Rabu, 22 Juli 2026 | 01:20
NEWS

Dies Natalis ke-62 UNM, Prof. Rokhmin Dahuri Beberkan Pengembangan SDM Unggul Di Era Society 5.0

Dies Natalis ke-62 UNM, Prof. Rokhmin Dahuri Beberkan Pengembangan SDM Unggul Di Era Society 5.0
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS.

ASKARA - Universitas Negeri Makassar menggelar acara Dies Natalis ke-62 di Kampus UNM, Makassar, Selasa, 1 Agustus 2023. Dies Natalis ini menghadirkan Pakar Kelautan dan Perikanan Indonesia, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS.

Dalam paparannya, Prof Rokhmin Dahuri mengatakan, Perguruan Tinggi (PT) berperan dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan mampu menghadapi Society 5.0. Proses. Untuk itu, PT harus terus meningkatkan kapasitasnya (jadi a World-Class University)

“Melalui Tri Dharma (Pembelajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat) yang diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki 4 kemampuan (keahlian), yaitu: (1) kemampuan analisis & memecahkan masalah yang kompleks, (2) berpikir kritis, (3) kreatif & inovatif, dan (4) kolaboratif,” ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University saat menyampaikan kuliah umum bertema “Pengembangan SDM Unggul Di Era Society 5.0 Menuju Indonesia Emas 2045”.

Untuk itu, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University tersebut menyatakan, yang harus dilakukan dalam dies natalis, antara lain: Pertama, bersyukur kepada Allah SWT, Tuhan YME atas berjuta nikmat yang kita dapatkan di tahun lalu. Kedua, evaluasi diri, kontemplasi, dan muhasabah. Ketiga, apa yang harus kita kerjakan ke depan, supaya UNM yang sudah baik, dapat lebih baik lagi, hingga menjadi a Pancasila-Based World Class University”: (1) lulusan unggul, (2) penelitian menghasilkan inovasi dan publikasi ilmiah berkelas dunia, dan (3) PKM nya empowering pemerintah dan masyarakat.

Lanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri memberikan gambaran Umum perguruan tinggi Indonesia. Pada 2020 ada 4.593 Perguruan Tinggi, 8,48 Juta Mahasiswa terdaftar, 29.413 Program Studi, 312.890 Dosen. Dari 50 Perguruan Tinggi Terbaik dari 4.700 Perguruan Tinggi di Indonesia 2021 Universitas Negeri Makassar masuk pada peringkat 29.

Mengutip Kemenristek Dikti/Kemendikbud Ristek, Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan, strategi pembangunan pendidikan. Antara lain: Pertama, Kualitas dan Layanan Pendidikan Merata. Kedua, Peran Masyarakat dalam Pembangunan Pendidikan. Ketiga, Profesionalisme Guru dan Perubahan Metode Pembelajaran. Keempat, Budaya Sekolah dan Baca. Kelima, Pendidikan Vokasi, Enterpreneurship, dan Karakter.

“Pada umumnya lulusan Perguruan Tinggi Indonesia kurang kompeten, kurang siap bekerja, karakter (etos kerja) nya lemah, rendah entrepreneurrship nya, mismatch dengan dunia kerja (industri & pemerintah), dan kalah daya saing dengan lulusan PT LN,” kata Honorary Ambassador of Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, South Korea itu.

Selain itu, produktivitas riset (R & D) berupa publikasi di jurnal ilmiah internasional ternama, invention (prototipe), dan innovation (commercial technology) masih rendah; Kontribusi kegiatan Pengabdian Masyarakat bagi pemberdayaan masyarakat, pembangunan wilayah, dan peningkatan kapasitas pemerintahan belum signifikan;

Prof. Rokhmin Dahuri menyebutkan, Industry 4.0 dan Society 5.0 hanya berhasil dalam hal Kemajuan IPTEK dan Kehidupan Materialistik, tetapi Gagal mengatasi Economic Inequality, Poverty, Hunger, Kerusakan LH dan Global Warming, dan Kebejatan Moral.

Fakta empiris dan sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa yang maju, sejahtera (adil-makmur) adalah yang kualitas SDM nya unggul, mampu menguasai dan menerapkan IPTEK dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan menghasilkan inovasi.  

