Selasa, 04 Agustus 2026 | 05:51
LIFESTYLE

Bemo: Romantika Roda Tiga dari Kejayaan hingga Senjakala

Bemo: Romantika Roda Tiga dari Kejayaan hingga Senjakala
Bemo

ASKARA - Pada dekade 1960-an hingga penghujung 1980-an, tak sulit menjumpai deru knalpot dan ringkik mesin Bemo di sudut-sudut kota besar Indonesia. Moda transportasi beroda tiga ini tak hanya menjadi ikon mobilitas urban, tetapi juga simbol perjuangan rakyat kecil menembus kerasnya hidup. Bemo — singkatan dari "Becak Motor" — hadir sebagai solusi atas kebutuhan angkutan yang murah, tangguh, dan mampu menjangkau ruas-ruas jalan sempit yang tak dijangkau kendaraan besar.

Dari Becak Kayuh ke Becak Bermesin

Bemo pertama kali diperkenalkan pada awal 1960-an. Kehadirannya dianggap revolusioner karena menggantikan dominasi becak kayuh yang telah lebih dulu mengisi ruang transportasi. Berbasis sepeda motor berkapasitas kecil, Bemo dimodifikasi dengan bodi baja dan tempat duduk sempit yang bisa memuat 2—3 penumpang. Ia gesit, bandel, dan ekonomis dalam pemakaian bahan bakar, menjadikannya primadona transportasi rakyat.

Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Semarang hingga Makassar — kota-kota ini pernah menjadi saksi bagaimana Bemo merajai jalanan. Jalur-jalur trayeknya menjangkau pasar tradisional, terminal, gang perkampungan, hingga kawasan pusat kota. Tidak sedikit masyarakat yang bergantung padanya untuk menjalankan aktivitas harian: berdagang, bersekolah, atau bekerja.

Nadi Ekonomi Kecil

Bemo bukan sekadar alat transportasi; ia adalah nadi ekonomi rakyat kecil. Ribuan kepala keluarga menggantungkan hidup dari moda ini. Sopir, kernet, montir, hingga juragan Bemo ikut merasakan denyut keberkahan yang mengalir dari knalpotnya. Tak sedikit anak-anak pengemudi Bemo yang kemudian menapaki jalan pendidikan hingga menjadi sarjana, pegawai negeri, profesional, bahkan pengusaha sukses. Semua berawal dari keringat yang dihasilkan oleh kendaraan mungil ini.

Bengkel-bengkel kecil tumbuh di sekitar terminal dan pangkalan Bemo. Warung makan, kios onderdil, dan koperasi sopir menjadi bagian dari ekosistem yang menghidupi ribuan orang. Bemo menjadi saksi diam perjalanan hidup banyak keluarga Indonesia.

Kejayaan yang Mula Meredup

Memasuki awal 1990-an, Bemo mulai kehilangan pamor. Modernisasi transportasi datang membawa tantangan baru yang tak mampu dijawab Bemo. Munculnya angkutan kota (angkot), taksi konvensional, hingga akhirnya gelombang taksi daring, membuat Bemo terlihat tua dan tidak relevan.

Faktor lainnya adalah ketatnya regulasi pemerintah. Beberapa kota mulai memberlakukan aturan emisi gas buang yang tidak bisa dipenuhi oleh Bemo bermesin dua tak. Infrastruktur jalan yang makin diperlebar dan dipoles untuk mendukung kendaraan roda empat juga menjadikan Bemo sebagai kendaraan yang dianggap menghambat arus lalu lintas.

Lambat laun, Bemo ditinggalkan penumpangnya. Banyak yang dikandangkan, dijual kiloan sebagai besi tua, atau ditinggalkan membusuk di pinggiran kota. Bahkan ada yang berakhir sebagai rumah bagi tikus dan ular, atau sengaja dibuang ke laut untuk dijadikan rumpon ikan.

Nostalgia dan Upaya Pelestarian

Meski telah tersingkir dari panggung utama transportasi, romantika Bemo tak lantas hilang. Di beberapa kota, Bemo tetap dijalankan, meski hanya sebagai alat transportasi wisata atau ikon budaya. Komunitas pecinta Bemo mulai tumbuh, menggelar festival, pameran, dan kampanye pelestarian.

Beberapa mantan pengemudi Bemo bahkan merestorasi kendaraan tua mereka sebagai kenangan manis. Ada pula yang menjadikannya sebagai kedai kopi berjalan, warung keliling, atau sekadar diparkir di halaman rumah sebagai monumen kecil atas masa lalu yang heroik.

Epilog

Bemo mungkin telah kalah oleh zaman, namun jejaknya tertanam dalam ingatan kolektif bangsa. Ia adalah saksi bisu zaman transisi — dari kayuh ke mesin, dari peluh ke harapan. Dari trotoar sempit hingga jalanan lebar kota metropolitan, Bemo pernah menulis bab penting dalam sejarah transportasi Indonesia.

Hari ini, meski hanya sesekali terdengar denting kenangannya, Bemo tetap hidup dalam nostalgia. Ia bukan sekadar kendaraan, tetapi cerita tentang rakyat kecil yang berani bermimpi besar — dari balik kemudi mungil, di balik kaca buram, melaju di antara debu dan harapan. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar