Rabu, 17 Juni 2026 | 18:42
OPINI

Berpetualang di Ibukota, Perjalanan bersama Teman, yang penuh Kesan

Berpetualang di Ibukota, Perjalanan bersama Teman, yang penuh Kesan
Gajah di Kebon Binatang Ragunan (Dok Ragunan Zoo)

Oleh: Yumna Siti Nur ’Aini, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University.

ASKARA - Tempat wisata yang menjadi pilihan salah satunya adalah Ibukota Indonesia yaitu jakarta. Begitu banyak masyarakat yang memilih kota tersebut untuk dijadikan tempat destinasi. Hampir bagian dari kota jakarta menjadi tempat wisata. Salah satu tempat yang sering dikunjungi adalah Kebun bBnatang ragunan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Kebun Binatang Ragunan memiliki berbagai satwa yang dipelihara dan dilindungi secara hukum. Tempatnya yang sejuk dan pembagian jenis satwa yang teratur, mempermudah pengunjung menemukannya. Hal itu yang membuat penulis ingin mengunjunginya.

Rencana untuk pergi ke Kebun Binatang Ragunan, sudah direncanakan sejak lama oleh penulis dan teman-teman. Penulis pergi menggunakan kendaraan umum, seperti kereta Sampai pada hari yang ditentukan untuk pergi, penulis bersama teman-teman membuat janji temu di pintu timur Stasiun Bogor. Penulis berangkat dari Stasiun Bogor menuju Stasiun Tanjung Barat sebagai pemberhentian terakhir. 

Penulis memasuki stasiun dengan tap kartu kereta, yang sudah diperiksa isi saldo yang ada pada kartu kereta tersebut. Penulis membuat janji sebelum pukul 09.00 sudah berada di stasiun, dan akan mulai berangkat pada pukul 09.00 wib, namun pada kenyataan, penulis dan teman-teman berangkat terlambat dari jadwal yang ditentukan. Setelah itu penulis menunggu semua berkumpul bersama, sampai pada akhirnya teman-teman penulis mulai berdatangan secara bertahap.

Setelah semua berkumpul, penulis dengan teman-teman mulai memasuki gerbong kereta, dan mulai duduk menikmati perjalanan. Perjalanan dimulai dengan meninggalkan Stasiun Bogor dengan keadaan langit yang cerah. Setiap stasiun berhasil terlewati, dan kereta mulai padat penduduk di dalam kereta, sehingga yang penulis lihat hanya wajah-wajah masyarakat yang sibuk dengan tujuannya. Ada berbagai macam masyarakat yang ada didalam kereta itu, ada orang yang menggunakan pakaian kantor, ada sekumpulan anak muda yang menggunakan pakaian casual, ada sebuah keluarga yang sepertinya ingin berwisata, ada pria baruh baya yang menggunakan pakaian santai,dan masih banyak lainnya.

Sampailah penulis di tempat tujuan akhir Stasiun Tanjung Barat, dari sini kami memilih melanjutkan perjalanan dengan menggunakan aplikasi layanan jasa antar jemput. Sambil menunggu jemputan tiba, kami membeli beberapa cemilan untuk dinikmati bersama. Sampai pada akhirnya kami menuju tempat wisata tersebut. Penulis bersama teman-teman tiba di pintu utara Ragunan, setelah itu kami jalan bersama dari pintu masuk ke dalam.

Sesampainya di dalam, kami menemukan tempat membeli tiket dan mengisi Kartu Jakarta. Sebelum kami masuk ke dalam, kami memutuskan untuk cek saldo dahulu, dan benar saja saldonya kurang, sehingga penulis dan temannya berinisiatif untuk membelikan atau mengisi saldo yang ada pada kartu jakarta. Penulis ikut mengantri untuk memperoleh tiket tersebut, kondisi ragunan sedang sangat ramai pengunjung, bahkan jasa foto yang ditawarkan untuk menghasilkan foto yang bagus, begitu banyak yang berusaha menarik audiens.

Setelah selesai mengisi kartu dengan saldo, kami mulai memasuki gerbang Kebun Binatang Ragunan. Harga tiket kebun binatang ragunan, untuk dewasa sebesar Rp4.000/orang , sementara untuk anak-anak sebesar Rp3.000/orang.

Ketika penulis memasuki Kebun Binatang Ragunan tersebut, kondisi lingkungan sangat ramai pengunjung, setiap sudutnya terdapat masyarakat yang sekedar istirahat, atau masyarakat yang baru saja datang, dan bahkan terdapat masyarakat yang memilih pulang. Kondisi cuaca yang ada di sekitar daerah Jakarta Selatan itu sangat terik, kebetulan penulis bersama teman-teman tiba di Kebun Binatang Ragunan sekitar pukul 14.00 wib, dan matahari sedang berada tepat di atas kepala kami.

Penulis bersama teman-teman menyusuri setiap kawasan yang ada di kebun binatang ragunan. Kami berjalan bersama, dan satwa yang ditemukan pertama kali yaitu burung pelikan. Pada tempat tersebut ramai dikunjungi oleh anak kecil. Kemudian kami menemukan burung merak. Namun karena kami belum makan siang, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, kami membeli pecel, dan duduk dibawah pohon rindang.