“Kualitas SDM unggul seperti diatas dapat dibangun melalui: (1) sistem kesehatan yang prima, (2) sistem pendidikan berkelas dunia berbasis Pancasila (a Pancasila-Based World Class University), dan (3) sistem kehidupan masyarakat yang meritokrasi,” tuturnya.

Menurutnya, sistem pendidikan berkelas dunia berbasis Pancasila sangat mendasar dan urgen diterapkan.  Sebab, Sistem Pendidikan Kapitalis (Industry 4.0), yang semata bersifat materialistik dan duniawi, hanya sukses dalam hal inovasi IPTEKS dan kemewahan kehidupan materialistik, tetapi gagal dalam mengatasi economic inequality, poverty, hunger, triple ecological crises, dan kebejatan moral dan social illness. “Mengapa Industry 4.0 gagal, karena tidak mencakup dimensi kemanusiaan dan spiritual (akhirat, Tuhan),” tandas Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 – Sekarang.

Selain itu, lanjutnya, society 5.0 pun bakal gagal, karena memperbaiki Industry 4.0 hanya dari aspek jasmani dan duniawi.  Padahal, sejatinya (faktanya), manusia itu tersusun atas unsur jasmani (fisik) dan ruhani; dan kehidupan itu, bukan hanya di dunia fana ini, tetapi juga alam akhirat yang kekal dan abadi.

Sejatinya, kata Prof. Rokhmin Dahuri. Pancasila, terutama Sila-1 (Ketuhanan YME), Sila-2 (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab), dan Sila-5 (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia) akan mampu menyempurnakan kegagalan Industry 4.0 dan Society 5.0. “ Sebab, orang yang beriman kepada Tuhan YME dan akhirat, pasti tidak akan dzalim, sombong, dengki, pembohong, malas, kikir, dan kemaksiatan lainnya.  Sebaliknya, dia akan beretos kerja unggul, dan berakhlak mulia,” terang Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia itu.

Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan  World-Class University  versi Industry 4.0 dan Society 5.0. Yakni:  Anggaran & Dana; Fakultas & Program Studi, Kurikulum, Metoda Pengajaran, Tata Kelola PT; The Best SDM, Akademik, Peneliti, Non-Akademik; Mahasiswa Baru  Yang Unggul; Inrastruktur & Sarana. Catatan: IMTAQ & Akhlak Mulia mutlak diperlukan untuk atasi Kegagalan Sistem Pendidikan Kapitalis,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof, Rokhmin Dahuri menegaskan, keterampilan dan keahlian sangat dibutuhkan di Era Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0 (WEF, 2023). Antara lain: 1. Pemikiran Analitis dan Kreatif, 2. Literasi Teknologi, 3. Rasa Ingin Tahu dan Pembelajaran Seumur Hidup, 4. Ketahanan dan Fleksibilitas (Antisipasi dan Adaptasi), 5. Pemikiran Sistem dan AI (Kecerdasan Buatan), 6. Ilmu Data dan Big data, 7. Pengembangan Keterampilan Lokal, 8. Keterampilan Interpersonal, 9. Kemampuan memahami dan bekerja dengan teknologi, 10. Ilmu dan Teknologi Keberlanjutan.

World-Class University Versi Pancasila     

Guru Besar Kehormatan Mokpo National University, Korea Selatan ini membeberkan, fungsi Pendidikan Nasional yaitu: Pemerintah berkewajiban menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang (Pasal 31 ayat 3, Amandemen UUD 1945).

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). 

Sementara Fungsi & Peran Perguruan Tinggi (Tri Dharma), antara lain: Penelitian: Informasi ilmiah sebagai dasar Perencanaan dan Pengambilan Keputusan Pembangunan, investasi, dan Bisnis; Inovasi: Produk, Teknologi Proses Produksi, Marketing Strategiy, Business Models; Publikasi Ilmiah  di Jurnal Ilmiah Internasional yang kredibel; Semakin Mengenal dan Beriman kepada Tuhan YME Meningkat-kan IMTAQ.

