Selasa, 21 Juli 2026 | 23:09
NEWS

Khutbah Idul Fitri di Masjid Jami Abu Bakar Ash-Shiddiq, Prof Rokhmin Dahuri: Ramadhan Kunci Menuju Indonesia Emas 2045

Khutbah Idul Fitri di Masjid Jami Abu Bakar Ash-Shiddiq, Prof Rokhmin Dahuri: Ramadhan Kunci Menuju Indonesia Emas 2045
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS

ASKARA – Anggota DPR RI 2024–2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS dalam khutbah Idul Fitri di Masjid Jami Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jakarta Timur,  1 Syawal 1446 H, menyampaikan refleksi mendalam tentang makna Ramadhan dan Idul Fitri sebagai momentum meningkatkan ketakwaan dan meraih kebahagiaan dunia serta akhirat. Beliau menjelaskan bahwa Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam yang berhasil menjalankan shaum Ramadhan dengan penuh keikhlasan. 

“Disebut kemenangan karena selama sebulan penuh, kita mampu mengendalikan hawa nafsu, meninggalkan hal-hal yang di luar Ramadhan dihalalkan, seperti makan, minum, hingga hubungan suami-istri di siang hari, demi ketaatan kepada Allah SWT,” tegasnya.

Sebagaimana disampaikan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib, Idul Fitri bukanlah milik orang yang hanya memakai pakaian baru, tetapi bagi mereka yang keimanannya meningkat dan ketaqwaannya kepada Allah SWT semakin baik.

Mengutip QS. Al-Baqarah ayat 183, Prof. Rokhmin menyampaikan bahwa tujuan utama puasa Ramadhan adalah membentuk pribadi bertakwa. Ia menekankan bahwa ketakwaan menjadi kunci kesuksesan hidup di dunia dan jaminan surga di akhirat, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali-Imran ayat 133: “Surga yang luasnya seluas langit dan bumi disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

Dalam khutbahnya, Prof. Rokhmin Dahuri juga menggarisbawahi pentingnya ketakwaan bagi kemajuan sebuah bangsa. Ia mengutip QS. Al-A’raf ayat 96: “Jikalau penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi.”

Ia menambahkan bahwa negara yang penduduknya beriman dan bertakwa akan menjadi negara maju, damai, dan berdaulat. “Ketakwaan bukan hanya membentuk individu yang sukses, tetapi juga menciptakan masyarakat dan bangsa yang makmur dan adil,” jelasnya.

Jalan Menuju Indonesia Emas 2045

Mengangkat tema “Ibadah Puasa Ramadhan yang Meningkatkan Ketakwaan: Kunci Hidup Bahagia dan Indonesia Emas 2045", Prof. Rokhmin Dahuri mengajak umat Islam untuk terus menanamkan ketakwaan sebagai jalan menuju kesuksesan pribadi dan kemajuan bangsa. Ia menyampaikan bahwa ketakwaan yang meningkat dari Ramadhan adalah bekal penting dalam mewujudkan Indonesia yang sejahtera dan berdaulat.

Lalu apa hubungannya puasa dengan sukses hidup seseorang di dunia dan kemajuan sebuah bangsa? Prof Rokhmin Dahuri menjelaskan, Allah SWT sangat tegas memberikan komitmen (berjanji) kepada orang-orang yang takwa, bahwa di dunia mereka pun hidupnya akan sukses dan bahagia. 

Sebagaimana antara lain termaktub dalam QS. At-Talaq (65), ayat-2 sampai ayat-5. Yang artinya “.....Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (2) Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)
nya..... (3) ......Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya (4) ..... Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (5)”.

Dalam tataran kehidupan berbangsa dan bernegara, Islam juga mengajarkan bahwa prasyarat utama bagi sebuah negara-bangsa untuk bisa maju, adil-makmur, damai, dan berdaulat adalah penduduknya harus beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. 

