Memahami Arti Kebohongan Dan Kejujuran Di Pemilu 2024
Oleh : KRH Aryo Gus Ripno Waluyo, SE, SP.d, S.H, C.NSP, C.CL, C.MP, C.MTh *)
ASKARA - Asas Jujur mengharapkan bahwa setiap penyelenggara Pemilu, aparat pemerintah, peserta Pemilu, pengawas Pemilu, pemantau Pemilu, pemilih, serta semua pihak yang terkait dalam penyelenggaraan Pemilu harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Asas Pemilu adalah Luber Jurdil merupakan kependekan dari langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Asas Pemilu ini saling melengkapi, menciptakan fondasi yang kokoh untuk melibatkan masyarakat secara langsung dan menyeluruh dalam proses demokrasi.
Penyelenggara Pemilu yang berintegritas berarti mengandung unsur penyelenggara yang jujur, transparan, akuntabel, cermat dan akurat dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya. Integritas penyelenggara menjadi penting, karena menjadi salah satu tolak ukur terciptanya Pemilu demokratis.
Arti integritas dan loyalitas?
Integritas merupakan sikap jujur, konsisten, komitmen, berani dan dapat dipercaya. Sedangkan loyalitas adalah kesetiaan pada prinsip yang dianut.
Pemilu dan Kejujuran dapat diibaratkan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Karena proses pemilu akan berakhir pada terpilihnya orang yang akan menjadi pemimpin baik legislatif maupun eksekutif. Jika proses ini dilalui tidak dengan kejujuran, maka akan terpilih pemimpin yang tidak jujur.
Hal ini terbukti dari masih banyaknya orang-orang yang mencampur adukkan sifat jujur dan sifat kebohongan yang pada akhirnya mendatangkan berbagai macam malapetaka, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain yang ada di sekitarnya. Termasuk orang-orang yang akan kehilangan rasa kepercayaan kepadanya, hingga mengakibatkan reputasinya akan buruk dan dicap sebagai pembohong.
Kecurangan pemilu biasa terjadi karena adanya suatu hal yang sukar untuk dicapai hingga mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara atau dengan melabrak hukum dan regulasi yang ada seperti melakukan politik uang, penyalahgunaan jabatan (intervensi), masalah netralitas aparat negara dan keberpihakan penyelenggara pemilu itu sendiri.
Kebohongan adalah jenis penipuan dalam bentuk pernyataan yang tidak benar, terutama dengan maksud untuk menipu orang lain, sering kali dengan niat lebih lanjut untuk menjaga rahasia atau reputasi, perasaan melindungi seseorang atau untuk menghindari hukuman atau tolakan untuk satu tindakan.
Kebohong dapat menjadi kata asal antara lain bagi kata berbohong, membohongi, dan pembohong. Kata berbohong mengandung arti 'menyatakan sesuatu yang tidak benar'. Kata membohongi berarti 'menyatakan sesuatu yang tidak benar kepada seseorang'. Kata pembohong menunjuk arti 'orang yang membohongi'.
Orang berbohong akan merasa cemas dan khawatir apabila kebohongannya terungkap. Hal itu bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman dan bisa berdampak buruk bagi kondisi mental seseorang, kualitas tidur menurun, produktivitas kerja, sering salah dalam berbicara, dan sebagainya.
Kebohongan dalam ajaran agama apapun adalah perbuatan dosa dan dilarang bagi setiap pemeluknya. Ajaran Islam juga melarang tindakan ini dan bahkan menyebut kebohongan sebagai salah satu dosa yang akan mengantar kepada dosa-dosa besar.
Berbohong termasuk akhlak tercela dan perbuatan yang dibenci oleh Allah Swt. "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong."
Contoh perilaku tidak jujur dalam kehidupan, Manipulasi data. Manipulasi data adalah proses rekayasa dengan melakukan perbuatan menambahkan, menghapus, menyembunyikan, mengganti, menghilangkan atau mengkaburkan informasi atau data. Berbuat Curang, Pernyataan palsu, Menyebar berita bohong.
Di dalam sebuah hadits nabi dikatakan bahwa, ada tiga tanda-tanda sebagai seorang munafik, yaitu apabila berkata berdusta, apabila berjanji memungkiri, dan apabila diberi amanah mengkhianatinya.
Jujur atau kejujuran mengacu pada aspek karakter, moral dan berkonotasi atribut positif dan berbudi luhur seperti integritas, kejujuran, dan keterusterangan, termasuk keterusterangan pada perilaku.
Secara istilah, jujur atau aś-śidqu bermakna: (1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; (2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan; (3) ketegasan dan kemantapan hati; dan (4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri kedustaan.
Jujur merupakan salah satu sikap yang harus dimiliki oleh setiap manusia dalam beraktivitas, salah satunya adalah jujur saat bekerja. Sikap jujur akan melahirkan kepercayaan antara satu orang dan lainnya. Sikap jujur juga menjauhkan rasa curiga hingga kekhawatiran akan rusaknya sebuah kepercayaan yang dibangun.
Jujur dalam Islam juga berkaitan dengan kesesuaian dan kebenaran dari perkataan atau perbuatan. Dalam bahasa Arab, jujur dapat diterjemahkan sebagai "shiddiq," yang berarti benar dan dapat dipercaya. Arti jujur juga melibatkan lurus hati, ikhlas, dan tidak berbohong atau curang.
Pengertian jujur adalah lurus hati; tidak berbohong (misalnya dengan berkata apa adanya). Yang kedua, pengertian jujur adalah tidak curang (misalnya dalam permainan, dengan mengikuti aturan yang berlaku, Manfaat terbesar dari berbuat jujur adalah dapat dipercaya oleh orang lain dan membangun kepercayaan dari orang lain merupakan hal yang sulit. Membiasakan berbuat jujur akan menghindarkan kita dari segala macam fitnah sehingga hidup akan terasa lebih tentram.
Ciri-Ciri Kejujuran
Selalu mengatakan sesuatu apa adanya. Tidak berbohong atau mengada-ngada. Selalu melakukan sesuatu sesuai peraturan yang ada. Tidak Suka Basa-basi. Memiliki Kepribadian yang Tenang. Nada Bicara Stabil. Tidak Merasa Harus Menyenangkan Orang Lain, Memiliki Keyakinan yang Kuat. Tidak Melebih-lebihkan.
Kejujuran dapat membuat seseorang dipercaya akan kebenaran ucapan dan sikapnya. Orang yang jujur tentu memiliki sifat-sifat terpuji lainnya, karena kejujuran merupakan cerminan akhlak al-karimah. Baginda Nabi Muhammad SAW itu adalah seorang yang sangat jujur dalam semua perkataan dan prilakunya.
Ketika tidak jujur, seseorang cenderung gugup, gelisah, dan stres. Semakin banyak kebohongan, maka semakin banyak stress yang didapat. Stres yang menumpuk dapat berakibat buruk bagi keadaan psikologis dan juga kesehatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak jujur akan memberikan pengaruh buruk bagi seseorang.
*) Budayawan, Penulis, Advokat, Spiritualis, Ketua DPD Jatim PERADI Perjuangan

Komentar