Pengajaran: Perbaikan Sistem & Mekanisme Pengajaran sesuai Perkembang-an Zaman secara berkesinambungan; Alumni Unggul: Kompeten IPTEK, Soft Skills baik, Etos kerja unggul, Akhlak mulia, IMTAQ kokoh, Sukses & bahagia Dunia-Akhirat, Bermanfaat bagi Indonesia & Dunia.

Kemudian melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat melalui  KKM: Memahami & merasakan Kehidupan Rakyat, Menganalisis Potensi & Permasalahan Pembangunan, Merekomendasikan Program Pembangunan, Capacity Building untuk Masyarakat.

Membantu Pemda: Menyusun Rencana Pembangunan, Desimenasi & Adopsi Inovasi Teknologi, MONEV & Pendampingan Implementasi Program Pembangunan. Pemberdayaan Masyarakat: Pendidikan, Pelatihan, Penyuluhan, Pendamping-an. Peningkatan Daya Saing, Pertumbuhan Ekonomi Inklusif, & Kesejahteraan Rakyat Berkelanjutan, Indonesia Emas 2045. “A Better and Sustainable World,” tukas Prof. Rokhmin Dahuri.

Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara) itu menguraikan legacies keberhasilan pendidikan dan riset di masa kejayaan Umat Islam (Abad-8 s/d Abad-17). Sejak pertama kali berdirinya Universitas di dunia, Bayt Al-Hikmat di Bagdhad, melalui 3 tugas-fungsi  (domain) utamanya (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat/Community Services); Universitas telah berperan dan berkontribusi sangat signifikan bagi pembangunan peradaban umat manusia pada umumnya, dan pembangunan ekonomi (economic development) pada khususnya; Bayt Al-Hikmat menjadi rujukan Oxford University, Cambridge University, dan Sorbone University (Wallace-Murphy, 2017).

“Dengan inspirasi Al-Qur’an (Ayat-ayat Qauliyah) dan Ayat-ayat Qauniyah, lahir ratusan ilmuwan dan inovator Muslim dengan reputasi sepanjang masa,” terangnya.

Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri merekomendasikan Universitas Negeri Makassar untuk menjadi A Pancasila-Based World-Class University. Yaitu: Pertama, Pendirian PROD I baru: (1) INDUSTRY 4.0, (2) SOCIETY 5.0, dan (3) “Ilmu, Teknologi, dan Manajemen Lingkungan” terutama “Science and Technology of Changing Planet”.

Kedua, Penambahan Mata Kuliah baru yang wajib diikuti oleh semua PRODI: (1) Teknologi dan Ekonomi Digital (Digitalisasi, IoT, AI, Blockchain, Robotics, Big Data, Cloud Computing, dan Metaverse); (2) Ekonomi Hijau (Green Economy) dan Ekonomi Biru (Blue Economy), dan Ekonomi Pancasila.

Ketiga, Implementasi MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) semaksimal dan sebaik mungkin. 4. Penambahan dan penguatan Dosen dan tenaga non-akademik berkelas dunia.

Kelima, Renovasi dan pembangunan baru infrastruktur dan sarana Kampus, seperti Laboratorium yang lengkap, fasilitas gedung dan ruang belajar yang memadai, dukungan fasilitas perpustakaan dan sebagainya.

Keenam, Semua komponen UNM (Dosen, Mahasiswa, Tenaga Non-Akademik, dan Pimpinan) mesti mengeluarkan kemampuan terbaiknya, dan bekerjasama secara sinergis. Ketujuh, Peningkatan Kolaborasi Penta Helix: UNM – Pemerintah – Industri (Swasta) – Masyarakat – Media Masa.

Kedelapan, Perbaikan tata kelola (governance) UNM. Kesembilan, Peningkatan anggaran: APBN, APBD, Donasi (nasional dan luar negeri), dan lainnya. Kesepuluh, Peningkatan IMTAQ menurut agama masing-masing, dan saling menghormati antar pemeluk agama (hidup harmonis).

