Minggu, 07 Juni 2026 | 19:52
COMMUNITY

Bumi, Adalah Ibu yang Memberikan Segalanya bagi Kehidupan Kita

Bumi, Adalah Ibu yang Memberikan Segalanya bagi Kehidupan Kita
Nobar bersama di sekolah SMAN 26 Tebet (Dok Pepala)

ASKARA - Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun telah menyebabkan penyusutan drastis hutan tropis. Faktor utama penyebabnya adalah penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan pemukiman, kebakaran hutan, serta eksploitasi besar-besaran. Berdasarkan data Wikipedia, luas hutan alam asli Indonesia telah menyusut hingga 72%, sebuah angka yang sangat mengkhawatirkan.

Dalam acara nonton bareng (nobar) film dokumenter 17 Surat Cinta karya Dhandy Laksono, yang diselenggarakan oleh Alumni SMA Jakarta Bersatu (ASJB) berkolaborasi dengan IKAL SMAN 26, Davoice Radio, Komite SMAN 26, dan Pepala 26 pada Jumat, 29 November 2024 di Aula SMAN 26 Tebet, kerusakan hutan di Indonesia tergambar jelas. Realitas ini tidak dapat dipungkiri lagi.

Ketua Umum ASJB, RA Jeni Suryanti, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga hutan Indonesia, yang dikenal sebagai "paru-paru dunia" dan Zamrud Khatulistiwa. Menurutnya, hutan memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan iklim, mengurangi risiko banjir dan kekeringan, serta mencegah erosi. "Kami sangat concern terhadap isu lingkungan. Oleh karena itu, ASJB mengajak masyarakat, khususnya pelajar, untuk membangun kesadaran dan aksi nyata demi kelestarian hutan. Bumi adalah ibu yang memberikan segalanya bagi kehidupan kita," ujar Jeni.

Jeni juga mengapresiasi dukungan SMAN 26, Komite, IKAL, Pepala, dan Davoice Radio dalam menyukseskan acara ini, yang melibatkan siswa kelas X dan XI sebagai generasi penerus bangsa. Ia juga berterima kasih kepada Happy Farida Djarot, anggota Komite II DPD RI, yang turut hadir memberikan semangat untuk merawat sumber daya alam.

Herawan Setyadi, Ketua IKAL SMAN 26, menjelaskan bahwa acara ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia. Ia menilai film dokumenter hasil kerja sama Ekspedisi Indonesia Baru dengan organisasi lingkungan seperti Auriga Nusantara, Forest Watch Indonesia, Greenpeace, dan Yayasan HAKA, sangat edukatif. "Ke depan, kami juga akan mengadakan acara jalan santai di Ecopark Tebet pada 11 Januari 2025. Acara ini terbuka untuk seluruh alumni beserta keluarga," tambah Herawan.

Diskusi yang digelar usai nobar oleh Pepala SMAN 26 mendapat antusiasme besar dari siswa, relawan, dan komunitas pecinta alam. Ketua Pepala, Arief Hefix, menekankan pentingnya aksi nyata untuk menjaga alam. "Film 17 Surat Cinta menggambarkan perjuangan masyarakat sipil melalui 17 surat kepada otoritas terkait, terutama Kementerian Kehutanan RI. Film ini menginspirasi kami untuk terus menjaga lingkungan dengan langkah sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan," ujar Arief.

Deforestasi yang ditampilkan dalam film menunjukkan betapa sistematisnya penebangan liar, jual beli lahan hutan, dan pembukaan perkebunan sawit ilegal. Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa dilindungi seperti orangutan, gajah, dan harimau, seperti di SM Rawa Singkil.

Nobar 17 Surat Cinta mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Kegiatan ini menginspirasi siswa, guru, alumni, komunitas pecinta alam, dan masyarakat untuk berkontribusi nyata. Pohon yang kita tanam hari ini akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.

Selamat Hari Menanam Pohon Indonesia!

Artikel oleh A Teguh Ruswono

 

 

Komentar