Sebagaimana tersurat dalam QS. Al-A’raf (7), ayat-96. Yang artinya ”jikalau penduduk suatu negeri beriman dan taqwa kepada Allah, maka Allah akan melimpahkan berkah (kemajuan dan kesejahteraan) yang datangnya dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”. 

Sumber Keberkahan Hidup

Lalu, apa alasannya muslim dan muslimah yang taqwa itu hidupnya akan sukses dan bahagia di dunia maupun di akhirat kelak. Dalam Islam, kesuksesan dan kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari harta, jabatan, atau popularitas semata. Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, kunci utama kesuksesan hidup di dunia dan akhirat adalah taqwa, yaitu menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dan, suatu negara yang penduduknya beriman dan taqwa kepada Allah itu negara nya akan maju, adil-makmur, berdaulat, dan diridhai Allah (Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghofur). Selain, karena dalil (alasan) naqly atau janji (komitmen) Allah yang tersurat dalam Al-Qur’an seperti Khatib uraikan diatas, secara rasional (dalil Aqly) juga sangat masuk akal. 

Karena, definisi atau pengertian taqwa adalah menjalankan seluruh perintah Allah, dan menjauhi setiap larangan-Nya. Dan, faktanya semua perintah Allah itu pasti maslahat, mendatangkan kebajikan dan berkah bagi yang melaksanakannya. 

Setiap perintah Allah pasti membawa maslahat (kebaikan) bagi yang melaksanakannya. Namun, taqwa bukan hanya tentang ibadah mahdhah (seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan membaca Al-Qur’an), tetapi juga mencakup ibadah ghoiroh mahdhoh (hablum minanas, dan hubungan manusia dengan lingkungan hidup). 

Contohnya: rajin membaca, mencintai dan menguasai IPTEK, bekerja keras dan profesional, jujur, disiplin, berlaku adil, berbuat baik kepada tetangga, menghormati tamu, memberi makan dan menolong orang-orang miskin serta anak-anak yatim, menyingkirkan duri dari jalan (memecahkan masalah), memelihara kebersihan lingkungan, menjaga kelestarian flora, fauna, biodiversity, dan eksosistem alam (hutan, sungai, danau, dan lautan).

Selain itu, perlu juga dicatat, bahwa dalam pandangan Allah (menurut Islam), bahwa yang dimaksud hidup sukses di dunia ini, tidak hanya sekedar hartanya melimpah, jabatan (pangkat) nya tinggi atau tertinggi (Presiden, Menteri, DPR, Kepal Daerah, dan lainnya), popularitasnya (ketokohannya) menjulang tinggi, atau atribut duniawi (meterial) lainnya. 

Tetapi, yang terpenting adalah jiwanya (hatinya) tenteram, damai, dan bahagia, karena taat menjalani 
seluruh perintah Allah dan menjauhi setiap larangan Nya, dan hidupnya bermanfaat bagi sesama, terutama yang membutuhkan pertolongan. Sedangkan, harta benda dan kedudukan (jabatan) yang penting bisa untuk memenuhi enam kebutuhan dasar manusia, yakni: pangan, sandang, papan (rumah), kesehatan, pendidikan, dan alat transportasi. 

"Namun, bukan berarti muslim tidak boleh menjadi Presiden serta jabatan tinggi lainnya, tidak boleh kaya, dan tidak usah populer. Semua atribut duniawi ini boleh, bahkan lebih baik, direngkuh oleh muslim/muslimah yang taqwa. Asalkan, cara memperoleh jabatan, harta, dan ketokohan itu dilakukan secara halal, dan menggunakannya pun di jalan yang halal," tegasnya.

Manusia Paling Mulia 

Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan, bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah manusia beriman yang taqwa (QS. Al-Hujarat: 13).Dan, apabila kita menyaksikan orang yang menentang Allah, banyak berbuat maksiat, tetapi kehidupan dunianya nampak sukses, jabatan nya tinggi, harta berlimpah, dan ditokohkan oleh masyarakat bangsanya, itu namanya ‘istijraj’.

