Rabu, 22 Juli 2026 | 05:24
NEWS

Harga Tanah dan Sewa Tempat di Labuan Bajo Mahal

Efek Super Premium Memicu Ketimpangan Ekonomi

Harga Tanah dan Sewa Tempat di Labuan Bajo Mahal
Labuan Bajo (Dok Pixabay)

ASKARA - Warga Manggarai, Hengki, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai tingginya harga tanah dan sewa tempat di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dinilai sudah "mahalnya kebangetan". Kondisi ini disebut-sebut sebagai dampak dari fenomena Super Premium yang mengubah wajah ekonomi kawasan tersebut.

Hengki menyebutkan bahwa meskipun banyak tanah di Labuan Bajo yang terdaftar atas nama orang lokal, uang yang digunakan untuk membeli lahan tersebut justru berasal dari pihak luar.

"Fenomena ini menggambarkan adanya peralihan kontrol atas aset-aset tanah yang seharusnya dimiliki oleh warga lokal, namun dikuasai oleh pihak-pihak luar yang memiliki modal lebih besar," ungkap Hengki, Minggu (12/1).

Lebih lanjut, Hengki menceritakan pengalamannya saat berbincang dengan Ketua Sanggar Budaya Manggarai. Dulu, mereka pernah berdiskusi mengenai peluang untuk membangun hotel atau penginapan dekat Wae Rebo, salah satu tempat wisata terkenal di Manggarai. Dalam percakapan tersebut, Ketua Sanggar Budaya tersebut mengatakan bahwa ia mendapatkan tawaran modal dari para veteran United Nations untuk mewujudkan proyek tersebut.

Namun, menurut Hengki, upaya tersebut tampaknya menemui jalan buntu. Hal ini disebabkan oleh adanya penolakan dari masyarakat setempat, terutama dari para tetua adat di Wae Rebo. Masyarakat dan tokoh adat kemungkinan merasa khawatir dengan dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh pembangunan hotel besar di daerah yang dikenal dengan keasrian dan tradisi budayanya tersebut.

Kenaikan harga tanah dan sewa tempat yang tidak terkendali ini semakin memperlihatkan ketimpangan antara warga lokal dan pihak luar yang memiliki modal besar. Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran akan semakin terpinggirnya masyarakat lokal dalam proses pembangunan pariwisata yang pesat di kawasan Labuan Bajo.

 

 

Komentar