Sebelumnya, Prof. Rokhmin Dahuri juga menguraikan Permasalahan & Tantangan Pembangunan Indonesia antara lain: 1. Pertumbuah Ekonomi Rendah (< 7% per tahun), 2. Pengangguran & Kemiskinan, 3. Ketimpangan Ekonomi Terburuk ke-3 di Dunia, 4. Disparitas Pembangunan Antar Wilayah, 5. Fragmentasi Sosial: Kadrun vs Cebong, dll, 6. Deindustrialisasi, 7. Kedaulatan Pangan, Farmasi, dan Energi Rendah, 8. Inovasi, Daya Saing & IPM Rendah, 9. Kerusakan Lingkungan & SDA, 10. Volatilitas Global (Perubahan Iklim, China vs AS, Industry 4.0 & Society 5.0).

Sedangkan perbandingan pertumbuhan ekonomi, pengangguran, kemiskinan, dan  koefisien Gini antara sebelum dan saat masa Pandemi Covid-19, perhitungan angka kemiskinan atas dasar garis kemiskinan versi BPS yakni pengeluaran Rp 550.000/orang/bulan. Garis kemiskinan = Jumlah uang yang cukup untuk seorang memenuhi 5 kebutuhan dasarnya dalam sebulan. Sementara, menurut garis kemiskinan Bank Dunia (2,5 dolar AS/orang/hari atau 75 dolar AS (Rp 1.125.000)/orang/bulan), jumlah orang miskin pada 2022 sebesar 100 juta jiwa (37% total penduduk).

Sejak krisis multidimensi 1997 – 1998, Indonesia mengalami deindustrialisasi, yakni suatu kondisi perekonomian negara, dimana kontribusi sektor manufakturing (pengolahan) nya sudah menurun, tetapi GNI per kapitanya belum mencapai 12.695 dolar AS (status negara makmur). Pada 1996 kontirbusi sektor manufacturing terhadap PDB Indonesia sudah mencapai 29%, tapi tahun 2020 kontribusinya hanya sebesar 19%Padahal, seperti sudah saya sebutkan diatas, GNI perkapita Indonesia tahun lalu hanya 3.870 dolar AS.

Yang sangat mencemaskan adalah bahwa 30% anak-anak kita mengalami stunting, 17,7% bergizi buruk, dan 10,2% berbadan kurus akibat kurang makanan bergizi (Kemenkes dan BKKBN, 2022). Apabila masalah krusial ini tidak segera diatasi, maka generasi penerus kita akan menjadi generasi yang lemah fisiknya dan rendah kecerdasannya (a lost generation).

Resultante dari kemiskinan, ketimpangan ekonomi, stunting, dan gizi buruk adalah IPM Indonesia yang baru mencapai 72 tahun lalu. “Padahal, menurut UNDP sebuah bangsa bisa dinobatkan sebagai bangsa maju dan makmur, bila IPM nya lebih besar dari 80,” katanya.

Ironisnya, sambung Prof. Rokhmin Dahuri, dengan status masih sebagai negara berpendapatan menengah bawah, tingginya angka kemiskinan, besarnya angka stunting, gizi buruk, dan rendahnya IPM; berbagai jenis SDA seperti minyak dan gas, batubara, tembaga, dan hutan sudah banyak yang mengalami overeksploitasi atau terkuras habis.

Yang memprihatinkan Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi (terburuk) di dunia. Menurut laporan Credit Suisse’s Global Wealth Report 2019, 1 persen orang terkaya sama dengan 45 persen kekayaan Negara , sementara 10% orang terkaya menguasai 74,1%. Kekayaan 4 orang terkaya (US$ 25 M = Rp 335 T) sama dengan total kekayaan 100 juta orang termiskin (40% penduduk) Indonesia (Oxfam, 2017). Sekitar 0,2% penduduk terkaya Indonesia menguasai 66% total luas lahan nasional  (KPA, 2015).

“Ketimpangan sosial ini, akan berdampak buruk terhadap kohesifitas sosial, stabilitas politik, dan akhirnya mengguncang iklim investasi dalam negeri,” kata Prof. Rokhmin Dahuri.

Selanjutnya, Prof Rokhmin Dahuri menjabarkan, pertumbuhan ekonomi dan kontribusi PDRB menurut Pulau, Triwulan III dan IV-2022 masih di dominasi oleh kelompok Provinsi Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB TW-3 Sebesar 56,3% dan TW-4 Sebesar 56,48%.

Sementara itu, klasifikasi negara berdasarkan indeks pencapaian teknologi, Indonesia juga masih berada di kelas ketiga atau kategori Technology Adoptor Countries menduduki peringkat-99 dari 167 negara. Indonesia juga menduduki peringkat ke-3 sebagai negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi (terburuk) di dunia.

Disisi lain, biaya yang diperlukan orang Indonesia untuk membeli makanan bergizi seimbang (sehat) sebesar Rp 22.126/hari atau Rp 663.791/bulan. Harga tersebut berdasarkan pada standar komposisi gizi Helathy Diet Basket (HDB) (FAO, 2020). Maka, atas dasar perhitungan diatas; ada 183,7 juta orang Indonesia (68% total penduduk) yang tidak mampu memenuhi biaya teresebut (Litbang Kompas, 2022 di Harian Kompas, 9 Desember 2022).

Kekurangan rumah yang sehat dan layak huni dari 65 juta rumah tanga, masih 61,7 rumah tidak layak huni. Padahal, perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia (human basic needs) yang dijamin dalam Pasal 28, Ayat-h UUD 1945.

Pada prinsipnya ada 5 kecenderungan global (key global trends) yang mempengaruhi kehidupan dan peradaban manusia di abad-21, yakni: (1) jumlah penduduk dunia yang terus bertambah; (2) Industri 4.0 (Revolusi Industri Keempat); (3) Perubahan Iklim Global (Global Climate Change); (4) Dinamika Geopolitik; (5) Era Post-Truth.

Pertama adalah jumlah penduduk dunia yang terus bertambah. Pada 2011 jumlah penduduk dunia sebanyak 7 milyar orang, kini sekitar 7,9 milyar orang, tahun 2050 diperkirakan akan menjadi 9,7 milyar, dan pada 2100 akan mencapai 10,9 milyar jiwa (PBB, 2021).

Implikasinya tentu akan meningkatkan kebutuhan (demand) manusia akan bahan pangan, sandang, material untuk perumahan dan bangunan lainnya, obat-obatan (farmasi), jasa pelayanan  kesehatan, jasa pelayanan pendidikan, prasarana dan sarana transportasi dan komunikasi, jasa rekreasi dan pariwisata, dan kebutuhan manusia lainnya.

Implikasi selanjutnya adalah bahwa magnitude dan laju eksplorasi serta eksploitasi SDA dan jasa-jasa lingkungan (envrionmental services) baik di wilayah (ekosistem) daratan, lautan maupun udara akan semakin meningkat.

Kedua, era Industri 4.0 (Revolusi Industri Keempat) yang melahirkan inovasi teknologi dan non- teknologi baru yang mengakibatkan disrupsi hampir di semua sektor pembangunan dan aspek kehidupan manusia. Jenis-jenis teknologi baru yang lahir dan berubah super cepat di era Industri 4.0 berbasis pada kombinasi teknologi digital, fisika, material baru, dan biologi.

Antara lain adalah IoT (Internet of Things), AI (Artificial Intelligence), Blockchain, Robotics, Cloud Computing, Augmented Reality dan Virtual Reality (Metaverse), Big Data, Biotechnology, dan Nannotechnology (Schwab, 2016). Namun, hingga saat ini perkembangan industri teknologi digital masih bergerak pada sektor jasa dan distribusi saja (e-commerce dan e-government).

“Padahal seharusnya pemanfaatan berbagai teknologi industry-4.0 dapat meningkatkan dan mengefektifkan sektor eksplorasi, produksi, dan pengolahan (manufacturing) SDA untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang terus meningkat secara berkelanjutan,” terang Ketua Dewan Pakar Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) itu.

Ketiga, Perubahan Iklim Global (Global Climate Change) beserta segenap dampak negatipnya seperti gelombang panas, cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, pemasaman laut (ocean acidification), banjir, kebakaran lahan dan hutan, dan peledakan wabah penyakit; bukan hanya mengurangi kemampuan ekosistem bumi untuk menghasilkan bahan pangan, farmasi, energi, dan SDA lainnya. Tetapi, juga akan membuat kondisi lingkungan hidup yang tidak nyaman bahkan dapat mematikan kehidupan manusia (Sach, 2015; Al Gore, 2017).