Penulis sempat melakukan wawancara kepada ibu pemilik kedai pecel sayur tersebut, bagaimana pendapatnya terkait kondisi kebun binatang ragunan yang ramai dengan pengunjung yang ingin berwisata, apakah ramainya pengunjung mempengaruhi penjualan pecel sayur tersebut. Menurut ibu pemilik kedai pecel tersebut, mengatakan bahwa hal tersebut sangat mempengaruhi kenaikan penjualan tersebut. Namun, karena sama-sama bersaing dengan kedai pecel sayur lainnya, hal tersebut tidak terlalu signifikan penjualannya akan mengalami kenaikan terus menerus.

Setelah makan siang selesai, kami melanjutkan perjalanan mengelilingi kebun binatang kembali. Satwa yang dikunjungi adalah kangguru, gajah, capibara, burung elang, singa, harimau, orang utan, beruang madu, berbagai jenis burung, berbagai jenis reptil, kudanil, dan satwa yang sejenis harimau, seperti macan hitam, macan tutul, cheetah, dan masih banyak sekali satwa yang dikunjungi saat itu. Namun, yang menarik perhatian penulis ketika melihat beruang madu, saat itu penulis melihat beruang madu yang memiliki warna bulu hitam dan sangat tebal, sedang menikmati harinya dengan tidur ditempatnya.

Setelah puas melihat-lihat satwa, dan hari sudah menunjukan sore hari, kami memutuskan pulang, kebetulan hari sudah mulai gelap karena mendung. Kami keluar melalui pintu timur yang sebelumnya sudah dilalui, karena akses yang hanya dapat digunakan hanya akses pintu timur. Setelah itu penulis bersama teman-teman memutuskan pulang menggunakan transjakarta dengan pemberhentian terakhir adalah Dukuh Atas. Namun ternyata kami salah rute perjalanan, dan setelah bertanya kepada pegawai transjakarta, kami dapat berpindah ke transjakarta lainnya yang memiliki tujuan ke Tanjung Barat.

Selama perjalanan, penulis sangat menikmati pemandangan Kota Jakarta dengan kondisi langit yang mendung. Walaupun langit sedang mendung, tidak mengalahkan kemegahan kota yang dikelilingi oleh gedung-gedung menjulang tinggi. Keadaan lalu lintas yang ramai, membuat Ibukota itu terlihat tidak akan pernah ada kata sepi. Lalu lintas dipenuhi dengan berbagai jenis kendaraan, ada mobil bermerek, ada bemo, ada microlet, ada transjakarta, ada bus dan kendaraan besar lainnya.

Sesampainya kami di pemberhentian Trans Jakarta Tanjung Barat, hujan yang deras sudah membasahi setiap jalan Ibukota tersebut. Kami yang merasa lapar karena belum makan, memutuskan untuk pergi ke mall di depan stasiun, dan memutuskan untuk menerobos hujan. Sesampainya di mall tersebut, kami memilih makanan yang akan kami makan, dan mencari tempat duduk untuk makan. Namun pada kenyataannya nihil, tidak ada sama sekali tempat duduk untuk kita makan bersama. 

Kami pada akhirnya duduk di taman mall tersebut, beruntungnya hujan saat itu reda. Walaupun pada akhirnya, setelah kami selesai menyantap makanan, dan memutuskan untuk pulang, secara tiba-tiba hujan sangat deras, diiringi dengan suara petir yang gemuruh. Kami menunggu sebentar, sampai hujan mereda sedikit, kami akan pulang. Sembari menunggu hujan reda, kami banyak bercerita dan bertukar pikiran. Hujan pun mereda, dan kami memutuskan untuk pergi menyebrang ke stasiun tanjung barat. 

Sesampainya di stasiun, kondisi kereta yang menuju ke arah bogor, terlihat penuh dan padat dengan masyarakat yang sebagian baru pulang kerja. Kami pulang sekitar pukul 16.00 WIB. Kita akhirnya memutuskan, untuk menunggu kereta selanjutnya, dengan harapan kereta selanjutnya akan sedikit lebih kosong dari kereta sebelumnya. Namun setelah kami menunggu, sampai dua kereta terlewati, kereta yang menuju ke arah Bogor masih dipenuhi dengan banyak masyarakat. Sehingga kami memutuskan untuk pergi menggunakan kereta, dengan tujuan arah ke Kota Tua. Kemudian nantinya, kami akan berpindah kereta yang menuju ke arah Bogor. 

Pemandangan langit sore hari yang biru keunguan, ditambah dengan view gedung pencakar langit, membuat perjalanan penulis bersama teman-teman menjadi memori yang indah dan berkesan. Kami sampai di Bogor pukul 20.00 WIB, dan kami berpisah di Stasiun Bogor. Penulis berharap, perjalanan yang seperti ini akan kembali terencana untuk diwujudkan bersama-sama.

 

 

Komentar