Rabu, 17 Juni 2026 | 17:59
COMMUNITY

Ramadan yang Berkah, Terimakasih Muhammadiyah

Ramadan yang Berkah, Terimakasih Muhammadiyah
Ilustrasi Bulan Ramadan (Foto: IStockphoto)

ASKARA - Saya penganut Islam yang sejak kecil condong kepada Ormas Islam Nahdlatul Ulama. Berbagai amaliyah dan tradisi berislamnya sangat dekat dengan NU. Tidak aneh jika kemudian, saya pernah berturut-turut menjadi pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, Gerakan Pemuda Ansor, Lembaga Dakwah NU hatta Lazisnu PCNU Kabupaten Cirebon. NU juga sangat lekat dengan dakwah yang dikembangkan oleh para Walisongo. Membaur dengan masyarakat sesuai dengan kultur yang ada. Tahlilan, marhabanan, manaqiban, muludan, dan berbagai tradisi semacam ini begitu semarak di kalangan warga NU.

Terlebih di sepanjang bulan Ramadan. Berbagai tradisi masyarakat Desa sejurus dengan tradisi keagamaan NU. Namun, dalam tulisan harian Ramadan kali ini, izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada Muhammadiyah, salah satu Ormas Islam tertua di Indonesia yang diprakarsai oleh KH. Ahmad Dahlan. Seorang ulama Muhammadiyah yang juga seorang pahlawan nasional. Sebagai salah seorang warga NU dengan sikap keagamaan yang kerap dianggap tradisional, saya penasaran dengan kiprah Muhammadiyah yang justru diasosiasikan sebagai Ormas Islam modern dan pembaharu.

Terima kasih Muhammadiyah. Bermodalkan rasa penasaran, saya akhirnya mempelajari Muhammadiyah sebisa mungkin. Bahkan dalam penentuan 1 Ramadan, saya justru lebih sependapat dengan Muhammadiyah ketimbang dengan NU. Termasuk dalam penentuan 1 Syawal. Dengan metode hisab dengan pendekatan sains modern, Muhammadiyah konsisten mengimplementasikan keislaman yang maju dan kontekstual. Bagaimana kemudian berulang kali, penentuan 1 Ramadan sering kali berbeda dengan Kementerian Agama yang Menterinya nota bene dari NU. Berikut dulu pernah terjadi perbedaan dalam penentuan 1 Syawal di mana Pemerintah dalam hal ini Kemenag berbeda dengan Muhammadiyah. Padahal waktu itu, masyarakat telah merasa mantap bahwa besok akan Lebaran Idul Fitri, tetapi ternyata tidak. Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya mendapatkan semacam prank tingkat nasional.

Ramadan semakin berkah. Apalagi jika melihat berbagai inovasi dakwah dan manajemen Masjid yang dikelola oleh kader-kader Muhammadiyah. Sedikitnya saya akan menyebut 3 Masjid di sini. Masjid Jogokariyan di Jogja, Real Masjid juga di Jogja dan Masjid Al-Falah di Sragen. Di 3 Masjid ini penyambutan dan program-program Ramadan begitu menarik dan inovatif. Antusiasmenya dirasakan oleh segala jenis umat Muslim lintas Ormas. Di 3 Masjid ini umat Muslim berbaur menjadi satu.

Masjid Jogokariyan di sepanjang Ramadan ini melayani jamaah dengan super lengkap. Mulai dari pemberdayaan UMKM melalui program Kampung Ramadan Jogokariyan, berbuka dan bersahur secara gratis dengan menyediakan ribuan paket secara cuma-cuma. Masjid Jogokariyan juga tidak fanatik Ormas, setiap tokoh agama diajak kolaborasi, betapa pun latar belakang takmirnya dari Muhammadiyah. Masjid dan sekitarnya dihias sedemikian rupa. Masjid bukan lagi sekadar tempat shalat dan ibadah ritual-seremonial saja, melainkan menjadi pusat kegiatan umat Muslim dan tamu-tamu Allah dari berbagai latar belakang yang berbeda. Kas sedekah Masjid yang selalu nol, apabila ada kehilangan benda apa pun akan diganti, ada tempat menginap gratis, pemberdayaan UMKM, membuka lapangan kerja seluas-luasnya dan masih banyak lagi.

Di Masjid Al-Falah Sragen juga demikian. Masjid bukan hanya tempat untuk melaksanakan ibadah ritual-seremonial. Masjid Al-Falah membantu Masjid dan Musala sekitar agar mampu berdaya. Masjid Jogokariyan, Masjid Al-Falah dan Masjid-masjid Muhammadiyah yang lain juga ramah anak. Di Masjid, anak-anak diberi fasilitas bermain dan fasilitas lainnya. Anak-anak bukan dimarahi dan malah disuruh pulang, tetapi justru disayangi dan dihormati sebagaimana jamaah dewasa.

Lebih-lebih Real Masjid. Masjid ini 100% takmirnya generasi muda. Manajemen Masjid-nya muda banget. Rapi dan gaul. Masjid-masjid yang dikelola kader-kader Muhammadiyah, dikelola secara profesional, melayani musafir dan tidak ditutup alias buka 24 jam. Masjidnya bersih, aman dan ramah terhadap jamaah mana pun. Di Real Masjid bahkan ada bioskop islami. Masjid pertama di Indonesia bahkan dunia yang punya bioskop atau gedung pertunjukan yang bagus sebagai salah satu fasilitas Masjid untuk edukasi jamaah.

Dalam tulisan harian Ramadan yang singkat ini, saya juga terpukau dengan kiprah para intelektual maupun cendekiawan Muhammadiyah. Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Prof. Komarudin Hidayat, Prof. Ahmad Najib Burhani dan masih banyak lagi. Mereka di Muhammadiyah telah mampu membuktikan bahwa umat Muslim harus berwibawa dan profesional. Lihatlah berbagai lembaga pendidikan yang dikelola Muhammadiyah begitu megah di dalam maupun luar negeri. Begitu juga dengan Rumah Sakit, Hotel, dan masih banyak lagi, semuanya terinventarisir dengan baik dari Ranting sampai Pusat. Lembaga apa pun yang mengatasnamakan Muhammadiyah harus dikelola secara profesional di bawah naungan PP Muhammadiyah.

Sekali lagi terima kasih Muhammadiyah. Ternyata Islam bisa benar bersinar seperti sang surya. Saya sebagai warga NU merasa terinspirasi dan segala kebaikan yang ada dalam Muhammadiyah akan terus saya amalkan. Semoga Ramadan dan Muhammadiyah semakin berkah. Terakhir, tulisan harian Ramadan ini anggap saja sebagai tulisan penyeimbang atas tulisan "Catatan Ramadan: Terimakasih NU" yang ditulis oleh Nurbani Yusuf. Saya salut dengan Muhammadiyah, tetapi saya tetap dengan ke-NU-an saya.

Wallahu a'lam, Tohir Akmal, Nahdiyin Muda Cirebon

Komentar