Kamis, 04 Juni 2026 | 08:11
TRAVELLING

Menyenangkan bersama Keluarga ke Tangkuban Perahu.

Menyenangkan bersama Keluarga ke Tangkuban Perahu.
Ilustrasi liburan bersama keluarga (Dok Pixabay)

Oleh : Razita Larasati *

ASKARA - Kata orang sesuatu yang mendadak justru akan terlaksana, begitu juga dengan perjalanan ku bersama keluarga ke Tangkuban Perahu. Di penghujung sisa liburan kuliah, ayah justru mengajak kami untuk pergi ke Bandung, lebih tepatnya ke Tangkuban Perahu. Sisa waktu liburan ku tinggal seminggu lagi, aku berpikir kenapa ayah baru mengajakku liburan mendekati hari masuk kembali dengan kesibukan kuliah. Malam hari tepatnya setelah maghrib ayah mengirimkan whatsapp di grup keluarga, ayah bertanya apakah besok kami sekeluarga mau jika diajak pergi ke Tangkuban Perahu. Kami sekeluarga pun kompak menjawab mau untuk pergi kepada ayah.

Malam itu kami sekeluarga sibuk untuk mempersiapkan perjalanan menuju Tangkuban Perahu, mulai dari mempersiapkan pakaian yang akan kami bawa nanti, karena ayah menjanjikan kami akan berada di Bandung selama 2 hari. Kami sekeluarga sibuk memasukan barang bawaan ke dalam tas ransel besar milik kami masing-masing. Aku membawa 4 pasang pakaian pergi dan 2 pasang pakaian tidur. Tidak lupa aku membawa peralatan sholat dan memasukan barang penting lainya seperti obat-obatan untuk perjalanan jauh, headphone untuk mendengarkan lagu di sepanjang perjalanan dan yang tidak kalah penting adalah kamera untuk berfoto. Setelah selesai mempersiapkan barang-barang untuk dibawa besok, aku segera naik ke atas kasur untuk tidur, agar besok aku tidak terlambat bangun, karena besok aku akan berangkat pukul 7 pagi.

Besok harinya aku terbangun dengan mata yang masih mengantuk, aku berjalan ke arah kamar mandi untuk segera mandi, tidak lupa setelah mandi langsung menunaikan ibadah sholat subuh. Setelah selesai sholat, langsung turun menuju garasi mobil sembari membawa tas ransel yang sudah berisi pakaian dan barang-barang. Aku menuju ke arah mobil bersamaan dengan adik yang juga ingin memasukan tas ke dalam bagasi mobil.

Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, dan semua barang bawaan sudah tertata rapi di dalam bagasi mobil. Sejujurnya aku masih sangat mengantuk, bagaimana tidak, semalam selesai mempersiapkan barang bawaan pada pukul 12 malam, dan harus sudah bangun pukul 5 pagi. Tetapi aku tidak boleh terus mengantuk, harus semangat karena akan melewati perjalanan panjang menuju Tangkuban Perahu.

Mobil pun melaju dari rumah di Depok menuju Tol Jagorawi sekitar pukul 7 pagi. Keadaan arus kendaraan di Tol Jagorawi sangat lancar. Di perjalanan, kami sekeluarga saling bercerita tentang kehidupan kami masing-masing, aku menceritakan bagaimana pengalamanku selama berkuliah, bagaimana aku bisa tinggal sendiri jauh dari orang tua untuk pertama kalinya, berusaha menjadi berani keluar dari rumah untuk berkuliah.

Kakak laki-lakiku bercerita seputar bahagianya dia ketika menerima gaji pertama, karena kakak laki-laki baru lulus kuliah dan berhasil diterima di salah satu perusahaan penerbangan.

Tidak lupa aku pun juga mendengarkan keluh kesah kakak perempuan yang sekarang sedang sibuk menyelesaikan skripsinya.

"Aku doakan semoga skripsi kaka cepat selesai ya, agar bisa lulus tepat waktu dengan hasil terbaik,” kata aku.