Keempat, ketegangan geopolitik yang menjurus ke perang fisik (militer) seperti yang terjadi antara Rusia vs Ukraina. Ketegangan geopolitik yang lebih besar sebenarnya adalah antara AS serta para sekutunya (seperti Jepang, Australia, Inggris, dan Uni Eropa) vs China serta sekutunya (seperti Rusia, Korea Utara, dan Iran). Selain karena faktor ideologi, penyebab ketegangan geopolitik dan perang adalah perebutan wilayah dan SDA (resource war).

Sejumlah kawasan sangat rawan terjadinya perang, sperti Timur Tengah, Afrika, Laut China Selatan, Semenanjung Korea, dan Asia Timur. Invasi Rusia terhadap Ukraina telah memicu kenaikan harga pangan dan energi, inflasi yang tinggi, dan resesi ekonomi global. Akibat dari terganggunya produksi pupuk, pangan, dan energi serta rantai pasok global.

Kelima, Post-truth atau Paska Kebenaran adalah kondisi di mana fakta (kebenaran) tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal (Hartono, 2018). Post-truth dianggap sebagai fenomena disrupsi dalam dunia politik yang secara besar-besaran diintensifkan oleh teknologi digital secara masif menjadi suatu prahara (Wera, 2020).

Pada era post-truth sekarang ini bangsa Indonesia perlu bersikap waspada karena hoaks politik dapat melemahkan ketahanan nasional, bahkan memecah belah NKRI, sehingga mengganggu proses pembangunan nasional yang sedang berjalan (Amilin, 2019).

Kelima kecenderungan global diatas mengakibatkan kehidupan dunia bersifat VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, and Ambiguous), bergejolak, tidak menentu, rumit, dan membingungkan (Radjou and Prabhu, 2015). Oleh sebab itu, sistem dan lembaga Pendidikan Tinggi harus mampu mendesain dan memberikan kapasitas kepada para mahasiswa nya dan bangsa Indonesia yang dapat mengelola atau mengatasi fenomena VUCA tersebut.

Sosial-Ekonomi Saat Ini - Kondisi Politik Dunia

Sebelum Pandemi Covid-19 pada Desember 2019, sekitar 2,5 miliar orang hidup dalam kemiskinan dengan pengeluaran harian kurang dari US$ 2,5 sedangkan sekitar 1 miliar orang hidup dalam kemiskinan ekstrim dengan pengeluaran kurang dari USD 1,9 per hari, dan 700 juta. kelaparan (Bank Dunia, 2020).

Kemudian, akibat Pandemi Covid-19, Perang Rusia vs Ukraina, dan meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya antara AS dan China; dunia dihadapkan pada krisis pangan dan energi, inflasi tinggi, dan perlambatan ekonomi global (resesi). Akibatnya, saat ini jumlah orang miskin dunia menjadi 3 miliar, sangat miskin 1,5 miliar orang, dan 1 miliar kelaparan.

Saat ini, 2,3 miliar orang (28,75% dari populasi dunia) tinggal di negara-negara yang mengalami tekanan air (PBB, 2023). Pada tahun 2020, 2 miliar orang tidak memiliki akses ke air minum, 3,6 miliar orang (45% dari populasi dunia) tidak memiliki toilet di rumah, dan 2,3 miliar orang tidak memiliki cara untuk mencuci tangan di rumah, kondisi sanitasi yang buruk menyebabkan penyakit (PBB, 2020).

Kondisi seperti itu jauh dari SDGs yang ditetapkan PBB pada 2015. Salah satunya adalah “menjamin akses air dan sanitasi untuk semua pada 2030”. Ketimpangan ekonomi yang melebar (kesenjangan antara kaya vs miskin) baik di dalam maupun antar negara.

Kerusakan lingkungan yang masif dan meluas mengakibatkan tiga krisis ekologi: Polusi, Hilangnya Keanekaragaman Hayati, dan Pemanasan Global (Global Climate Change). Banyak orang yang mengalami dipresi (stres), 1 dari 7 remaja di dunia menderita tekanan jiwa, dan 1 dari 3 remaja di Indonesia mengalami tekanan jiwa (Kompas, 24-7-2023).

