Minggu, 07 Juni 2026 | 17:15
OPINI

Pengaruh Keterbatasan Gizi Anak Terhadap Komunikasi Interpersonal

Pengaruh Keterbatasan Gizi Anak Terhadap Komunikasi Interpersonal
Pemberian susu bagi anak balita (Dok Freepik)

Oleh: Akbar Gilang Permana  

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media
 
ASKARA - Setiap manusia di dunia membutuhkan asupan pangan setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan gizi di tubuhnya sehingga dapat menemani tumbuh kembang seluruh organ tubuhnya. Bayi, balita hingga anak kecil membutuhkan lebih banyak gizi untuk menopang kerja tubuhnya yang baru tumbuh agar semakin kuat. Diketahui bahwa anak pada masa sekolah dasar umur 7 – 12 tahun adalah waktu yang sempurna untuk anak mengetahui dan mencoba segala hal yang membuat mereka penasaran.

Hal tersebut, menuntun pada asupan yang tercukupi serta pendidikan yang menjadi akar utama anak untuk mengetahui segala hal-hal yang baik dan buruk. Tidak hanya itu, pendidikan memberi manfaat besar pada pemahaman etika dan pengetahuan yang luas mengenai nilai-nilai dasar berkehidupan. Indonesia memiliki banyak anak-anak tentunya fokus pada anak muda yang menjadi inisiator besar demi kemajuan bangsa Indonesia. Pemikiran yang cerdas, asupan gizi yang maksimal serta pendidikan yang berkecukupan menjadikan anak muda untuk berpikir lebih rasional dan visioner untuk menuntun bangsa Indonesia yang lebih maju.  

Anak 7-12 tahun adalah masa anak untuk mengenal minat serta cita-cita yang nantinya ia akan pilih untuk menjadi media belajarnya. Diketahui dari data Kemdikbud pada tahun 2021, Indonesia memiliki jumlah anak 7-12 tahun yang cukup besar yaitu 28 juta jiwa yang terhitung lebih banyak daripada jumlah balita dan remaja. Jumlah tersebut bukanlah hanya angka belaka, melainkan hal tersbeut menjadi tolak ukur bangsa Indonesia untuk mencetus anak muda yang cerdas dan terpelajar.

Jumlah anak 7-12 tahun yang disebutkan oleh Kemdikbud bertolak belakang dengan jumlah anak yang masuk kedalam kategori keterbatasan gizi. Hal yang cukup miris ketika Indonesia sedang mengalami bonus demografi untuk menjadikan Indonesia Emas namun dibersamai juga bahwa masih ada 21,6% dari jumlah anak di Indonesia mengalami keterbatasan gizi yang dilansir oleh Kemenkes pada tahun 2022. Keterbatasan gizi pada anak berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak tentunya pada aspek cara berkomunikasi anak tersebut. Anak yang memiliki keterbatasan gizi menghambat perkembangan berpikir kognitif anak, yaitu dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam memahami dan memproses informasi. 

Komunikasi menjadi salah satu cara manusia untuk saling terhubung serta mengetahui informasi secara menyeluruh. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka. Anak yang mengalami keterbatasan gizi tentunya sulit untuk menangkap informasi yang ia dengar, cara berpikir yang lambat menjadi masalah utama ketika anak dengan keterbatasan gizi berbicara dengan lawan bicaranya. Gizi pada anak berperan sangat besar dalam tumbuh kembang anak untuk menjadi cerdas dengan mempunyai pemikiran yang tanggap.  

Fungsi Komunikasi Interpersonal pada Anak

Melihat serta menemani tumbuh kembang anak membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam daripada remaja dan orang dewasa. Cara untuk memahami anak tidaklah mudah, diperlukan komunikasi yang intens mengenai masalah dengan cara mendengarkan cerita dari mereka. Komunikasi interpersonal menjadi salah satu cara untuk mengerti seperti apa dan menentukan apa yang baik menurut orang tua. Tumbuh kembang anak perlu diperhatikan dimulai dari cara berperilaku mereka yang baik bahkan mengetahui waktu yang baik untuk anak tersebut tidur.

Cara berperilaku dipengaruhi oleh pemikiran kognitif pada anak, maka dari itu kecukupan gizi menjadi jawaban untuk mengatasi masalah anak yang sulit tanggap dalam berpikir. Anak memiliki banyak kegiatan serta minat yang ia akan tekuni, pengembangan keterampilan sosial pada anak menjadi tahap awal dari fungsi komunikasi interpersonal pada anak, karena anak belajar berinteraksi dengan temannya melalui komunikasi interpersonal.

Anak mengembangkan keterampilan sosial seperti berbagi, bekerja sama serta menghormati orang lain. Ketidakstabilan emosional serta minim identitas atau kepercayaan diri pada anak adalah masalah yang sering ditemui pada momen-momen tertentu, hal tersebut dapat diatasi dengan komunikasi interpersonal yang baik. Komunikasi interpersonal membantu anak untuk memahami dan mengenali emosi, baik pada emosi mereka sendiri ataupun emosi orang lain sebab hal tersebut dapat membantu mereka mengatasi perasaan dan membangun empati ketika bekerjasama.

Masalah yang terjadi pada anak menjadikan orang tua sebagai inisiator awal untuk mengatasi masalah tersebut, pendekatan serta penguatan hubungan keluarga menjadi sebuah aspek yang utama untuk menemani tumbuh kembang anak. Anak-anak mengenali dan memahami anggota keluarga melalui komunikasi interpersonal. Hal tersebut membantu membangun hubungan keluarga yang kuat dan mendukung agar anak dapat beradaptasi untuk semangat berkegiatan. 

