Senin, 17 Juni 2024 | 21:21
NEWS

Sambut Hari Kebangkitan Nasional, Prof. Rokhmin Dahuri: Insya Allah Kita Bisa Bangkit Menuju Indonesia Emas 2045

Sambut Hari Kebangkitan Nasional, Prof. Rokhmin Dahuri: Insya Allah Kita Bisa Bangkit Menuju Indonesia Emas 2045
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS

ASKARA – Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei untuk mengenang berdirinya organisasi Budo Utomi pada tahun 1908 oleh Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA. Budi Utomo adalah organisasi pertama yang fokus pada pendidikan dan kesadaran nasional di kalangan rakyat Indonesia.

“Hari ini menandai awal kebangkitan semangat nasionalisme yang berperan penting dalam perjuangan menuju kemedekaan Indonesia dan penjajahan Belanda,” ujar ketua DPP PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, dalam keterangannya, Senin (20/5).

Ia menegaskan, pentingnya memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dan posisi strategis Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara maju.

Potensi yang dibicarakan adalah terkait besarnya jumlah penduduk ditambah Indonesia telah memasuki era bonus demografi. Dengan bonus demografi, Prof. Rokhmin Dahuri mengusulkan hilirisasi industri, modernisasi pertanian, dan pengembangan sektor jasa.

Selain itu, lanjutnya, negara juga memiliki kekayaan sumber daya alam, dan posisi geoekonomi serta geopolitik Indonesia berada di letak yang strategis. “Sayangnya negara belum dapat memanfaatkannya dengan baik dan masih berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah,” sebut Menteri Kelautan dan Perikanan-RI 2001 – 2004 itu.

Berbagai masalah seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial menjadi tantangan dalam membangun Indonesia. Menurut  Prof. Rokhmin Dahuri, salah satu penyebab ketertinggalan Indonesia adalah karena belum adanya roadmap pembangunan nasional yang komprehensif, tepat, dan benar.

Untuk dapat menjadi negara maju, Anggota DPR RI terpilih Dapil 8 Jabar dari PDIP tersebut menyatakan bahwa Indonesia dapat mengembangkan bidang kelautan sebagai keunggulan komparatifnya.

Ke depan, kebijakan dan program pembangunan kelautan (maritim) harus dirancang dan diimplementasikan dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai PMD (poros Maritim Dunia) pada 2030 atau paling lambat 2045.

Maka, tujuh kebijakan pembangunan mesti dikerjakan secara berkesinambungan, antara lain: Pertama, penegakan kedaulatan NKRI. Kedua, pembangunan ekonomi kelautan. Ketiga, pembangunan infrastruktur dan konektivitas.

Keempat, memelihara kelestarian SDA dan lingkungan. Kelima, pengembangan kapasitas SDM dan IPTEK. Keenam, peningkatan budaya maritime. Ketujuh, kebijakan politik-ekonomi seperti moneter, fiskal, RTRW, iklim investasi, dan Ease of Doing Business yang kondusif.

Reformasi Pendidikan

Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, perlu melakukan peningkatan kualitas SDM melalui reformasi pendidikan untuk memastikan keuntungan dinikmati rakyat Indonesia.

Namun, saat ini sistem pendidikan dinilai terlalu banyak teori sehingga lulusan tidak berkompeten untuk langsung bekerja. “Dalam jangka panjang harus ada program link and match pendidikan dengan kebutuhan tenaga ahli,” katanya.

Reformasi pendidikan tersebut, paparnya, melalui penyusunan kurikulum dan materi pendidikan yang mengedepankan moral generasi muda. “Di jenjang SD, materi yang diberikan meliputi 80 persen masalah akhlak, budi pekerti dan moral, sedangkan 20 persen sains, pengetahuan umum dan logical thinking,” tutur Prof. Rokhmin Dahuri.

Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020-2024 itu mengatakan bahwa untuk menciptakan SDM yang berdaya saing harus menguasai sains dan teknologi. Selain itu, SDM yang berdaya saing juga harus memiliki karakter dan bermoral.

Maka, Pemerintah berkewajiban menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang (Pasal 31 ayat 3, Amandemen UUD 1945).

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik.

“Tujuannya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional),” terangnya.

Wujudkan Indonesia Emas 2045

Ketua Umum GANTI (Gerakan Nelayan Tani Indonesia) tersebut menyampaikan, Indonesia sebagai bagian tatanan masyarakat global tentu memiliki visi dan misi membawa negara mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Untuk mewujudkan itu, kata Prof Rokhmin, bahwa 4 poin penting yang diyakini bisa membuat Indonesia  maju dan berdaulat diantaranya: negara itu memiliki konsep, sustainable, kolaborasi dan kualitas SDM.

Sedangkan syarat suatu negara atau daulah bisa menjadi maju dan makmur dan berdaulat mempunyai konsep yang berkelanjutan, dan konsep itu harus diimplementasikan secara berkesinambungan.

“Nah problemanya karena di masa reformasi ini, bahasanya setiap ganti presiden ganti menteri ganti Bupati itu berubah. Ibarat membangun istana pasir, tak ada progres itu mungkin atau kelemahan dari reformasi,” ucapnya.

Kemudian syarat kedua, sambungnya,adalah bahwa antar komponen wilayah harus ada kolaborasi.Kemudian yang ketiga adalah kualitas sumber daya manusianya.

“Insya Allah dengan ini bangsa kita akan bangkit (Indonesia Emas 2045),” imbuh Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan itu.

Komentar