Kamis, 04 Juni 2026 | 05:19
Ruang Menulis

Raden: Perjalanan dari Ekowisata ke Asisten Dosen dan Impian Berbisnis

Raden: Perjalanan dari Ekowisata ke Asisten Dosen dan Impian Berbisnis
Raden Shifa S.R (Dok Rafi)

Oleh: Rafi Muhammad Fayiz
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

ASKARA - Dalam dunia akademik dan profesi, perjalanan seseorang sering kali penuh kejutan. Salah satunya adalah kisah hidup Raden Shifa Shiyamiya Raiputri, akrab disapa Raden. Lulusan Program Studi Ekowisata IPB ini kini menjalani peran sebagai asisten dosen sambil merintis impian berbisnis. Dalam wawancara eksklusif, Raden berbagi kisahnya, mulai dari masa kuliah, perjalanan karier, pengalaman menikah di usia muda, hingga impiannya di masa depan.

Dari Ekowisata ke Dunia Akademik

Raden adalah alumni Program Studi Ekowisata Sekolah Vokasi IPB University angkatan 57. Sejak awal, Ekowisata bukanlah pilihannya.
“Sebenarnya saya lebih suka menggambar dan melukis, awalnya ingin masuk teknik arsitektur,” ujarnya. Namun, setelah berdiskusi dengan beberapa alumni dan temannya, ia mulai tertarik dengan prospek kerja di bidang ekowisata yang menawarkan pengalaman luas, termasuk banyak kesempatan menjelajahi tempat-tempat menarik.

Meski sempat merasa kesulitan karena banyaknya tugas, Raden bersyukur bisa beradaptasi dan menikmati masa kuliahnya. Hal ini juga terbantu oleh lingkungan pertemanan yang solid dan saling mendukung.
“Karena di Ekowisata ini banyak banget tugas-tugas laporan, tapi akhirnya bisa beradaptasi dan bertahan sampai akhir. Mungkin karena lingkungannya juga sih, temen-temennya saling support satu sama lain,” ucapnya.

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Raden adalah saat melakukan penelitian skripsi tentang Pengembangan Ekowisata Ekosistem Terumbu Karang di Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan.
“Kalau bukan karena Ekowisata, mungkin saya tidak akan pernah terpikir untuk datang ke Bangka dan melihat keindahan pulau serta terumbu karang di sana,” kenangnya.

Setelah lulus pada tahun 2024, Raden memutuskan menjadi asisten dosen di Program Studi Ekowisata, Sekolah Vokasi IPB University. Awalnya, ia hanya ingin mengisi waktu luang setelah menikah.
“Saya ingin tetap produktif, tapi juga punya waktu fleksibel sebagai ibu rumah tangga,” katanya.

Raden mengampu mata kuliah Pembangunan Masyarakat dalam Ekowisata (PME), yang memberinya kesempatan membimbing mahasiswa dalam implementasi program di kampung wisata. Ini bukan pengalaman pertamanya—ia pernah menjadi asisten dosen saat masih kuliah di semester genap. Namun tetap saja, ada tantangan tersendiri.
“Tantangannya adalah membimbing mahasiswa saat mereka turun ke lapangan dan berinteraksi dengan masyarakat, serta ketika membantu mereka dalam proyek pembangunan kampung wisata,” jelasnya.

Pengalaman ini memberinya perspektif baru mengenai dunia akademik.
“Ternyata menjadi pengajar itu tidak semudah yang dibayangkan. Butuh kesabaran dan strategi agar materi bisa dipahami dengan baik,” ungkapnya.

Menyeimbangkan Karier dan Keluarga

Raden menikah muda di usia 23 tahun. Keputusan itu datang tanpa rencana panjang.
“Saya pernah menjalani hubungan lama tapi tanpa kepastian. Beda dengan suami saya sekarang, kami awalnya hanya dekat, tapi dia langsung memberi kepastian dan melamar. Itu yang membuat saya yakin,” ujarnya.

Meski menikah muda, Raden tetap ingin produktif dan tidak meninggalkan pendidikan serta karier. Baginya, pendidikan adalah prioritas utama, terutama bagi perempuan.
“Dengan pendidikan tinggi, kita punya bekal untuk bertahan di tengah masyarakat, dan juga saat membangun rumah tangga,” tuturnya.
Ia merasa menjadi ibu rumah tangga yang berpendidikan sangat penting dalam mengatur rumah tangga dan mendidik anak di masa depan.

“Bermimpilah setinggi-tingginya. Walaupun ujungnya kita akan berada di dapur dan mengurus rumah tangga, kita tetap bisa memilih dapur seperti apa yang kita inginkan. Kita bisa menentukan kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani,” tambahnya.

Meskipun saat ini ia memilih rehat sejenak dari pendidikan formal, tidak menutup kemungkinan ia akan melanjutkan studi dan menjadi dosen tetap di masa depan.
“Ada saat-saat saya merasa lelah atau ragu apakah bisa menjalani semuanya. Tapi saya percaya, dengan niat dan dukungan orang terdekat, semuanya bisa dijalani,” katanya.

Merintis Impian Berbisnis

Selain dunia akademik, Raden juga tertarik pada dunia bisnis. Sejak pandemi COVID-19, ia pernah mencoba berjualan soft cookies dan brownies secara online bersama teman kos. Kini, ia bercita-cita membangun usaha di bidang kerajinan, seperti aromaterapi dan lilin dekoratif yang lucu.
“Saya suka hal-hal yang kreatif dan feminin. Saya ingin membuat produk lilin aromaterapi yang lucu dan bisa dinikmati banyak orang,” ungkapnya.

Raden ingin memulai bisnis ini secara online terlebih dahulu sebelum membuka toko fisik. Ia merasa ide bisnis ini memiliki potensi karena masih jarang pelaku usaha serupa di lingkungannya.
“Di tempat saya tinggal, masih jarang yang menjual lilin aromaterapi yang unik. Ini jadi peluang yang menarik buat saya,” tambahnya.

Keseriusan Raden terlihat dari semangatnya belajar tentang bisnis, mulai dari strategi pemasaran hingga manajemen keuangan.
“Bisnis itu bukan sekadar menjual barang, tapi juga bagaimana kita membangun brand dan memahami kebutuhan pelanggan. Saya ingin belajar lebih dalam agar bisnis saya bisa berkembang secara berkelanjutan,” jelasnya.

Dari Raden untuk Generasi Muda

Telah melewati banyak fase hidup—sebagai mahasiswa, pekerja, hingga ibu rumah tangga—Raden berpesan kepada generasi muda untuk tidak takut bermimpi dan terus mengembangkan diri.
“Lingkungan itu penting. Dikelilingi orang-orang yang suportif akan membantu kita bertahan dan sukses,” pesannya.

Melalui perjalanan hidupnya, Raden membuktikan bahwa perempuan bisa menjalani berbagai peran tanpa harus memilih satu saja. Ia tetap berkontribusi di dunia pendidikan, mengejar impian bisnis, dan menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga.
“Keseimbangan adalah kunci. Tidak ada batasan bagi perempuan untuk terus bermimpi dan berkarya,” katanya.

“Kita harus percaya pada diri sendiri dan tidak takut mencoba hal-hal baru. Setiap perjalanan pasti punya tantangannya, tapi dari situlah kita tumbuh dan berkembang,” tutup Raden dengan optimis.

 

 

Komentar