Jadikan Kenyataan Bukan Sekadar Angan-Angan, Merayakan Setiap Perjalanan bersama Rifqi Prabaswara
Oleh: Gracia Zephaniah
Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University
ASKARA - Hidup ini dipenuhi dengan beragam pilihan yang harus kita hadapi setiap harinya. Pilihan ini nantinya akan mengarahkan kita ke hal-hal lain yang menunggu agar kita datang menjemputnya. Setiap bagian dari impian kita juga merupakan hasil dari sebuah pilihan, karena mimpi itu hanya akan menjadi mimpi apabila kita tidak mewujudkannya. Nampaknya mimpi ini tidak hanya berenang di kepala lagi, namun mulai terealisasi karena ia berani. Sosok yang memegang peran penting dalam narasi ini adalah Rifqi Prabaswara, seorang pemuda yang berani menentukan pilihannya dan memperjuangkannya.
Rifqi Prabaswara yang akrab dipanggil Kibas, merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Lahir dan dibesarkan di Bogor menjadikan Rifqi akrab sekali dengan kota yang dijuluki “Kota Hujan” ini. Kelahirannya pada tanggal 15 Juni 2000 menandai awal dari perjalanan hidupnya menjadi pemuda yang aktif dan berprestasi. Dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan, Rifqi mengakui bahwa terkadang ia bisa merasa canggung ketika bertemu dengan orang baru. Namun terlepas dari itu, ia sebenarnya senang untuk mengobrol dan bertukar pikiran dengan orang lain. Bijak menjadi pemimpin juga terlihat dalam pengalamannya sejauh ini dalam mengatasi persoalan dan tantangan di hidupnya.
Masa kecil Rifqi rupanya bercita-cita ingin menjadi seorang arsitek. Namun, seperti halnya anak-anak pada umumnya, ketika ditanya tentang cita-citanya, kadang mereka hanya melihat apa yang diketahuinya atau yang disukainya saja, tanpa mempertimbangkan aspek lainnya. Hingga akhirnya pertanyaan ini dijawab dengan jawaban yang berbeda ketika Rifqi mengakhiri bangku pendidikan SMA. Sedari kecil rupanya Rifqi dibebaskan untuk menentukan pilihannya. Pola asuh yang diterapkan kepadanya berupa arahan baik dan penuh pertimbangan, bukan sekadar tuntutan. Sebagai anak bungsu, pada umumnya ada harapan besar yang diletakkan padanya oleh keluarga. Hal ini juga dirasakannya, terutama dalam mengejar kesuksesan seperti kakaknya yang telah berhasil masuk Universitas Indonesia. Terinspirasi akan hal itu, Rifqi membuktikan ketekunan dan kemampuannya dengan berhasil mempertahankan peringkat di lima besar sepanjang SMP-SMA. Kebimbangan dalam menentukan pilihan kampus ternyata juga dirasakan olehnya karena permintaan orang tua yang mengharapkannya untuk mencari kampus yang dekat saja. Melihat kedua kakaknya yang bergelut di bidang teknik dan manajemen, awalnya menimbulkan ketertarikan baginya untuk mengikuti jejak kakaknya yang pertama di bidang teknik. Namun karena ternyata belum berhasil lolos di salah satu jurusan teknik, Rifqi memutuskan untuk mengambil jurusan dengan jalur hobi di bidang multimedia. Hingga akhirnya pilihan terakhirnya tertuju kepada Sekolah Vokasi IPB dengan jurusan Komunikasi pada kala itu. Pilihan ini dirasa akan cocok dengan dirinya yang sudah tertarik dengan dunia multimedia.
Dari awalnya berkeinginan menjadi seorang arsitek hingga beralih minat menjadi dunia agensi kreatif, nampak terasa sekali perbedaannya. Perbedaan umur yang terpaut cukup jauh sekitar 10 tahun dengan kakak laki-laki yang pertama membuat Rifqi semasa kecilnya tertarik akan hobi menyenangkan yang dilakukan kakaknya ketika bekerja, seperti travelling and photography. Diketahui juga bahwa sejak ia kecil, kakaknya turut mengenalkan kepadanya bagaimana cara untuk memotret dan mengoperasikan kamera dengan baik. Hingga akhirnya kakaknya memberikan sebuah kamera digital berukuran kecil kepadanya untuk bisa dicoba dan dipakai.