Kita jangan sampai tergoda untuk mengikuti pola hidupnya. Sebaliknya, setiap larangan Allah pasti negatif, tidak baik dan membawa mudharat bagi manusia pelakunya maupun masyarakat sekitarnya. Contohnya: mencuri, korupsi, mabuk mabukan, berjudi, narkoba, selingkuh, berzina, berbohong, dzalim, sombong, malas, dan menjadi ‘tangan di bawah’. Semua ini berdampak negatif bagi pelaku, keluarga maupun bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. 

Alasan rasional (dalil Aqly) lainnya adalah bahwa muslim/muslimah yang beriman dan taqwa mesti menjalankan kehidupan di dunia ini berdasarkan pedoman yang dibuat dan diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla, Tuhan YME yang menciptakan kita manusia dan alam semesta. Yakni Al-Qur’an dan Hadits (Islam). 

Oleh karena itu, muslim/muslimah yang beriman 
dan taqwa pasti hidupnya sukses dan bahagia, baik di dunia fana ini maupun di akhirat kelak yang kekal dan abadi. "Bayangkan, kalau kita menggunakan (mengendarai) mobil toyota inova, tetapi manual (buku pedoman) yang kita gunakan buku pedoman yang dibuat untuk mesin cuci atau mobil merek lain, katakanlah mercedes buatan Jerman, pasti gagal atau tidak optimal," ucap Anggota Dewan Pakar ICMI-Pusat itu.

Pada kesempatan yang istimewa ini, Prof Rokhmin Dahuri mengajak untuk  bermuhasabah, atau introspeksi diri tentang ibadah puasa Ramadhan dan korelasinya (kaitannya) dengan kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Sejak Indonesia merdeka, berarti kita Umat Islam Indonesia sudah melaksanakan 79 kali ibadah Puasa Ramadhan. 

Pertanyaannya, mengapa ibadah puasa Umat Islam Indonesia sebanyak 79 kali belum mampu membentuk SDM (SumberDaya Manusia) Indonesia yang unggul, yakni menguasai IPTEK, produktif, kreatif, inovatif, 
pekerja keras, profesional, kolaboratif (teamwork), dan berakhlak mulia (shidiq, amanah, fathonah, tabligh, berysukur, sabar, dan kanaah)?. 

Kecuali indeks kedermawanan, dimana Indonesia menempati peringat ke-2 bangsa paling dermawan di dunia, hampir semua indikator kualitas SDM bangsa Indonesia itu masih rendah, alias buruk. Misalnya, Indeks PISA (Program International for Student Assessment) pada 2022 yang mencakup kemampuan literasi, matematika, dan IPA (science) para siswa SLTP kelas-3 (umur 15 tahun) hanya berada di peringkat- 69 dari 81 negara yang disurvei (OECD, 2022).  Kemampuan literasi (membaca) bangsa Indonesia terburuk kedua di dunia, hanya unggul dari Bostwana (terburuk) (https://www.ccsu.edu/wmln/rank.html, 2018). 

Produktivitas tenaga kerja Indonesia hanya setara dengan 14 USD per jam, dan hanya menempati peringkat-5 di ASEAN. Juara satu ditempati oleh Singapura dengan produktivitas 74 USD per jam, diikuti oleh Brunei Darussalam (49 USD/jam), Malaysia ( 26 USD/jam), dan Thailand (16 USD/jam) (ILO, 2021). Dan, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Indonesia hanya sebesar 0,71 yang menempati peringkat-112 dunia, dari 193 negara yang disurvei. Di kawasan ASEAN, IPM Indonesia menduduki peringkat-5, setelah Singapura (0,95), Brunei Darussalam (0,82), Malaysia (0,81), dan Thailand (0,80) (UNDP, 2022). 

Sementara itu, di kalangan elit (pemimpin) bangsa, baik di lingkungan eksekutif (birokrasi), legislatif, Yudikatif maupun Partai Politik sebagian besar dilanda moral hazard(kebejatan moral) yang sangat bertentangan dengan ketaqwaan, mulai dari perilaku koruptif, nepotisme, arogan, maunya dilayani rakyat, pembohong, sampai membunuh demokrasi dan 
meritokrasi seperti meloloskan seorang warga negara sebagai Wakil Presiden dengan mengubah UU yang menetapkan soal batas umur.

