno adalah anugerah terindah.”
Paviliun SBY: Rapi, berbingkai, penuh gelar. Ada tombol interaktif: kalau ditekan, terdengar orasi ilmiah dengan nada penuh perasaan.
Paviliun Jokowi: Paling rame. Ada detektor keaslian ijazah, kaca pembesar untuk netizen, dan CCTV yang live 24 jam ke Twitter. Tersedia juga pojok selfie bertema "Saya percaya ijazah ini!"
Paviliun Prabowo (coming soon): Lagi disiapkan. Ada kerjasama dengan akademi militer dan museum sejarah. Gelar kehormatan siap dirangkai jadi backdrop.
Dan yang paling menarik? Tiket masuknya gratis, tapi sebelum masuk, semua pengunjung wajib nunjukin ijazah sendiri dulu. Kalau nggak punya? Ya silakan masuk lewat jalur khusus netizen spekulatif.

Komentar