Melanjutkan pendidikan di SMPN 7 Kota Bogor, Rifqi tergabung dalam salah satu ekstrakurikuler di sekolahnya, yaitu ekskul pramuka. Diketahui bahwa ekskul pramuka di SMP-nya ini cukup dikenal aktif dan terpandang pada masanya, sehingga terdapat banyak program kerja dan aktivitas yang terlaksana dengan baik. Mulai dari sini, ia terpantau sudah aktif tergabung menjadi bagian dari bidang dokumentasi selama tiga tahun masa SMP-nya.
Masuk ke jenjang pendidikan SMA, ia masuk ke SMAN 9 Kota Bogor. Ada sedikit hal menarik terjadi disini, karena rupanya ia sempat ditarik dan disuruh oleh banyak orang termasuk guru-guru untuk mengikuti ekstrakurikuler paskibra melihat latar belakangnya sebelumnya yang dirasa selinear dimana dulu dia aktif selama 3 tahun di ekskul pramuka. Setelah berjalan setahun dan memenangkan perlombaan di ekskul paskibra, ia memutuskan untuk berhenti dan bergabung ke ekskul fotografi. Diketahui ternyata peminat ekskul fotografi pada kala itu sangat sepi sekali hingga sedikit merasa terkendala ketika ingin menjalankan program kerja. Mengusulkan beberapa ide dan gagasan akhirnya menjadikannya sebagai seorang Wakil Ketua. Setelah itu ternyata peminat ekskul fotografi ini mengalami peningkatan, yang tadinya hanya beranggotakan sekitar 15 orang bertambah menjadi sekitar 90an orang. Dengan banyaknya anggota di dalam ekskul ini akhirnya beberapa proker yang tadinya tidak ada bisa menjadi mampu terlaksana dengan baik, seperti melakukan hunting bersama-sama dan mengadakan workshop. Disini mereka belajar dan bertumbuh bersama-sama mengenai dunia fotografi. Mereka juga mengundang alumni sekolahnya yang sudah profesional dalam bidang fotografi dan menjadikan alumni tersebut sebagai pembicara.
Dalam perjalanannya di akhir SMA, diketahui bahwa Rifqi sempat mengikuti salah satu komunitas yaitu @igersbogor di instagram dan menginspirasinya dalam menekuni bidang fotografi ini. Awalnya, ia mengetahui tentang komunitas ini dari seorang teman di Instagram, dan akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Hal yang menarik adalah saat pertemuan untuk melakukan hunting foto bersama, di mana ternyata ia adalah anggota termuda di antara semua peserta. Namun, kehangatan dan keramahan dari seluruh anggota membuatnya merasa nyaman dan diterima dengan baik. Dampak positif dari bergabung dengan komunitas ini sangat terasa dalam perjalanan kariernya di bidang fotografi dan videografi hingga saat ini.
