Minggu, 07 Juni 2026 | 19:05
COMMUNITY

Yayasan Gemilang Sehat Indonesia Dorong Pendidikan yang Inklusif

Yayasan Gemilang Sehat Indonesia Dorong Pendidikan yang Inklusif
Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) di ICSED 2024 (Dok YGSI)

ASKARA — Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) dengan bangga mengumumkan partisipasinya dalam International Conference on Special Education and Diversity (ICSED) yang pertama, diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, pada Kamis (7/11). Konferensi ini mengangkat tema “Promoting Inclusivity in Sexual and Reproductive Health Education for Children with Special Needs” dan bertujuan untuk membahas solusi serta praktik terbaik dalam pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual yang inklusif bagi anak-anak dengan disabilitas.

Keterlibatan YGSI di ICSED 2024 menegaskan komitmennya dalam memberikan akses setara terhadap Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) bagi setiap individu, termasuk penyandang disabilitas penglihatan, pendengaran, dan intelektual. Inisiatif ini selaras dengan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD), yang telah diratifikasi Indonesia melalui Undang-Undang No.19 Tahun 2011, yang menekankan aksesibilitas informasi kesehatan tanpa diskriminasi.

Ely Sawitri, Direktur YGSI, menyampaikan, “Kami yakin pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang inklusif adalah hak dasar bagi semua individu, termasuk penyandang disabilitas. Partisipasi kami di ICSED 2024 adalah langkah nyata dalam memperluas implementasi program PKRS untuk dapat diakses secara setara di berbagai lembaga pendidikan.”

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat lebih dari 30 juta penyandang disabilitas di Indonesia, yang sering menghadapi kendala dalam mengakses informasi kesehatan. Menyadari tantangan ini, YGSI telah mengimplementasikan PKRS di tujuh Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menjangkau 164 mahasiswa, 73 siswa, 35 guru mitra, dan 29 orang tua.

YGSI juga telah mengembangkan materi pengetahuan dan modul yang ramah disabilitas, termasuk video edukasi berjudul “Disa, Bili, dan Tasnya” dalam empat topik, serta Buku Panduan Guru dan Modul Guru-Orang Tua untuk siswa disabilitas intelektual, tunanetra, dan tunarungu.

Kolaborasi YGSI dengan UPI juga menghasilkan buku "Mengelola Perkuliahan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) untuk Kampus yang Memiliki Jurusan Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus," memperkuat integrasi PKRS di UPI. Endang Rochyadi dari UPI menyatakan, “Kami bangga dapat bekerja sama dengan YGSI dalam mengintegrasikan PKRS dalam kurikulum UPI, yang berkontribusi pada pemahaman lebih mendalam mahasiswa tentang kesehatan reproduksi penyandang disabilitas.”

Praptono dari Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan mendukung penuh integrasi PKRS ke dalam kurikulum untuk memastikan anak muda berkebutuhan khusus mendapatkan informasi dan pemahaman yang memadai untuk kehidupan yang sehat dan aman.

Dengan berpartisipasi di ICSED 2024, YGSI berharap dapat memperluas kolaborasi dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk mengadopsi PKRS dalam kurikulum pendidikan. Joana Lamptey dari Rutgers Netherlands menambahkan bahwa kolaborasi ini mencerminkan komitmen global untuk menciptakan solusi pendidikan yang inovatif dan inklusif bagi penyandang disabilitas.


 

Komentar