"Padahal, masih banyak lagi pemuda/pemudi Indonesia yang kompetensi, kapabalitas, dan akhlak nya jauh – jauh lebih unggul dan baik ketimbang Wapres sekarang," tegasnya.

Tantangan Ekonomi Indonesia

Indonesia telah merdeka hampir 80 tahun, tetapi hingga kini masih berstatus negara berpendapatan menengah. Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, yang pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan (2001–2004), rata-rata pendapatan penduduk Indonesia (GNI per kapita) baru mencapai 4.870 USD, jauh dari standar negara maju yang berada di atas 14.005 USD per kapita (World Bank, 2024).  

Tak hanya itu, angka kemiskinan, gizi buruk, dan stunting masih tinggi. Jika menggunakan standar kemiskinan nasional, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 25,22 juta jiwa (9,03%). Namun, jika mengacu pada standar Bank Dunia (96 USD/orang/bulan atau sekitar Rp 1,5 juta), jumlah rakyat miskin melonjak drastis menjadi 112 juta jiwa (40% dari total penduduk Indonesia).  

Dalam 10 tahun terakhir, kondisi ekonomi nasional semakin sulit. PHK massal dan meningkatnya angka pengangguran membuat daya beli masyarakat semakin turun. Dalam kurun waktu 2019–2024, jumlah kelas menengah yang memiliki pengeluaran antara Rp 2 juta hingga Rp 9,9 juta per bulan berkurang 9,48 juta orang. Pada tahun 2019, kelas menengah mencapai 57,33 juta jiwa (21,45% dari total penduduk), namun pada 2024 menyusut menjadi 47,85 juta jiwa (17,13%) (BPS, 2024).  

Dampak dari situasi ini adalah terjadinya deflasi berkepanjangan sejak September 2024. Produksi barang dan jasa lebih besar daripada daya beli masyarakat, menyebabkan lapangan kerja semakin sempit, khususnya bagi *generasi muda (Milenial & Gen-Z) yang kini kesulitan mencari pekerjaan.  

Reformasi Ekonomi

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan bahwa Indonesia perlu segera melakukan reformasi ekonomi dengan beberapa langkah strategis, seperti: Meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan SDM agar lebih siap bersaing di era digital dan industri 4.0; Mendorong inovasi dan hilirisasi industri untuk menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan; Memperkuat sektor UMKM dan ekonomi berbasis maritim yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional; Mengoptimalkan sumber daya alam secara berkelanjutan untuk mencegah eksploitasi berlebihan yang merugikan generasi mendatang.

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju, tetapi tanpa strategi yang tepat, bangsa ini akan terus terjebak dalam middle-income trap. Dibutuhkan kepemimpinan yang visioner dan kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat agar Indonesia bisa menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negara yang maju, adil, dan makmur).

Indonesia tengah menghadapi krisis ekonomi yang semakin dalam. Kenaikan biaya hidup, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (mendekati Rp 17.000/USD), serta penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indikator bahwa perekonomian nasional sedang tidak baik-baik saja. Situasi ini juga memicu gelombang demonstrasi "Indonesia Gelap" dan gerakan nasional dengan tagar #KaburAjaDulu yang menunjukkan semakin besarnya keresahan masyarakat.

"Penyebab utama dari memburuknya perekonomian Indonesia sebagaimana saya uraikan diatas adalah karena hampir semua sumber pertumbuhan ekonomi nasional (Investasi, Ekspor, Belanja Pemerintah, Konsumsi Masyarakat, dan Impor) menurun akibat banyaknya industri manufaktur (pabrik) dan perusahaan yang gulung tikar (berhenti beroperasi). Gejala deindustrialsasi sejak 10 tahun terakhir semakin masif," ujar Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany itu.