Tiba di dunia perkuliahan nampaknya Rifqi sudah semakin memantapkan diri untuk fokus terhadap bidang fotografi dan multimedia. Hal ini terlihat dari setiap tugas kelompok yang kerap kali ia kaitkan dengan bidang fotografi. Hobi ini juga nampaknya semakin lama dirasa semakin menguntungkan, misalnya ketika waktu itu Rifqi mengikuti lomba fotografi dengan harapan ia bisa memenangkan lomba berhadiah handphone iPhone 6 pada tahun 2018, namun ternyata saat sampai di tempat dan hendak mencari objek yang menarik untuk difoto ia menyadari bahwa ia lupa untuk charge dua baterai kamera yang dibawa. Bermodalkan skills dan tekad, ia berusaha sebaik mungkin untuk memanfaatkan handphone keluaran China yang dimilikinya pada saat itu. Tentunya pressure itu dirasakannya, ketika melihat semua orang disekitarnya memotret menggunakan jenis kamera yang beragam dan terlihat profesional dibandingkan dirinya yang terkesan seadanya. Namun pada saat pengumuman pemenang tiba, ternyata disebutkan bahwa Rifqi adalah pemenangnya. Pengalaman tersebut kembali menambah makna dalam prosesnya, yakni terkadang bukan tentang seberapa mahal barang yang kita miliki tetapi seberapa maksimal kita dalam mengoptimalkan apa yang kita punya sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang dikira tidak mungkin hanya karena alat yang kurang profesional. Selanjutnya ada mata kuliah Event Organizer, ia tergerak untuk mengikuti lomba bersama dengan keempat teman lainnya, yaitu Ihza, Haviz, Fauzi, dan Aziz agar tidak perlu repot mencari target untuk membuka rekening karena sebenarnya pada saat itu mereka sudah mendapatkan partnership atau sponsor dari bank. Bahkan hasil hadiahnya itu dapat menutupi dana dan digunakan untuk membayar denda dari partnership itu tadi. Bersepakat untuk mencoba mengikuti lomba short movie dan melakukan kerja sama yang apik menghasilkan buah yang manis pula, karena akhirnya mereka berhasil memenangkan perlombaan tersebut dan membagi hasilnya sesuai dengan apa yang direncanakan.
Pada saat kuliah Rifqi juga pernah mendapat tawaran oleh salah satu dosen untuk melakukan project dalam melakukan branding Sekolah Vokasi IPB. Project ini tidak dapat dilakukan oleh dirinya seorang diri, akhirnya ia bertanya kepada rekan-rekan yang membersamainya pada saat lomba kemarin dan mereka menyetujuinya. Project ini merupakan awal dari adanya Moolai.co dengan nama Rifqi, Ihza, Haviz, Fauzi, dan Aziz selaku founder. Lalu saat magang rupanya Rifqi, Ihza, dan Haviz berada di tempat yang sama yaitu Es Teh Indonesia. Disana mereka magang sesuai dengan hobi mereka yang tidak jauh dari dunia fotografi dan videografi. Dari sana akhirnya mereka mendiskusikan ulang mengenai kelanjutan dari bisnis di bidang jasa yang sudah mereka mulai ini, hingga akhirnya mereka sepakat untuk bersama-sama melanjutkan dan membesarkan nama dari Moolai.co ini. Moolai.co akhirnya dilanjutkan bersama dengan Ihza dan Haviz, karena ternyata Fauzi dan Aziz memiliki jalan yang berbeda.
Rifqi melihat adanya peluang tambahan dalam bidang fotografi dan videografi ini yaitu dalam aspek wedding. Dengan bantuan dari beberapa orang di dalam komunitas yang ia ikuti sebelumnya, ia mencoba untuk bertanya dan belajar dari mereka. Hal itu ia manfaatkan dengan sebaik mungkin hingga akhirnya ia membuka jasa wedding photography and videography miliknya sendiri, yang ia namai dengan Arrival Stories. Setelah itu ia juga mampu melihat peluang sebagai alumni, yakni dengan membuka jasa foto graduation bagi mahasiswa/i yang akan lulus dari proses kuliahnya dan ia namai dengan En.Journee. Bercermin dari banyak hal dan peluang turut memiliki kontribusi penting baginya dalam menjalani lika-liku kehidupan ini.
Titik terendah pernah dialami ketika Rifqi pertama kali freelance bersama dengan salah satu vendor ternama menjadi seorang videografer. Selepas acara pernikahan selesai dan hendak mengecek isi dari file yang ia miliki, ternyata file-file yang telah ia rekam tidak dapat terbaca isinya. Pada saat kejadian ini tentunya pikiran sudah berkecamuk dan ketakutan akan berbagai kemungkinan buruk melanda pikirannya. Ia sampai berpikir bahwa ini merupakan akhir dari kariernya, karena mungkin namanya sudah masuk daftar hitam banyak perusahaan atau agensi. Untungnya pada saat itu ada satu orang lainnya yang juga mengambil dokumentasi dalam bentuk video sehingga klien tidak kehilangan seluruh momennya. Pada akhirnya pengalaman ini memberikan pelajaran yang berharga baginya untuk lebih berhati-hati dan belajar dalam mengelola data serta memilih memori agar hal ini tidak terulang lagi di kemudian hari.