Cerita yang paling ditunggu-tunggu selama perjalanan ini berlangsung adalah cerita dari si bungsu. Dia bercerita tentang kehidupan di sekolahnya, adikku yang satu ini memang sangat unik, benar-benar lucu ketika melihatnya membawakan cerita.

Sembari mendengarkan cerita kita, ibu mengeluarkan berbagai jajanan yang dibawa, ternyata malam hari ayah dan ibu pergi berbelanja di minimarket dekat rumah. Ibu mengeluarkan jajaran favorit kita yaitu jajanan kentang rasa madu. Kamu berebut untuk memakan jajanan tersebut hingga jajanan itu cepat sekali habis. Namun ternyata ibu masih punya banyak jajanan lainn, yang membuat kami langsung memakannya dengan lahap.

Perjalanan terasa begitu menyenangkan, alunan musik yang terdengar lewat radio mengalunkan irama musik dari Ebiet G. Ade, salah satu penyanyi idola ayah. Kami ikut bernyanyi bersama dibeberapa lagu yang kami ketahui.

Rasanya sangat kenyang setelah memakan banyak jajanan yang dibawa oleh ibu. Sudah kenyang ngantuk pun ikut datang, setelah selesai makan jajanan dari ibu rasanya mata kembali mengantuk, namun pemandangan dari arah kanan dan kiri mobil sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.

Aku tak berhenti memandangi langit-langit yang begitu cerah dengan pemandangan hamparan sawah hijau dan jajaran gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Tidak terasa perjalanan sudah sampai di Tol Cikopo Palimanan, kondisi arus perjalanan pun ramai lancar. Langit yang semula cerah pun mendadak menjadi mendung, membuat rasa kantuk pun datang. Tak terasa kami semua tertidur kecuali ayah dan ibu. Ayah yang pasti harus terus menyetir dan ibu yang ikut terjaga menemani ayah menyetir.

Aku pun mulai tertidur tidak bisa menahan rasa kantuk, mata terpejam hingga ibu membangunkan aku, karena ternyata kita melipir untuk ke rest area karena adik muntah. Aku terbangun kaget, membantu memberikan tisu kepada adik. Kakak perempuanku pun ikut membantu untuk mengoleskan minyak angin ke perut adikku.

Selepas adik muntah, aku menemaninya untuk berganti pakaian, karena ada sebagian pakaian nya yang terkena muntahan. Selepas berganti pakaian kami langsung makan di salah satu tempat makanan yang ada di rest area tersebut. Saat itu kami memakan salah satu ayam cepat saji yang terkenal yaitu KFC. Karena belum makan berat seharian ini, kami pun makan dengan lahap menikmati ayam goreng yang ada di depan kami.

Selesai makan di rest area, kami tidak lupa untuk mengisi bensin mobil dan kembali melanjutkan perjalanan ke Tangkuban Perahu. Perjalanan berjalan dengan bahagia, adikku pun sudah membaik kondisinya setelah makan dan diberikan obat oleh ibu.

Kami kembali menikmati perjalanan yang sebelumnya terhenti karena kami beristirahat terlebih dahulu. Kami menonton film bersama di mobil, saat itu kami menonton salah satu film keluarga yaitu film “Keluarga Cemara”.

Sembari mobil berjalan, sembari film diputar, menambahkan rasa bersyukur pada keluarga kami. Ternyata jalan-jalan bersama keluarga sangat diperlukan untuk membangun kembali rasa sayang antar saudara satu sama lain.

Durasi film yang lumayan panjang yaitu 1 jam 50 menit membuat kami terlarut dalam cerita yang di tayangan. Tidak terasa sebentar lagi kami akan sampai di Tangkuban Perahu yaitu salah satu destinasi wisata terkenal dan paling banyak dikunjungi oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar negeri. Saat ini kami sudah sampai di daerah dekat Tangkuban Perahu yaitu Ciater. Dari dalam mobil kami melihat hamparan perkebunan teh yang begitu hijau dan asri. Mata memandang begitu lama melihat keindahan nya.

