Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33
COMMUNITY

Bintang, Atlet Emas Muda Taekwondo Indonesia

Bintang, Atlet Emas Muda Taekwondo Indonesia
Bintang, atlet muda Taekwondo Indonesia (Dok Bintang)

Oleh: Nadila Nuranijiwa

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

ASKARA - Bintang Pramesti Mahaswari, seorang atlet muda taekwondo yang mempesona asal Bali, juga merupakan seorang mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta dengan jurusan Ilmu Keolahragaan. Perjalanan karirnya dimulai sejak SD pada tahun 2010 ketika orang tuanya, seorang pelatih taekwondo, mengajaknya ke tempat latihan. Keterlibatannya dalam dunia taekwondo bermula dari ketertarikannya yang timbul sejak kecil karena sifatnya yang aktif. Orang tuanya selalu mendukungnya dengan mengajaknya berlatih, mendorongnya untuk aktif dalam olahraga tersebut.

Motivasi Bintang untuk menjadi seorang atlet taekwondo dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya yang banyak terlibat dalam olahraga tersebut. Dukungan yang diberikan oleh orang tuanya sangat berarti baginya, dan hal itu mendorongnya untuk tetap konsisten dalam karirnya. Bintang merasa berhutang budi kepada orang tuanya dan ingin membalasnya dengan menjadi seorang atlet yang sukses melalui latihan rutin, mengikuti kompetisi, dan meraih kemenangan.

Bintang mengungkapkan, "Aku merasa takdirku berada dalam dunia taekwondo. Aku telah merasakan pengalaman mewakili kejuaraan di tingkat gugus, kabupaten, dan kecamatan, dan kini aku ingin lebih dari itu, yaitu mewakili provinsi. Itulah yang menjadi motivasiku dalam menekuni dunia taekwondo."

Awalnya, Bintang tidak menyadari bakatnya dalam taekwondo karena usianya yang masih muda. Namun, ayahnya, seorang pelatih taekwondo, melihat potensi di dalamnya. Bintang selalu menunjukkan minat dan kegembiraan saat berlatih taekwondo sejak kecil. Sebagai seorang atlet, Bintang menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Dia percaya bahwa semua atlet, tidak hanya di taekwondo, mengalami rintangan dalam karir mereka.

"Saya mengalami tantangan internal dan eksternal." ucapnya.

Salah satu tantangan internal baginya adalah merasa jenuh. Seperti manusia pada umumnya, Bintang juga merasa jenuh dengan latihan yang terus-menerus, dari pagi hingga malam.

"Rasa jenuh dan kelelahan menjadi tantangan bagi seorang atlet karena kita harus menjaga fisik dan mental kita," tambahnya.

"Kita harus siap menghadapi konsekuensi dari latihan yang berkelanjutan dan mengorbankan waktu bersama teman-teman," kata Bintang.

Seiring berjalannya waktu, tantangan yang dihadapi semakin besar. Cedera adalah salah satu hal yang paling ditakuti oleh setiap atlet, termasuk Bintang. Dia telah mengalami cedera ringan hingga parah beberapa kali. Salah satu pengalaman paling menantang baginya adalah ketika dia mengalami cedera serius sehari sebelum pertandingan dan harus menjalani operasi. Baginya, itu adalah tantangan terbesar dalam karirnya sebagai atlet taekwondo.  Meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan dan rintangan, Bintang tetap tidak menyerah dan berhasil melewati semuanya. Baginya, kunci untuk mengatasi hal tersebut adalah motivasi dan niat.

"Motivasi bisa berasal dari luar maupun dari dalam diri kita. Terkadang, omongan negatif dari orang lain bisa menjadi pemicu motivasi bagi saya," katanya.

Bintang semakin termotivasi untuk membuktikan bahwa omongan negatif tersebut tidak benar. Dukungan dari lingkungan pertemanan yang positif juga sangat penting bagi Bintang dalam menjaga semangatnya di masa sulit maupun senang. Untungnya, selama karirnya sebagai atlet taekwondo, Bintang selalu didukung oleh tim dan lingkungan yang positif.

Bintang juga mengambil langkah-langkah konkret untuk mencapai kesuksesan sebagai atlet muda, di antaranya adalah konsistensi dalam latihan. Baginya, kunci kesuksesan seorang atlet adalah konsistensi dalam berlatih. Oleh karena itu, seorang atlet harus bisa mengatur waktu untuk latihan, sekolah, istirahat, dan pola makan.

Sebagai mahasiswa, Bintang juga harus mampu mengatur waktu untuk menyeimbangkan pendidikan dan karir atletiknya. Setiap mahasiswa di jurusannya harus memilih cabang olahraga yang diminati, seperti Bintang yang memilih taekwondo. Untuk menjaga keseimbangan antara kuliah dan latihan taekwondo, Bintang memiliki jadwal latihan pagi dan sore, yaitu pagi pukul 06.00 dan sore pukul 16.00. Sehingga, Bintang selalu berlatih sebelum dan setelah kuliah untuk menjaga keseimbangan antara keduanya. Oleh karena itu, menurut Bintang pengaturan waktu sangatlah penting bagi seorang atlet.

Tokoh inspiratif dalam dunia taekwondo yang menjadi panutan bagi Bintang adalah Panipak Wongpattanakit, seorang atlet taekwondo wanita asal Thailand. Bintang mengagumi kemampuan taekwondo yang dimilikinya dan bercita-cita untuk menjadi seperti Panipak suatu hari nanti.

Selama hampir 10 tahun lebih menjalani karir sebagai atlet taekwondo, Bintang telah meraih banyak pengakuan dan penghargaan. Dia sering diakui sebagai atlet terbaik dalam berbagai kompetisi. Baru-baru ini, Bintang meraih medali emas di Porpov Bali, sebuah pencapaian besar baginya yang didorong oleh motivasi dan kerja keras. Prestasinya di Porprov Bali juga membuka pintu bagi Bintang untuk berkompetisi di Pekan Olahraga Nasional. Selain itu, Bintang juga telah berpartisipasi dalam banyak kompetisi tingkat nasional di berbagai kota seperti Surabaya, Bandung, Tangerang, dan masih banyak lagi.

Bintang mengakui bahwa semua pencapaian dan pengalaman berharga yang dia raih adalah hasil dari doa dan usahanya sendiri. Dia menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan dalam segala hal, karena menurutnya, usaha tanpa doa akan sia-sia dan berdoa tanpa usaha juga akan sia-sia. Bintang juga mengingatkan pentingnya menghargai doa dan restu dari orang tua, yang menurutnya sangat berharga.

Sebagai pesan akhir, Bintang memberikan nasihat berharga kepada calon atlet lainnya, yaitu untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Baginya, kesempatan tidak datang dua kali, sehingga penting untuk dimanfaatkan sebaik mungkin.

Komentar