Jakarta Terancam Tenggelam: Pentingnya Pelestarian Mangrove
ASKARA – Sebagai salah satu kota terpadat di Indonesia, Jakarta menghadapi ancaman serius akibat kenaikan permukaan air laut. Berdasarkan riset National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA), permukaan laut diprediksi naik 10 hingga 12 kaki pada tahun 2100 akibat mencairnya lapisan es di Antartika, yang dapat berujung pada tenggelamnya Jakarta dalam beberapa dekade mendatang.
Kerusakan ekosistem mangrove menjadi salah satu faktor utama yang memperparah kondisi ini. Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kelestarian mangrove, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) bekerja sama dengan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menggelar seminar bertajuk “Mangrove, Kerentanan Hidup, dan Masa Depan Lingkungan Hidup di Indonesia” di Grha Oikoumene, Jakarta Pusat, Selasa (3/12).
Dr. Ir. Suwigya Utama, Kepala Kelompok Kerja Edukasi dan Sosialisasi BRGM, memaparkan pentingnya mangrove sebagai penghalang alami terhadap abrasi dan penyerap emisi karbon. Namun, lahan mangrove kini terancam oleh alih fungsi menjadi tambak dan pemukiman.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana mengarusutamakan isu mangrove di masyarakat, baik melalui pelatihan di tingkat desa hingga literasi bagi masyarakat perkotaan,” ujar Suwigya. Ia menekankan perlunya keterlibatan umat dan lembaga keagamaan, termasuk gereja, untuk mendorong perubahan perilaku dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Suwigya juga mencontohkan dampak nyata abrasi di Pulau Rangsang, Riau, akibat hilangnya ekosistem mangrove. Namun, mangrove terbukti mampu meredam kekuatan gelombang laut, termasuk dalam melindungi pulau di Aceh dari tsunami.
Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. Gomar Gultom, M.Th., menegaskan pentingnya mengaitkan isu lingkungan dengan teologi. Ia menjelaskan, manusia memiliki tanggung jawab menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan, bukan mengeksploitasinya.
“Ketika manusia merusak alam, itu sama saja dengan merusak karya Ilahi,” ujar Pdt. Gomar. Ia juga menyoroti alih fungsi hutan tropis menjadi lahan komoditas seperti sawit, yang memicu bencana baru, termasuk penyebaran penyakit akibat kerusakan lingkungan.
Pdt. Gomar mengimbau gereja untuk mengambil peran aktif dalam literasi lingkungan, mulai dari mengurangi penggunaan plastik hingga mendorong perilaku ramah lingkungan dengan prinsip 4R: Reuse, Reduce, Replace, dan Recycle.
Dalam sesi lainnya, Hanna Purba (21), perwakilan Generasi Z, berbagi pengalaman mengikuti kampanye penanaman mangrove bersama BRGM dan PGI. Ia mengakui minimnya kesadaran anak muda terhadap pentingnya ekosistem mangrove.
“Setelah mencoba menanam mangrove, saya menyadari bahwa alam juga butuh bantuan, bukan hanya manusia,” ujar Hanna. Ia berharap program pelestarian lingkungan dapat menjadi bagian dari agenda kerja komunitas pemuda gereja.
Seminar ini ditutup dengan penyerahan bibit mangrove oleh BRGM kepada PGI, perwakilan jurnalis, pemuda gereja, dan Gubernur Sulawesi Utara, Dr. (HC) Olly Dondokambey, S.E. Langkah ini menjadi simbol komitmen bersama dalam melindungi ekosistem mangrove sebagai pelindung alam yang vital bagi masa depan lingkungan hidup Indonesia.

Komentar