Selasa, 16 Juli 2024 | 12:45
Ruang Menulis

Festival Lampion Borobudur, Potret Toleransi dan Kerukunan Hidup Beragama

Festival Lampion Borobudur, Potret Toleransi dan Kerukunan Hidup Beragama
Puncak perayaan hari Raya Waisak 2568 Buddhis Era (BE) tahun 2024 yang berlangsung di Candi Borobudur (Dok Graece)

ASKARA - Puncak perayaan hari Raya Waisak 2568 Buddhis Era (BE) tahun 2024 yang berlangsung di Candi Borobudur telah usai. Namun kesan yang begitu mendalam bagi semua yang mengikuti rangkaian perayaan ini menjadi tak terlupakan. 

Festival lampion yang menjadi puncak peringatan Waisak 2024, mampu menjadi penanda  toleransi dan kerukunan antar-umat beragama bukan saja di kawasan Candi Borobudur.

Kegiatan yang hanya setahun sekali selalu dinanti bukan saja oleh umat Budha tapi berbagai keyakinan dan seluruh  masyarakat umum yang ingin ikut menjadi bagian dari kegiatan ini.

Potret toleransi dan kerukunan beragama dari masyarakat

Prosesi pelepasan lampion diawali dengan melakukan sesi meditasi terlebih dahulu dibimbing oleh Bhikkhu Sangha.Dalam pemantauan penulis suasana magis,syahdu,hening sangat dirasakan saat sesi meditasi berlangsung.

Selanjutnya dalam keterangan dari panitia,Lampion yang dilepaskan terbuat dari bahan yang ramah lingkungan dan akan terurai habis seluruh bahannya setelah melayang di udara sehingga tidak menimbulkan limbah apa pun di lingkungan.

Tahun ini terdapat dua sesi pelepasan lampion untuk mengakomodasi tingginya minat masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam pelepasan lampion.

Menerbangkan lampion yang berisi doa dan harapan kita berarti menerbangkan harapan - harapan kita agar dapat terbang tinggi dan menjadi simbol bahwa cahaya sekecil apapun dapat selalu bersinar di langit yang gelap.

Tetaplah bercahaya meskipun gelap disekelilingmu dan teruslah dirimu  menjadi cahaya.

Sampai jumpa di Perayaan Waisak tahun 2025.Semoga semua makhluk dan manusia berbahagia.

 

Komentar