Jumat, 17 Juli 2026 | 09:14
NEWS

Situasi Gunung Salak Terus Diamati, Gempa Tektonik Lokal Alami Peningkatan

Situasi Gunung Salak Terus Diamati, Gempa Tektonik Lokal Alami Peningkatan
Peta situasi bencana Gunung Salak (Dok PVMBG)
ASKARA - Gunungapi Salak merupakan salah satu Gunung api strato Tipe A dengan ketinggian ± 2210 mdpl. Secara administratif berada di wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Selama ini situasi Gunung Salak dipantau melalui Pos Pengamatan Gunung api (PGA) G. Salak di Desa benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
 
Erupsi terakhir G. Salak terjadi tahun 1938 berupa erupsi freatik dari Kawah Cikuluwung Putri. Sejak itu kegiatan terakhir hanya berupa bualan lumpur di Kawah Ratu dan Kawah Hirup serta hembusan solfatara dan fumarol di Kawah Ratu.
 
Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementrian Energi Sumber Daya Mineral merilis situasi perkembangan aktivitas terkini Gunung Salak pasca terjadinya gempa bumi dengan magnitudo 4,0 di Barat Daya Kota Bogor, pada Jumat (8/12) dini hari, seperti yang dikutip, Kamis (13/12).
 
"Gempa Tektonik Lokal mengalami peningkatan jumlah gempa diatas 4 kali kejadian perhari pada tanggal 6 Desember 2023 sebanyak 8 kejadian. 7 Desember 2023 sebanyak 7 kali kejadian dan 8 Desember 2023 sebanyak 7 kali kejadian," tulis PVMBG.
 
Dijelaskannya, pengamatan visual periode 1 – 9 Desember 2023, Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah selatan. Suhu udara sekitar 22-32°C.
Pengamatan kegempaan periode 1-9 Desember 2023, masih didominasi gempa Tektonik Jauh yang terekam sebanyak 31 kali kejadian dan gempa Tektonik Lokal sebanyak 22 kali kejadian. Gempa Vulkanik sebagai indikasi aktivitas G. Salak tidak terekam.
 
"Meskipun dari kegempaan cenderung normal, namun tetap perlu diwaspadai terjadinya erupsi freatik, berupa semburan lumpur atau erupsi uap air (steam explosion) yang dapat terjadi tiba-tiba, pasca terjadinya kenaikan gempa Tektonik Lokal beberapa hari lalu," kata PVMBG.
 
Menurut PVMBG, di musim hujan, tingkat kelembaban udara di sekitar kawah akan lebih tinggi, sehingga gas-gas vulkanik akan sulit terurai, yang menyebabkan konsentrasi gas-gasnya akan meningkat dan dapat membahayakan kehidupan. 
 
Berdasarkan hal tersebut diatas, jelasnya, maka tingkat aktivitas Gunung api Salak tidak mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dan tetap berada pada Level I (Normal) dengan rekomendasi sebagai berikut:
 
Dalam tingkat aktivitas Level I (Normal) masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak memasuki kawah dalam radius 500 meter dari kawah-kawah yang aktif di Gunung Salak (Kawah Ratu, Kawah Hirup dan Kawah Paeh), terutama di musim hujan, untuk menghindari terjadinya akumulasi gas yang berbahaya.
 
Badan Geologi akan terus berkoordinasi dnegan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) / Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat / Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor.
 
Masyarakat di sekitar G. Salak diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Salak serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dan agar selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.
Untuk informasi dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (022) 7272606 di bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan G. Salak di Desa Benda, Kec. Cicurug, Kab. Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
 
Tingkat aktivitas G. Salak dapat dievaluasi kembali jika terdapat perubahan aktivitas secara visual dan instrumental yang signifikan.
 
 
 

Komentar