Rabu, 17 Juni 2026 | 22:43
CULINARY

Tradisi Bikin Lontong Cap Go Meh Setelah Sincia

Tradisi Bikin Lontong Cap Go Meh Setelah Sincia
Lontong Cap Gomeh (Dok Ask)

ASKARA - Setelah perayaan Tahun Baru Imlek atau Sincia, masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki tradisi membuat dan menyantap Lontong Cap Go Meh. Hidangan ini biasanya disajikan pada hari ke-15 setelah Imlek, yang dikenal sebagai Cap Go Meh. Tradisi ini berkembang sebagai bagian dari akulturasi budaya Tionghoa dengan masyarakat lokal, khususnya di Pulau Jawa.

Lontong Cap Go Meh terdiri dari lontong yang disajikan dengan berbagai lauk, seperti opor ayam, sambal goreng ati, telur pindang, sayur lodeh, dan bubuk kedelai. Setiap unsur dalam hidangan ini memiliki makna filosofis. Lontong yang berbentuk panjang melambangkan perjalanan hidup yang lancar, sedangkan opor ayam melambangkan kemakmuran.

Tradisi ini dipercaya bermula dari masa Dinasti Qing, ketika masyarakat Tionghoa yang merantau ke Indonesia mulai menyesuaikan kuliner mereka dengan bahan-bahan lokal. Dalam perkembangannya, Lontong Cap Go Meh menjadi simbol keberagaman budaya di Indonesia, khususnya dalam komunitas Tionghoa peranakan.

Di berbagai daerah, seperti Semarang, Surabaya, dan Jakarta, perayaan Cap Go Meh dengan menyantap Lontong Cap Go Meh masih terus dilestarikan. Selain di rumah tangga, beberapa restoran juga menyajikan menu ini khusus saat Cap Go Meh. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut tetap relevan dan dinikmati oleh berbagai kalangan.

Selain sebagai hidangan khas, Lontong Cap Go Meh juga menjadi simbol kebersamaan dan harapan baik di tahun baru. Dengan menjaga tradisi ini, masyarakat tidak hanya merayakan keberuntungan, tetapi juga memperkuat hubungan keluarga dan memperkaya budaya kuliner Nusantara.

 

 

Komentar