Selasa, 16 Juli 2024 | 14:09
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri Gruduk Refly Harun, Kita Butuh Pemimpin Ber Akhlak

Prof. Rokhmin Dahuri Gruduk Refly Harun, Kita Butuh Pemimpin Ber Akhlak
Prof. Rokhmin Dahuri (kanan) bersama Refli Harun pada program Gruduk RH (ist)

ASKARA - Jika kita ingin maju dan makmur pemimpinnya harus baik dan rakyat nya pun harus baik. Sedangkan pemimpin yang baik punya akhlak. Kemudian dia punya kapabilitas duniawi, sains, teknologi, manajemen.

Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS dalam acara Gruduk RH: Ini Nih Bandit-Bandit Ekonominya di YouTube Podcast Refly Harun Channel, dikutip Ahad (16/6).

"Dan ketiga punya dimensi keimanan bahwa hidup itu tidak hanya di dunia juga abadan abadan itu di akhirat," ujarnya.

Prof. Rokhmin Dahuri yang terpilih sebagai anggota DPR RI Dapil Jabar 8 itu menginginkan negara dan bangsa ini bisa maju dan makmur. "Karena kebetulan saya terlahir dari keluarga nelayan dan ayah saya buta huruf," ungkap pria kelahiran Cirebon, 16 November 1958.

Lalu, ia memaparkan bahwa pemimpin yang baik itu jika pertumbuhan ekonomi diatas 7 persen. "Faktanya pada era Pemerintahan Jokowi pertumbuhan ekonomi rata-rata hanya 5 persen," tuturnya.

Kemudian sifat pertumbuhan kurang berkualitas, karena setiap 1 persen pertumbuhan hanya bisa menyerap 200 ribu tenaga kerja. "Sedangkan pada zaman Pak Harto sampai Ibu Mega bisa menyerap 400 ribu tenaga kerja, karena real ekonomi seperti perikanan, pertanian, manufakturing. Sedangkan zaman Jokowi banyaknya sektor jasa," ungkapnya.

Kedua, sifat pertumbuhan ekonomi nya berkualitas, bisa menyerap tenaga kerja. Ketiga inklusif, kue pertumbuhan ekonominya jangan hanya dinikmati sekelompok orang, tapi juga dinikmati seluruh rakyat Indonesia.

"Hanya saja kita jangan seperti komunis sama rasa sama rata. Tapi distribusi nya berdasarkan keadilan," ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu.

Terakhir, lanjutnya, sifat pertumbuhan ekonomi nya harus ramah lingkungan. Ditambah kedaulatan pangan dan energi. Lalu daya saing (kompetitif).

"Sayangnya tujuh indikator kinerja utama ini sangat jeblok," tandas Prof.Rokhmin Dahuri.

Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan fakta kemiskinan di Indonesia. Selama 6 bulan turun kampanye dari Cirebon Timur sampai Indramayu Barat, statistik 45 persen rumah yang berada di Kabupaten Cirebon, Indramayu dihuni oleh 2 keluarga lebih. Artinya, anak itu menikah, tidak punya pekerjaan, atau gajinya kecil sekali.

Dari data Oxfam tahun 2023, 1 persen orang terkaya Indonesia sama dengan 50 persen kekayaan negara Indonesia. Sedangkan 4 orang kaya di Indonesia sama dengan 40 persen  penduduk Indonesia. Karena kesenjangan yang melebar dan pertumbuhan yang rendah yang seharusnya minimal 7 persen hanya 5 persen, kemudian sifat pertumbuhan tidak berkualitas maka kemiskinan menjadi masif dan ketimpangan kaya-miskin kita terburuk ketiga di dunia.

“Pada periode pertama kepemerintahan Jokowi hanya mampu tumbuh rata-rata 5%. Namun, karena Covid-19 menjadi minus 2,7% dan tahun lalu hanya 3,69%. Parahnya, Indonesia juga menduduki peringkat ke-3 sebagai negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi (terburuk) di dunia. Di mana 1% (satu persen) penduduk terkayanya memiliki total kekayaan sama dengan 50% total kekayaan negara,” jelasnya.

Maka, sambungnya, jika  berbicara kemiskinan menurut versi BPS setelah covid rakyat yang miskin masih 9,4 persen, atau 26,5 juta orang. Tapi garis kemiskinannya sangat rendah sekali, menurut versi BPS hanya 580 ribu per orang/bulan.