Dampak Keterbatasan Gizi pada Anak Usia 7-12 Tahun

Anak yang memiliki keterbatasan gizi terkadang perlu lebih berjuang dalam berkomunikasi dengan teman-temannya. Tidak hanya soal berkomunikasi, anak dengan keterbatasan gizi memiliki energi yang minim untuk menjalani kegiatan-kegiatan yang mereka minati. Anak pada umur 7-12 tahun adalah masa-masa ia penasaran terhadap apapun yang menurut ia menyenangkan, sangat disayangkan bila anak usia tersebut mendapati keterbatasan gizi karena mempengaruhi terhadap tumbuh kembang anak di usia selanjutnya. Kekurangan gizi pada anak usia 7-12 tahun memilik dampak yang signifikan pada proses belajarnya, tidak hanya pendidikan yang harus diperhatikan namun gizi pada setiap anak perlu ditenkan dengan cukup karena untuk berpendidikan tidak hanya tentang belajar namun juga cara berpikir yang cerdas dan tanggap.

Hal yang pertama diperhatikan adalah keterbatasan kognitif pada anak, keterbatasan gizi tentunya menghambat anak untuk memproses informasi secara sempurna. Tidak hanya hal itu, anak yang memiliki keterbatasan gizi mempunyai energi yang minim untuk menjalani segala kegiatan yang ia minati. Emosi dan perilaku yang tidak stabil serta kurangnya interaksi sosial adalah ciri-ciri yang mudah terlihat ketika orang tua khawatir terhadap keterbatasan gizi pada anaknya.

Keterbatasan gizi menyebabkan banyak dampak buruk yang berpengaruh terhadap cara berpikir anak, salah satu yang berpengaruh adalah kemampuan anak untuk belajar dan memperoleh pengetahuan baru ketika berkomunikasi. Hal tersebut dapat membatasi kemampuan mereka untuk memahami informasi yang disampaikan oleh guru atau rekan sekelasnya, serta menghambat kemampuan mereka untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas.

Penting bagi orang tua untuk mengenali anak yang mengalami kekurangan gizi pada usia 7-12 tahun dengan cepat dan memberikan perhatian serta intervensi yang sesuai untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan nutrisi yang cukup untuk perkembangan fisik, kognitif, dan emosional yang optimal. 
Pendekatan Dengan Anak yang Mengalami Keterbatasan Gizi 

Anak menjadi subjek utama yang akan menjadi tanggung jawab orang tua untuk memperhatikan mengenai tumbuh kembang dan cara berperilaku anak di dalam lingkup keluarga, sekolah maupun lingkungannya. Keterbatasan gizi pada anak adalah masalah komprehensif yang harus segera diatasi dengan intervensi yang sesuai untuk menjadikan anak masuk kedalam bonus demografi yang bermutu di Indonesia.

Anak yang memiliki keterbatasan gizi memerlukan perhatian serta pendekatan yang khusus untuk memastikan mereka mendapatkan nutrisi yang cukup dan mendukung pertumbuhan serta perkembangan mereka. Tahap pertama yang bisa dilakukan adalah konsultasikan dengan tenaga kesehatan mengenai kebutuhan gizi apa dan dengan cara seperti apa untuk menanganinya, karena anak dengan keterbatasan gizi perlu diketahui tingkat kecukupan gizi dan rencana pengelolaan yang paling sesuai dengan anak.

Untuk membantu konsultasi tersebut menjadi maksimal, orang tua dirumah perlu memberikan atau memasak makanan untuk anak-anak yang bernutrisi seperti sayuran, sumber protein, dan karbohidrat yang kompleks. Terkadang, masalah anak yang sulit untuk diajak makan adalah masalah utama yang sering dialami. Suplemen makan untuk anak atau suplemen gizi dapat membantu anak untuk memastikan mereka mendapatkan nutrisi serta kemauan makan yang cukup. Seperti seharusnya, obat atau suplemen yang berpengaruh pada anak harus diberi oleh dokter sesuai resep tertentu agar tidak salah dalam penggunaannya.  

Dalam konteks anak usia 7-12 tahun yang mengalami keterbatasan gizi, dapat diketahui bahwa kondisi tersebut memiliki dampak signifikan terhadap berbagai aspek tumbuh kembang anak, termasuk dalam hal komunikasi interpersonal. Keterbatasan gizi dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, energi, serta keseimbangan emosional anak. Komunikasi interpersonal menjadi penting dalam membantu anak mengatasi tantangan ini, baik dalam konteks keluarga maupun lingkungan pendidikan. Orang tua dan pendidik perlu memberikan perhatian khusus, termasuk melalui pendekatan yang sesuai, pemberian nutrisi optimal, dan dukungan kesehatan yang diperlukan.

Kesadaran terhadap keterbatasan gizi pada anak menjadi kunci untuk memastikan mereka dapat mengembangkan potensi mereka dengan optimal, sehingga dapat menjadi kontributor positif bagi kemajuan bangsa Indonesia. Maka dari itu, kita harus memperhatikan keterbatasan gizi ada anak yang masuk kedalam penglihatan kita. Jika tidak dapat membantu secara intensif, setidaknya ingatkan orang tuanya atau berikan dukungan untuk anak tersebut mendapati gizi yang cukup, karena dengan gizi yang cukup anakanak menjadi semangat untuk berkegiatan serta mengenyam pendidikan yang lebih baik lagi demi Indonesia Emas 2045. 
 
 

Komentar