Suatu negara dikatakan mengalami

deindustrialisasi, ketika sumbangan (kontribusi) sektor industri manufaktur (industri pengolahan) nya terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) atau perekonomian nasional menurun, sementara pendapatan (income) rakyatnya belum mencapai batas minimal pendapatan rakyat di negara maju dan Makmur, yakni 14.005 dolar AS per kapita. Sebenarnya, di akhir masa pemerintahan Orde Baru tahun 1996, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB sudah mencapai 29 persen, hampir menyentuh syarat minimal sebagai negara maju dan Makmur, yakni 30 persen. "Sayang, akibat krisis finansial dan politik pada 1998 serta Reformasi tanpa arah, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB sejak 1997 terus menurun hingga saat ini," sebut nya.

Pada 2004, kontribusi sektor industry manufaktur terhadap PDB menjadi 27,75%, tahun 2014 menjadi 21,08%, tahun 2019 turun lagi menjadi 19,7%, dan tahun 2024 tinggal 17,8% (BPS, 1997– 2024). Banyak faktor yang menyebabkan negara yang kaya SDA dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia ini, status nya masih sebagai negara berpendapatan menengah dengan angka pengangguran, kemiskinan, gizi buruk, dan stunting yang masih tinggi. Tapi, penyebab utamanya adalah karena masih rendahnya kualitas SDM, dan rendahnya kapasitas serta akhlak buruk para pemimpinnya. Mayoritas pemimpin dan rakyat Indonesia masih jauh dari iman dan taqwa. Mayoritas Umat Islam Indonesia, bahkan dunia itu hidup sekuler.

Kehidupan Umat Islam di tingkat global (dunia) sejak runtuhnya Kekhilafahan Islam terakhir di Turki Utsmaniyah pada 1924 pun pada umumnya tertinggal hampir di semua bidang kehidupan.Dalam hal penguasaan dan inovasi IPTEK yang menjadi kunci kemajuan dan

kesejahteraan sebuah bangsa, tidak ada satupun negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim yang termasuk dalam kelompok negara produsen teknologi (Technology Inovator Countries). 

Saat ini kelompok negara kampiun IPTEK baru beranggotakan 34 negara yang tergabung dalam OCED (Organization for Economic Cooperation and Development) seperti AS, Kanada, Jepang, Jerman, Perancis, Inggirs, Italia, Australia, dan Korea Selatan. Satu tingkat di bawah kelompok negara elit itu adalah Technology Implementor Countries, yakni kumpulan negara yang telah mampu mengaplikasikan teknologi tinggi, dan baru mulai melakukan inovasi. 

Mereka adalah sebagian besar negara yang selangkah lagi menjadi negara maju (emerging economies) seperti Singapura, Malaysia, China, Iran, Turki, Qatar, Uni Emirat Arab, Chile, dan Afrika Selatan. Di bawahnya lagi adalah kelompok negara yang hanya mampu sedikit mengadopsi teknologi, tetapi belum sampai pada tahap implementasi secara luas (Technology Adaptor Countries). Yang mencemaskan, Indonesia sekarang menduduki peringkat-60 dari 63 negara yang masuk dalam kelompok ini. 

"Jika tidak segera berbenah, Indonesia bisa terjerembab ke dalam kelompok terbawah (Technologically Marginalized Countries) yang terdiri atas negara-negara terbelakang di Asia, Afrika dan Pasifik Selatan," tegasnya.

Dewasa ini, Kapasitas inovasi bangsa Indonesia berada pada peringkat-87 dari 130 negara yang disurvei. Sedangkan, di tingkat ASEAN, kapasitas inovasi Indonesia menempati peringkat-7, hanya diatas Kamboja dan Laos (Cornell University, INSEAD, dan World Intelectual Property Right, 2021).

