Tuntunan Memilih Pemimpin Dari Al-Quran: Jangan Bersama Orang-Orang Yang Berkhianat
Oleh: Dr. Rahmat Mulyana. Dosen IAI Tazkia
ASKARA - Kondisi Masyarakat Saat Ini: Masyarakat saat ini seringkali dihadapkan dengan pertanyaan tentang integritas para pemimpin dan tokohnya. Kekhawatiran muncul terkait maraknya politik uang, ketamakan berkuasa, dan ancaman-ancaman yang terkait kemerdekaan menyampaikan kebenaran. Situasi ini menciptakan keraguan dalam memilih wakil dan pemimpin yang akan mengemban amanah rakyat.
Pesan Al-Quran: Sebagai umat Islam, kita diwajibkan untuk selalu bertakwa kepada Allah dan memilih untuk bersama dengan orang-orang yang benar dan jujur, sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Taubah ayat 119: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!
Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak bersama dengan orang-orang yang berkhianat, yang pura-pura benar, dan yang menggunakan berbagai alasan untuk membenarkan tindakan mereka. Merekayasa hukum sehingga menguntungkan mereka, berat sebelah dan tidak menegakkan keadilan. Yang harus dipilih adalah orang-orang yang shiddiqiin. Yang tegak lurus dan tidak bersilat adu lihai dalam menegakkan aturan meskipun itu tidak menguntungkannya.
Juga dalam Surat An Nisa 135 , Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu (kemaslahatan) keduanya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (enggan menjadi saksi), sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.
Kita harus memilih untuk bersama dengan orang-orang yang jujur dan benar, bukan hanya melihat pada kekuatan politik dan uang yang mereka miliki. Karena hal itu hanya fatamorgana saja.
Ketakwaan Sebagai Ukuran Utama: Ketakwaan kepada Allah seharusnya menjadi ukuran utama dalam memilih pemimpin. Bagaimana seseorang menjalankan kewajibannya kepada Allah adalah cerminan dari keadilan dan integritasnya. Jika seseorang bahkan tidak bisa menjalankan amanah yang diberikan oleh Allah, bagaimana masyarakat dapat menitipkan amanah mereka kepadanya? Lihatlah sholatnya, lihatlah bagaimana dia membina keluarga, lihatlah bagaimana dia memelihara agamanya, lihatlah lingkungan yang mempengaruhinya dan rekam jejak dan terlebih lagi lihatlah akhlaknya.
Memilih dengan Akal dan Nalar: Kita harus menggunakan akal dan nalar yang Allah berikan kepada kita untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadilan. Kita tidak boleh hanya memilih berdasarkan emosi, suku, atau kepentingan pribadi. Hal ini sangat penting dalam konteks demokrasi dan kebebasan berpendapat.
Menolak Politik Dinasti dan Kepentingan Pribadi: Saat ini, terdapat kecenderungan di mana pemimpin atau tokoh masyarakat menggunakan kekuasaan mereka untuk melindungi keluarga atau kepentingan pribadi mereka dalam politik. Hal ini harus dihindari, dan masyarakat harus memilih pemimpin yang benar-benar mampu menjalankan amanah dengan adil dan jujur.
Pesan Utama: Oleh karena itu, sebagai umat Islam, kita harus memahami pesan dari ayat Al-Quran ini dan memilih untuk bersama dengan orang-orang yang jujur dan benar. Kita tidak boleh terus-menerus dimanfaatkan emosional atau primordial dalam politik. Patuhilah seruan Allah untuk memilih pemimpin yang bertakwa dan berintegritas. Dengan demikian, kita dapat berkontribusi untuk menciptakan masyarakat yang adil dan bermoral sesuai dengan ajaran Islam.
Penutup: Marilah kita bersama-sama merenungkan ayat Al-Quran ini dan menjadikannya pedoman dalam memilih pemimpin yang adil dan berintegritas. Hanya dengan pemimpin yang bertakwa dan bermoral, kita dapat membangun masyarakat yang sejahtera dan bermartabat.

Komentar