Ketimpangan ekonomi dunia yang semakin melebar. Kekayaan 10 orang terkaya naik dua kali lipat, sedangkan pendapatan 99% dunia tersendat (Oxfam International, 2022). Bank Dunia memproyeksikan bahwa tanpa upaya untuk mengatasi ketimpangan, tingkat kemiskinan tidak akan kembali ke tingkat sebelum krisis bahkan pada tahun 2030 (Bank Dunia, 2022).

Pada tahun 2010, 388 orang terkaya di dunia memiliki lebih banyak kekayaan daripada seluruh bagian bawah populasi dunia (3,3 miliar orang). Pada tahun 2017, kelompok terkaya yang memiliki kekayaan melebihi separuh penduduk dunia terbawah telah menyusut menjadi hanya 8 orang. Ketimpangan kekayaan yang begitu tinggi tidak hanya terjadi antar negara, tetapi juga di dalam Negara (Oxfam Internasional, 2019).

Pada tahun 2019 negara-negara maju (kaya) dengan populasi hanya 18% dari populasi dunia mengkonsumsi sekitar 70% energi dunia, yang sebagian besar (87%) berasal dari bahan bakar fosil, yang merupakan faktor utama penyebab Pemanasan Global (IPCC, 2019 ). Dari tahun 1970 hingga 2018, populasi satwa liar dunia menurun sebesar 68% (WWF, 2023).

Perubahan Iklim Global dapat secara langsung merugikan ekonomi dunia sebesar US$ 7,9 triliun pada pertengahan abad karena meningkatnya kekeringan, gelombang panas, wabah penyakit, banjir, dan gagal panen menghambat pertumbuhan dan mengancam infrastruktur (EIU, 2019). Jika suhu bumi meningkat lebih tinggi dari 1,50C dari pengukuran dasar (Pre-Industry Era, 1800), maka dampak negatif Pemanasan Global tidak dapat dikendalikan (IPCC, 2019).

Di seluruh dunia, khususnya di daerah perkotaan, terjadi peningkatan tingkat stres, ketegangan, dan perselisihan dalam urusan manusia, disertai dengan dan meningkatnya semua gejala anomie (penyakit sosial), seperti frustrasi, kriminalitas, alkoholisme, kecanduan narkoba. , HIV/AIDS, perceraian, pemukulan anak, penyakit mental dan bunuh diri, semuanya menunjukkan kurangnya kepuasan batin dalam kehidupan individu (Brown, 2003; Chapra, 1995).

Ketidakadilan ekonomi, pengangguran, kemiskinan absolut, dan diskriminasi politik telah banyak dilaporkan dan diyakini sebagai akar penyebab radikalisme dan terorisme (Cavanagh dan Mander, 2004).Industry 4.0 Dan Society 5.0

Pada intinya, Industry 4.0 adalah suatu era peradaban umat manusia mulai dari tahun 2000 sampai ditemukannya Industry 5.0 (Revolusi Industri ke-5), yang digerakkan oleh sejumlah teknologi baru, terutama kombinasi di bidang teknologi digital (IoT, Big Data, Blockchain, AI, Robotics, dan Cloud Computing); fisika (new materials, nanotechnology); dan biologi (bioteknologi)  Dominasi tekonologi digital, khususnya Robotics dan AI, atas karya dan pekerjaan manusia, pudarnya humanisme (nurani, akhlak) dunia akan collapse.

Society 5.0 pada dasarnya memperbaiki (menyempurnakan) Industry 4.0, dengan menekankan bahwa manusia yang harus mengendalikan dan mengelola penggunaan segenap tekonologi Industry 4.0 untuk kehidupan manusia yang lebih sejahtera dan damai, serta bumi yang lebih baik dan berkelanjutan.

Kondisi Kehidupan Umat Manusia di Era Industry 4.0

Prof. Rokhmin Dahuri menerangkan, semakin banyak barang dan jasa yang diproduksi, dioperasikan, dan dihantarkan oleh robot dan AI (Kecerdasan Buatan) berbasis Big Data, IoT, dan Blockchain.  “Robot dan AI tidak hanya akan mengubah cara kita bekerja, tetapi juga cara kita hidup,” kata Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Lautan, Universitas Bremen, Jerman itu.