Di bidang ekonomi dan hankam tak kalah memilukan, hingga saat ini belum ada satu pun negara muslim yang masuk dalam kelompok negara industri maju dan makmur, yang tergabung dalam OECD. Kebanyakan negara muslim masih menghadapi sejumlah masalah kehidupan yang elementer, seperti tingginya angka pengangguran dan kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, dan konflik sosial. Kekuatan hankam negara-negara muslim jauh tertinggal dari negara-negara industri maju. Hampir semua jaringan media masa dan informasi dikuasai oleh kelompok negara industri maju. Tak heran, genosida (pembersihan etnis) Israel yang didukung Amerika Serikat terhadap bangsa muslim Palestina, yang telah menewaskan puluhan ribu muslim dan muslimah selama dua tahun terakhir.

"Hingga saat ini terus berlangsung semakin brutal dan biadab, tanpa satu pun negara muslim yang membelanya secara serius dan konkrit," ujar Anggota Dewan Pakar Majelis Nasional KAHMI itu.

Yang pasti, firman (janji) Allah dalam Al-Qur’an pasti benarnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran surat Fathir ayat 5: Yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”.

Oleh sebab itu, belum sesuainya (matching) antara janji Allah dengan kenyataan hidup duniawi Umat Islam seperti khatib uraikan diatas, pasti karena kegagalan kita Umat Islam di dalam memahami dan melaksanakan Islam secara kaffah (keseluruhan/komprehensif) dan ittiba’ (mengikuti sunnah Rasulullah saw). Ketika Umat Islam melaksanakan Islam (Al-Qur’an dan Hadits) secara kaffah dan ittiba’, yakni sejak Fatukh Makkah (sekitar 630- M) sampai abad-15,sekitar 8 abad lamanya Umat Islam menikmati masa kejayaan (the Golden Age of Moslem). 

Kehidupan Umat Islam di negara-negara saat itu tergolong maju, sejahtera, aman dan damai. Zakat, infaq, dan shodaqoh diekspor ke negara-negara non-muslim, karena di dalam wilayah negara-negara Islam hampir tidak dijumpai fakir-miskin (mustahik zakat). IPTEK berkembang sangat pesat. Keadilan berlaku untuk semua warna negara, baik muslim maupun non muslim. Dan, wilayah kekuasaan Islam meliputi dua-pertiga dunia.

"Apabila pemimpin (pemerintah) dan rakyat Indonesia semua beriman dan taqwa menurut agamanya masing-masing, dan antar pemeluk agama hidup harmonis, maka Indonesia Emas (maju, adil-makmur, berdaulat, dan diberkahi Tuhan YME) insya Allah akan terwujud, paling lambat pada 2045," kata Prof Rokhmin Dahuri.

Penyebab Umat Islam Tertinggal di Era Kontemporer

Dubes Kehormatan Provinsi Jeju, dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan Untuk Indonesia itu, mengungkapkan tiga penyebab utama mengapa umat Islam di era kontemporer menjadi tertinggal atau mundur dibandingkan dengan umat lain. Refleksi ini menjadi pengingat untuk kembali pada nilai-nilai Islam yang hakiki agar kemajuan dan keberkahan dapat diraih kembali.

Ia menjelaskan bahwa hanya sebagian kecil umat Islam yang menjalankan ibadah mahdoh, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Agama RI dan Monash University (2025), hanya sekitar 39% umat Islam di Indonesia yang melaksanakan shalat wajib lima waktu dalam sehari.  

Padahal, shalat adalah tiang agama sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang menegakkan shalat, maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketidaktaatan dalam menjalankan shalat, yang menjadi amalan pertama yang dihisab di Hari Kiamat, menjadi akar lemahnya keimanan dan ketakwaan umat. “Bagaimana keberkahan, kemajuan, dan kedamaian akan hadir jika ibadah yang menjadi pondasi agama tidak ditegakkan?” ungkapnya.

Bahkan, bagi umat Islam yang menjalankan ibadah mahdoh dengan baik, banyak yang hanya memaknai takwa sebagai hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah). Padahal, takwa juga mencakup hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas) dan lingkungan.