Sampailah kami ke pintu masuk Tangkuban Perahu tepat pada pukul 12 siang. Sepertinya pada hari ini banyak pengunjung yang berdatangan ke tempat wisata Tangkuban Perahu ini, dapat terlihat dari bus-bus yang begitu banyak yang sedang mengantri masuk di depan pintu masuk tempat wisata ini. Karena antrian kendaraan yang begitu panjang, kami sedikit lama menunggu untuk dapat masuk ke dalam pintu masuk Tangkuban Perahu tersebut. Akhirnya setelah menunggu antrian kendaraan sekitar 10 menitan, mobil kami pun bisa masuk ke dalam tempat wisata ini. Kami cukup membayar Rp 35.000 per anggota keluarga untuk dapat masuk ke tempat wisata Tangkuban Perahu ini.

Sesampainya mobil kami diatas, kami langsung bergegas turun dari mobil dan mulai berjalan-jalan menikmati pemandangan indah dari atas yang memperlihatkan indahnya kawah gunung yang ada di Tangkuban Perahu.

Kami juga mencoba makanan khas wisatawan yang sedang berkunjung ke Tangkuban Perahu yaitu jagung bakar dan teh hangat untuk menghangatkan tubuh kami dari udara yang dingin disana. Langit yang gelap dengan kawah yang indah menjadi latar belakang yang sempurna untuk mengakhiri petualangan kami di Bandung.

Tidak lupa kami turut mengabadikan momen-momen berharga bersama keluarga. Karena kami ingin mengabadikan momen dengan keluarga secara lengkap, akhirnya kami meminta tolong kepada salah satu remaja perempuan yang sedang berada tepat di samping kami. Kami meminta bantuan kepada remaja tersebut yang ternyata mempunyai nama Dita untuk membantu memotret keluarga kami. Selesainya Dita membantu kami, aku berinisiatif untuk berkenalan sejenak dengan nya dan bertukar akun instagram dengan nya.

Selepas pertemuan singkat kami di Tangkuban Perahu, Dita turut membagikan pengalamannya saat melakukan perjalanan ke Tangkuban Perahu. Sama seperti yang keluargaku rasakan, saat di perjalanan ternyata Dita juga tidak mengalami kemacetan yang berarti di sepanjang Tol yang ia lewati.

Dita berkata bahwa selama di perjalanan Tol sangat lancar walaupun ramai dengan kendaraan. Itulah juga yang kurasakan selama melakukan perjalanan menuju Tangkuban Perahu ini. Saat hendak memasuki pintu masuk tempat wisata Tangkuban Perahu ini pun Dita juga merasakan hal yang sama, saat itu ia pergi bersama keluarga nya dengan menggunakan mobil pribadi miliknya. Saat sampai di depan pintu masuk Tangkuban Perahu untuk mengantri tiket masuk, terjadi antrian yang begitu panjang, dan ternyata lebih lama dari waktu kami menunggu di barisan antrian depan pintu masuk, keluarga Dita harus menunggu sampai 15 menit untuk akhirnya dapat masuk ke tempat wisata Tangkuban Perahu ini.

Setelah mengakhiri perbincangan dengan Dita, aku tersadar bahwa di setiap perjalanan yang kami lalui pasti akan ada rintangan dan hambatan yang menyertai. Tapi di balik itu semua yang harus kami syukuri adalah bahwa kami masih bisa berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Karena harta yang paling berharga adalah keluarga.

Maka dari itu pesan yang dapat diambil dari perjalanan ini adalah sabar dalam setiap proses perjalanan yang sedang dilalui, terus fokus kepada tujuan dan yang paling terpenting adalah manfaatkanlah waktu dengan sebaik mungkin untuk dapat berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Itulah tadi perjalanan ku bersama keluarga ke Tangkuban Perahu yang penuh dengan kebahagiaan dan takan ku lupakan.

*

* Sekolah Vokasi IPB University, Program Studi Komunikasi Digital dan Media

 

Komentar