Dua Kardinal Indonesia Berpotensi Dipilih Menjadi Paus
ASKARA - Paus Fransiskus mengumumkan akan mengadakan Konsistori untuk penunjukan 21 kardinal baru pada 8 Desember 2024, bertepatan dengan Pesta Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda di Vatikan. Salah satu yang akan ditunjuk adalah Uskup Keuskupan Bogor, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM, yang akan menjadi kardinal keempat Indonesia. Pengumuman ini semakin memperkuat posisi Gereja Katolik Indonesia di dunia internasional.
Indonesia kini memiliki tiga kardinal, dan dua di antaranya, Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo (74 tahun) dan Mgr Paskalis Bruno Syukur (62 tahun), berusia di bawah 80 tahun. Ini memenuhi syarat mereka sebagai cardinal electors, yaitu kardinal yang dapat memilih dan dipilih dalam konklaf untuk menentukan paus baru. Dengan usia yang masih produktif, keduanya memiliki peluang untuk terlibat dalam proses pemilihan atau bahkan dipilih menjadi Paus dalam situasi konklaf mendatang.
Kardinal pertama Indonesia, Justinus Darmojuwono, diangkat oleh Paus Paulus VI pada tahun 1967. Sejak itu, peran Indonesia di Vatikan semakin signifikan. Julius Riyadi Darmaatmadja SJ, kardinal kedua dari Indonesia, diangkat pada tahun 1994, namun saat ini sudah berusia 90 tahun dan tidak lagi menjadi cardinal elector.
Dengan pengangkatan Mgr Paskalis Bruno Syukur sebagai kardinal, Indonesia akan semakin kuat di arena Gereja Katolik internasional. Pemimpin baru ini tidak hanya akan bertugas sebagai penasihat dekat Paus, tetapi juga memiliki peluang untuk mempengaruhi masa depan Gereja di seluruh dunia.
Konsistori ini akan berlangsung sebelum pembukaan Jubilee Harapan 2025 dan setelah Sesi Kedua Sinode Sinodalitas. Penunjukan kardinal baru dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, mempertegas komitmen Paus Fransiskus terhadap universalitas Gereja dan mengurangi sentralisasi Eropa dalam hierarki Gereja Katolik.

Komentar