Mengapa Indonesia Belum Menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur? Prof Rokhmin Dahuri memaparkan, Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, tetapi ironisnya, berbagai bentuk kemaksiatan justru merajalela.Korupsi, narkoba, perjudian, perzinahan, serta tindak kriminal seperti perampokan dan pembunuhan masih menjadi masalah besar. Prof Rokhmin Dahuri menekankan, "Jika masyarakat tenggelam dalam kemaksiatan, bagaimana berkah dan kemajuan bisa datang? Na'udzubillah min dzalik."

Menurutnya, kondisi ini menjadi alasan mengapa Indonesia belum mencapai kemajuan dan keberkahan seperti yang dijanjikan Allah dalam Al-Qur’an, yaitu menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negara yang maju, makmur, dan diridai oleh Allah SWT).

Banyak orang mengira bahwa ketakwaan hanya terbatas pada shalat, puasa, dan zakat. Padahal, dalam Islam, ketakwaan juga mencakup: Berbuat baik dan berlaku adil kepada sesama, Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), Bekerja keras, jujur, dan disiplin, Bersikap dermawan, tetapi tidak boros atau kikir, Menjaga kelestarian alam dan membangun kehidupan yang harmonis (rahmatan lil 'alamin). “Ketakwaan tidak hanya shalat dan puasa, tetapi juga bagaimana kita berlaku adil, menghormati tamu, menolong yang lemah, dan menjaga lingkungan hidup,” tegasnya.

Kunci Keberkahan dan Kemajuan

Allah SWT mewajibkan umatnya untuk menuntut, menguasai, dan menerapkan IPTEK dalam menjalani roda kehidupan di dunia. Betapa tidak, kalau ayat Al-Qur’an yang pertama diturunkan dari Allah kepada Rasulullah saw adalah iqra (perintah membaca). Dan, bukankah komunitas ilmuwan modern di masa kontemporer ini sepakat, bahwa membaca adalah gerbang utama untuk menguasai IPTEK?. 

Rasulullah saw bersabda di banyak hadits, antara lain: “Menuntut ilmu itu wajib bagi mukmin dan mukminat”; “Apabila engkau ingin hidup sukses/bahagia di dunia, maka harus dengan ilmu, jika engkau ingin hidup bahagia di akhirat pun harus dengan ilmu”: dan dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”. 

Lebih dari itu, begitu banyak ayat Al-Qur’an yang 
memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu dan memuliakan ilmuwan. Contohnya ialah firman Allah dalam Al Quran surat Az-Zumar ayat 9 dan Al-Mujadalah ayat 11. Yang artinya “... Katakanlah, apakah sama orang-orang yang berilmu (mengetahui) dengan orang-orang yang tidak berilmu?. Sesungguhnya, hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran ” (QS. Az-Zumar: 9). “... Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu (berlimu) beberapa derajat ...” (QS. Al-Mujadalah: 11). 

Islam juga sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dan profesional. Bertebaran ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, profesional, dan tidak menyia-nyiakan waktu.bContohnya, “Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah (bekerjalah) kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya” (QS. Al-Jumu’ah: 10). “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), segeralah (tetaplah) bekerja keras untuk urusan yang lain” (QS. Asy-Insyirah: 7). “ Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du: 11). 

Suatu hari Muhammad Rasulullah saw “mengangkat tangan sahabatnya, Saad yang lembam karena seharian bekerja memahat batu, dengan mengatakan demi Allah bahwa tangan ini tidak akan pernah tersentuh api neraka” (Hadits). Singkatnya, sedemikian hebat Islam memuliakan mukmin yang bekerja keras dan profesional.

Sementara itu, larangan Allah selain berupa meninggalkan sholat, puasa, dan ibadah
mahdhoh lainnya. Juga semua jenis kemaksiatan dan akhlak buruk, seperti membunuh orang tidak sesuai syar’i, mencuri (korupsi), berjudi, mengkonsumsi narkoba dan minuman keras, berzina, memakan riba, malas, boros (konsumtif), tidak mencintai ilmu, pembohong, dzalim, dan tidak menyayangi serta menghormati sesama insan. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, bahwa ”Aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak manusia”. 

