Pesan Paus Fransiskus di Minggu Palma: "Salib Jangan Hanya di Leher, Tapi di Hati"
ASKARA — Sekitar 40 ribu umat berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, untuk memperingati Minggu Palma, mengenang masuknya Yesus ke Yerusalem menjelang penderitaan dan wafat-Nya. Misa Kudus dipimpin oleh Kardinal asal Argentina, Leonardo Sandri, yang menjabat sebagai Wakil Dekan Dewan Kardinal.
Meski sedang dalam masa pemulihan kesehatan, Paus Fransiskus tetap hadir di penghujung perayaan, menunjukkan komitmennya terhadap umat.
Homili dalam misa tersebut disiapkan langsung oleh Paus Fransiskus. Dalam renungannya, ia mengangkat kisah Simon dari Kirene yang membantu Yesus memikul salib menuju Kalvari. “Simon memikul salib bukan karena ingin membantu, melainkan karena terpaksa. Namun justru dari keterpaksaan itu, ia menjadi bagian dari penderitaan Tuhan,” tulis Paus.
Paus Fransiskus juga mengajak umat untuk mengenali banyak "Simon dari Kirene" di dunia masa kini — mereka yang menanggung salib penderitaan karena perang, kemiskinan, dan ketidakadilan. “Apakah kita mampu mengenali mereka? Apakah kita melihat wajah Tuhan dalam wajah mereka yang menderita?” ujarnya.
Lebih lanjut, Paus menegaskan bahwa memikul salib Kristus tidak pernah sia-sia. Justru itulah bentuk paling nyata dari cinta penyelamatan.
“Saudara-saudari, mari kita pilih bagaimana membawa salib selama Pekan Suci ini: bukan di leher, tapi di hati. Bukan hanya salib kita sendiri, tetapi juga salib mereka yang ada di sekitar kita dan menderita — bahkan dari orang asing yang secara ‘kebetulan’ kita temui. Atau mungkinkah itu bukan kebetulan?” ungkapnya menyentuh.
Usai misa, Paus Fransiskus menyapa umat selama sekitar 10 menit, memberikan berkat dan mengucapkan, “Selamat Minggu Palma! Selamat menjalani Pekan Suci!”

Komentar