Tahun kian berganti dan masalah ini ternyata terulang kembali beberapa bulan yang lalu. Namun kali ini bukan dirinya yang melakukan, melainkan salah satu editor di perusahaannya. Saat sedang melakukan proses editing, editor tersebut tanpa sengaja menjatuhkan hard disk yang berisi semua file dokumentasi. Kejadian ini menyebabkan seluruh data di dalamnya tidak dapat terbaca, sementara itu ada satu event yang datanya belum selesai diedit. Mencoba untuk lebih bijak dalam merespon hal tersebut, Rifqi memilih untuk fokus dengan mencari solusinya secara bersama-sama dibandingkan mengungkapkan amarah dan kekecewaannya. Solusi pun ditemukan dengan mencari instagram pihak lain yang berada di tempat itu juga, lalu memberanikan diri untuk mengirim pesan dan meminta bantuannya. Hingga akhirnya hasil editan bisa selesai berkat bantuan dan pengumpulan beberapa file dari berbagai sumber.
Bisnis dalam industri ini merupakan salah satu hal yang baru dan tentunya tantangan juga baginya, hingga saat ini perusahaannya sudah berkembang dengan tujuh orang di dalamnya dan kantor pribadi sebagai tempat mereka berdiskusi dan melakukan pekerjaannya. Rifqi menyadari bahwa perjalanannya sejauh ini merupakan sesuatu yang sangat ia syukuri, karena pada akhirnya ia merasa sangat menikmati dan mencintai bisnisnya ini. Pekerjaan yang dilakukan berdasarkan hobi ini merupakan kesempatan sekaligus perjalanan yang luar biasa baginya, terlebih lagi ia bisa mengatur jadwalnya sendiri tanpa terikat dengan waktu atau aturan yang ketat. Hal ini memberikan kepuasan yang tak ternilai baginya, karena ia bisa hidup sesuai dengan passion tanpa merasa terkekang oleh batasan-batasan yang ada. Bertemu dengan orang-orang hebat lainnya juga menjadi hal yang sangat disyukuri olehnya dalam menggeluti pekerjaan ini.
Hambatan terbesar awalnya jelas ia rasakan dari segi alat. Terjun di dunia profesional, alat pun harusnya lebih mumpuni sehingga mampu menciptakan karya dengan kualitas terbaik. Menjadi anak bungsu rupanya tidak menjadikan Rifqi menjadi sosok yang tumbuh manja dan selalu dipenuhi kemauannya. Justru keterbalikannya, ia mampu untuk menabung dan membeli perlengkapannya dengan uangnya pribadi sejak duduk di bangku SMA. Mulai dari handphone yang merupakan hadiah lomba, namun ia memilih untuk menjualnya agar dapat membeli laptop hingga akhirnya laptop tersebut kini bisa membantunya untuk menghasilkan pendapatan. Lalu berani untuk menjual kamera dan upgrade ke yang lebih bagus sampai akhirnya sekarang sudah berada di titik mampu untuk membeli alat kamera dan laptop yang lebih mumpuni dari proses yang dilewatinya sendiri tanpa bantuan dari orang tua.
Dibalik perjuangannya sejauh ini masih banyak mimpi lain yang ingin ia raih. Rifqi juga berharap bahwa semua yang telah dilaluinya ini menjadi motivasi bagi siapapun pembacanya, terutama generasi muda untuk berani menentukan dan memperjuangkan setiap pilihan dalam hidupnya. Rifqi juga berpesan kepada seluruh pembaca untuk “Coba terus tekuni apa yang kamu suka disitu jalannya pasti kebuka, sejatinya orang ga akan sukses tanpa melewati proses. Percayalah dan nikmati prosesnya karena sesuatu atau pekerjaan yang ditekuni nantinya pasti akan membuahkan hasil yang manis pada akhirnya.”

Komentar