Padahal BPS menyebut garis kemiskinan sejumlah uang yang cukup bagi seorang memenuhi 5 kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan) dalam sebulan. Maka orang Indonesia yang miskin itu masih 100 juta orang atau 36%, dan disitulah sebagian besar buruh, petani dan nelayan

“Yang realistis dan tidak munafik, garis kemiskinan menurut standar Bank Dunia 3,2 dolar per orang/hari, hanya 580 ribu per orang/bulan, cukup apa?,” terang Prof. Rokhmin Dahuri.

Menurut kriteria Bank Dunia dan IMF, jelasnya, bahwa dikatakan sebagai Negara maju dan makmur pendapatan per kapitanya minimal 13.800 dolar AS. Sementara pendapatan perkapita Negara Indonesia masih sebagai negara berpendapatan menengah (middle-incomecountry), yaitu masih 4.580 dollar per orang/kapita.

“Padahal, persyaratan minimal untuk sebuah Negara bisa dinobatkan sebagai negara maju dan makmur kalau GNI (Gross National Income) perkapitanya 13.800 dolar AS.  Dibandingkan dengan Thailand sudah 7000, Malaysia sudah hampir 12.000, Singapura 70.000 perkapita per orang. Masih jauh panggang dari api, minimal 13.800 kita 4580 dollar,” tandas Wakil Ketua Dewan Pakar Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) ini.

Indikator lain, sambungnya, soal gizi dan pangan. Penelitian Kompas berdasarkan data kriteria FAO dan WHO untuk Indonesia harga makanan perhari yang memenuhi syarat gizi berimbang itu 22.200. Rupiah. Sementara orang yang tidak mampu di Indonesia ada 60 persen, karena ada 187 juta rakyat Indonesia yang tidak mempunya uang sebanyak itu.

Mirisnya, kata Prof. Rokhmin Dahuri, sumber daya manusia Indonesia kualitasnya parah. Karena makanannyan banyak karbonhidrat, literasi kita pun terburuk kedua di dunia, hanya menang dari Negara Boswana. Hal ini, menurutnya, menjadi paradok karena ayat suci Alquran mengajarkan untuk membaca (Iqra).

Terbukti dari hasil penelitian Monash University, 2014, terangnya, ternyata sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, umat Islam yang melaksanakan shalat fardhu hanya sekitar 25 persen. Sebagian besar mengerjakan amal saleh hanya untuk diri sendiri atau keluarganya.

"Jangan-jangan yang khusu hanya 5 persen. Padahal shalat yang berefek pada kebajikan adalah shalat yang khusu untuk mencegah kemungkaran itu syaratnya shalatnya khusu. Hal itu menjadi masalah kebobrokan hukum karena orang tidak percaya dunia dan akhirat," tandasnya.

Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan, Negara Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Padahal kita memenuhi segala syarat menjadi negara yang makmur. Karena kita merupakan satu-satunya negara yang punya 4 potensi pembangunan yang lengkap.

Pertama, dari segi jumlah penduduk terbesar keempat dunia, sebanyak 278,4 juta orang. Artinya, dengan jumlah kelas menengah yang terus bertambah dan dapat bonus demografdi dari 2020 – 2040,  merupakan potensi daya saing dan pasar domestik yang luar biasa besar melalui kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) baik di darat maupun di laut.

Dijelaskan bahwa posisi geoekonomi dan geopolitik yang sangat strategis, dimana 45% dari seluruh komoditas dan produk dengan nilai 15 trilyun dolar AS/tahun dikapalkan melalui ALKI (Alur Laut Kepulaun Indonesia) (UNCTAD, 2012). Selat Malaka (ALKI-1) merupakan jalur transportasi laut terpadat di dunia, 200 kapal/hari.

Kemudian, rawan bencana alam (70% gunung berapi dunia, tsunami, dan hidrometri). “Mestinya sebagai tantangan yang membentuk etos kerja unggul (inovatif, kreatif, dan entrepreneur) dan akhlak mulia bangsa,” terang Prof. Rokhmin Dahuri yang mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto sebagai dosen teladan di seluruh Indonesia.

Maka, Prof. Rokhmin Dahrui menegaskan, jika kita ingin Indonesia menjadi negara maju, jika ingin menjadi Presiden, Menteri dan Kepala Daerah harus siap seluruh keluarganya hidupnya sedang-sedang saja. “Kalau mau kaya raya silahkan saja menjadi entrepreneurship jangan jadi pejabat publik,” tegas ujar Dosen Kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu.

Komentar