"Jadi kalau ada orang yang mengaku beriman dan ibadahnya rajin, tetapi akhlaknya buruk (seperti malas, pembohong, pendengki, kikir, sering menyakiti orang lain, dan tidak mau menolong sesama), itu patut  bertobatan nasuha," tegas Prof Rokhmin Dahuri.

Di dalam banyak ayat Qur’an dan Hadits juga dinyatakan dengan tegas tentang implikasi 
(siksaan) bagi mereka yang melanggar larangan Allah, baik berupa penderitaan di dunia seperti perasaan gelisah, sakit-sakitan, dan keluarga menjadi berantakan maupun di akhirat berupa siksaan api neraka. Dan, bentuk siksaan yang paling ringan di neraka adalah berupa “seseorang dipasang terompah di kakinya, dan mendidih ubun-ubunnya” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Oleh karena itu, bagi muslim yang benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Allah tidak mungkin akan berbuat jahat (dzalim) terhadap sesama, membunuh orang lain tanpa alasan syar’i (teroris), melakukan korupsi, membohongi orang lain, malas, dan enggan menuntut ilmu. Sebaliknya, dia akan menjadi insan pekerja keras, rajin menuntut ilmu, produktif, ikhlas, senang menolong dan berbagi kelebihan kepada sesama insan, dan merawat lingkungan hidup. 

Bagi muslim dengan kualitas iman dan taqwa yang tinggi, yakin betul bahwa hanya iman, taqwa, dan 
amal saleh (etos kerja unggul dan akhlak mulia) lah yang menjamin keberhasilan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak beriman, melakukan yang dilarang Allah, dan berbuat maksiat (dosa), maka bukan hanya sengsara di dunia, di akhirat akan menjadi penghuni neraka, penderitaan dan siksa abadi.

Bayangkan, sebuah negara yang semua atau mayoritas penduduknya beriman, taqwa, beretos kerja unggul dan berakhlak mulia, niscaya negara semacam ini akan menjadi maju, sejahtera, damai, dan berdaulat (baldatun toyyibatun wa robbun ghofur) atau Indonesia Emas.

Ketiga adalah kondisi lingkungan kehidupan yang tidak kondusif untuk menjadi beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Seperti pengaruh media massa yang menayangkan pornografi, tayangan-tayangan yang kurang mendidik bahkan cendrung merusak generasi muda. 

Selain itu, kondisi kehidupan yang hipokrit dan proses pilkada, pileg, dan pilpres yang sarat dengan politik uang (money politics) juga sangat mempengaruhi kondisi kehidupan umat Islam saat ini. 

Apabila kita mampu mengaktualisasikan nilai-nilai ibadah shaum ramadhan dan idul fitri dalam kehidupan keseharian kita umat Islam dengan penuh keimanan dan ikhlas karena Allah, maka insya Allah kehidupan kita, baik secara individu maupun sebagai bangsa atau umat Islam akan lebih sukses dan bahagia. 

Lebih dari itu, kita umat Islam akan lebih mampu menegakkan kalimat Allah di dunia ini, melaksanakan amar makruf nahi munkar, menebarkan kasih sayang, kesejahteraan, dan kedamaian bagi seluruh umat manusia, baik muslim maupun non-muslim.

"Semoga ibadah shaum kita kali ini diterima oleh Allah SWT. Semoga, kita semua mendapatkan rahmat dan ampunan Illahi, dan terbebas dari siksa api neraka. Semoga Allah SWT juga meneguhkan iman dan taqwa kita, sehingga nilai-nilai puasa Ramadhan dan Idul Fitri, seperti kesabaran, keikhlasan, kejujuran, disiplin, kasih sayang, dan semangat menolong sesama dapat terus kita pelihara secara istiqamah sampai hayat di kandung badan kita masing-masing.Bukan hanya selama bulan suci Ramadhan saja," ucap Anggota Dewan Pembina BAMUSI (Baitul Muslimin Indonesia) itu..

Komentar