Jalan Kebahagiaan Sejati
ASKARA - Semua orang ingin bahagia. Namun, menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan justru bisa berujung pada celaka.
Bahagia bukanlah tujuan, melainkan keadaan. Kebahagiaan lahir dari konsekuensi terhadap pilihan hidup. Bahagia itu cukup—tidak kurang, tidak lebih. Bahagia adalah buah dari konsistensi dan keteguhan dalam memilih.
Bahagia dalam kemiskinan, bahagia dalam kelaparan, bahagia dalam tangisan, bahagia karena mengikuti Kristus meskipun dibenci, dikucilkan, ditolak, dan dicela.
Sebaliknya, celaka justru datang dari kekayaan, celaka karena kekenyangan, celaka karena tertawa tanpa makna, celaka karena dipuji orang.
Bahagia adalah ketika seseorang menaruh sepenuh kepercayaannya kepada Tuhan. Mereka yang terberkati adalah mereka yang menggantungkan seluruh harapannya hanya kepada Tuhan.
Meski dalam penderitaan, seorang ibu rela mengambil risiko demi kebahagiaan anaknya. Sejak lahir hingga dewasa, kasih ibu sejati adalah memberi tanpa mengharap kembali.
Sejatinya, warta Tahun Rahmat Tuhan (Yubelium) adalah jalan peziarahan yang penuh kesulitan, tekanan, tantangan, dan rintangan. Namun, semuanya dijalani dalam pengharapan demi pemuliaan martabat manusia.
Salam sehat, berlimpah berkat,
Rm Yos Bintoro, Pr

Komentar