Kamis, 23 Juli 2026 | 11:07
Ruang Menulis

Pesan Terakhir Raka: Cinta, Misteri, dan Rahasia Gelap

Pesan Terakhir Raka: Cinta, Misteri, dan Rahasia Gelap
Ilustrasi hantu duduk di kursi (Dok Pixabay)

Oleh: Bayu Setyo Budi Utomo

ASKARA - Lo pernah nggak sih ketemu orang yang awalnya manis, tapi ujung-ujungnya bikin lo lesu? Awalnya nyangka dapet madu, eh ternyata cuma gula rafinasi yang gampang larut pas kena air. Gue pernah. Dan kisah ini masih bikin gue merinding sampai sekarang.

Jadi ceritanya, gue lagi deket sama seseorang. Sebut aja namanya Raka. Awalnya dia kayak madu manis—chat duluan, ngajak ngobrol tiap hari, penuh perhatian. Selalu ada buat gue, bahkan kalau gue telat balas chat pun dia tetap sabar. Rasanya kayak ketemu seseorang yang beneran tulus. Sampai gue mikir, "Wah, ini dia nih, orang yang selama ini gue cari." Tapi kemudian, sesuatu yang aneh mulai terjadi.

Balasan chat makin singkat. Dari yang awalnya panjang lebar, jadi cuma "hmm" atau "haha" doang. Tiba-tiba ilang seminggu, terus balik lagi kayak nggak ada apa-apa. Gue udah curiga, tapi tetap kasih dia kesempatan. Gue kira dia sibuk atau ada masalah pribadi yang nggak mau dia ceritain. Tapi feeling gue nggak enak.

Sampai suatu malam, gue nekat ngajak ketemuan.

"Ketemu di kafe deket taman jam delapan. Gue traktir."

Nggak ada jawaban. Tapi anehnya, pas jam delapan lebih dikit, gue sampai di kafe dan... dia ada di sana. Duduk di pojokan, nunduk, tangan di meja, tapi nggak nyentuh gelas kopi di depannya.

Gue datengin pelan. "Raka?" Dia diem.

Gue ragu. Gue tarik kursi dan duduk di depannya.

"Lo nggak balas chat gue, tapi lo di sini?"

Dia masih diem. Muka pucat, tatapan kosong. Jujur, gue mulai merinding. Gue colek lengannya—dan saat itu juga, suara HP gue bunyi. Notifikasi masuk. Dari Raka.

"Maaf, aku nggak bisa datang. Aku masih di rumah. Lagi nggak enak badan."

Gue langsung lihat ke depan lagi. Kursi di depan gue… kosong.

Gelas kopi di meja juga kosong. Bahkan bekas tetesan air pun nggak ada.

Gue keringet dingin. Jantung gue nyaris copot. Siapa yang tadi duduk di situ?

Lalu pelayan datang. "Mbak, sendirian aja ya? Mau pesan sesuatu?"

Gue nggak jawab. Mata gue masih terpaku ke kursi kosong di depan gue. Pikiran gue muter-muter, nyari penjelasan.

Dan saat gue mau berdiri, gue lihat sesuatu di meja. Sebuah kertas kecil, kayak nota. Tapi pas gue ambil, isinya cuma satu kalimat, ditulis dengan tinta merah:

"Jangan cari aku lagi."

Gue langsung pergi dari sana. Gak peduli traktiran, gak peduli jawaban. Satu hal yang gue tau: gue gak akan pernah hubungi Raka lagi.

Tapi malam itu, sebelum tidur, gue iseng buka profil WhatsApp Raka. Gue ngecek status online-nya.

Terakhir dilihat: satu minggu lalu.

Gue cek Instagram, nggak ada update. Gue coba cari Twitter-nya, nihil. Bahkan saat gue buka DM terakhir, ada yang bikin gue merinding lebih dari sebelumnya.

Pesan yang tadi sore dikirim Raka... hilang.

Gak ada jejak. Gak ada "Pesan ini telah dihapus." Nggak ada apa-apa.

Gue nggak bisa tidur. Jantung gue masih berdetak kencang. Gue ambil ponsel dan iseng nyari nama Raka di Google. Mungkin ada berita tentang dia? Atau sesuatu yang bisa ngejelasin ini semua?

Dan di situlah gue menemukan sesuatu yang bikin darah gue membeku.

Berita di situs lokal, tertanggal seminggu yang lalu.

"Seorang pria ditemukan tewas di apartemennya setelah tidak terlihat selama beberapa hari. Polisi menduga korban mengalami kecelakaan fatal, namun penyelidikan masih berlanjut. Pria tersebut diketahui bernama Raka Pratama, usia 27 tahun."

Gue nggak bisa napas. Tangan gue gemetar saat gue scroll ke bawah. Ada fotonya. Itu dia. Raka.

Jadi… siapa yang gue lihat di kafe tadi malam?

Dan lebih penting lagi… siapa yang ngirimin gue pesan kalau dia lagi di rumah?

Gue langsung matiin ponsel dan selimutan. Gue nggak berani buka mata. Gue nggak berani gerak.

Tapi sebelum gue ketiduran, gue denger suara HP gue bunyi. Notifikasi WhatsApp. Dengan tangan gemetar, gue buka layarnya.

Satu pesan baru. Dari nomor tanpa nama. Hanya ada satu kalimat.

"Aku belum pergi."

 

 

 

Komentar