Butuh 75 tahun bagi telepon untuk mencapai 100 juta pengguna, tetapi hanya butuh dua bulan bagi ChatGPT untuk mendapatkan jumlah pengguna yang sama. Saat ini, ChatGPT membanggakan 1,8 miliar pengunjung per bulan Ini menunjukkan kekuatan besar dan pertumbuhan Robot dan AI yang cepat, yang memimpin umat manusia ke era ekonomi dan peradaban baru (Yan Ing, 2023).

Penggunaan Robots dan AI telah dan akan mempengaruhi perekonomian dunia melalui 3 aspek: produktivitas, perdagangan (trade), dan ketengakerjaan. Adopsi Robot dan AI telah menunjukkan efek positif pada produktivitas, baik di tingkat perusahaan (perusahaan) maupun secara agregat (ekonomi suatu negara).

Robot Industri dan sistem AI berkontribusi pada peningkatan produktivitas yang signifikan dengan memungkinkan proses kerja yang lebih akurat dan presisi, yang mengarah pada pengurangan biaya produksi. Robot mampu melakukan tugas lebih cepat daripada manusia, dengan presisi dan akurasi yang lebih tinggi.

AI dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi masalah di sepanjang lini produksi dan memanfaatkan daya komputasi sebagai masukan untuk produksi. Pekerja di perusahaan yang telah mengadopsi robot industri dan mesin otomatis di Indonesia ditemukan 49 persen lebih produktif dibandingkan dengan pekerja di perusahaan non-otomatis.

Di tingkat global, perusahaan yang mengadopsi Robot dan AI cenderung menghasilkan lebih banyak output dan memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Mereka juga cenderung menunjukkan pangsa ekspor yang lebih tinggi, menawarkan pasar barang yang lebih beragam dan berkualitas lebih tinggi.

Adopsi Robot dan AI memfasilitasi perdagangan barang dan jasa. Peningkatan kepadatan Robot sebesar 10 persen di negara maju dikaitkan dengan peningkatan ekspor sebesar 12 persen ke negara berkembang. Selain itu, penyebaran Robot dan AI yang lebih besar mengarah pada peningkatan perdagangan jasa, yang pada akhirnya meningkatkan perdagangan global.

Robot dan AI akan memengaruhi tenaga kerja dalam 3 cara. Antara lain: Pertama, adanya efek displacement, dimana pekerjaan rutin akan digantikan oleh Robot dan AI, sehingga menimbulkan efek negatif pada tenaga kerja yang kurang terampil akibat mekanisme displacement.

Kedua, ada efek produktivitas, karena Robot dan AI berdampak positif pada tenaga kerja dan upah dengan meningkatkan produktivitas dan daya saing perusahaan. Ketiga, ada efek pemulihan, di mana Robot dan AI mengintegrasikan kembali pekerja ke dalam berbagai tugas, sehingga mengubah sifat tugas demi pekerja terampil.

Namun, kita harus hati-hati dan waspada terkait penggunaan Robots dan AI serta dampaknya bagi kehidupan Umat Manusia.  Pasalnya, dengan sistem neuron AI saat ini, AI memiliki lebih banyak pengetahuan daripada manusia mana pun di Bumi. AI juga beroperasi 125.000 kali lebih cepat dari otak manusia.

Jumlah instalasi Robot tahunan di seluruh dunia meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam dekade terakhir, mencapai total lebih dari 500.000 pada akhir tahun 2021. Investasi perusahaan global dalam AI telah meningkat 17 kali lipat sejak 2015, mencapai US$190 miliar pada tahun 2022.

Jika AI jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab, itu bisa menimbulkan tantangan signifikan bagi keberadaan manusia. Oleh karena itu, kami perlu memastikan bahwa sumber daya dan kapasitas pengembangan Robot dan AI seimbang dengan perlindungan dan peraturan yang sesuai.

Seiring dengan pengembangan Robot dan AI, merupakan tanggung jawab kami untuk memastikan bahwa mereka dikelola dengan baik, diatur, berpusat pada manusia (Masyarakat 5.0), dan dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, dan untuk dunia yang lebih baik dan berkelanjutan.

Society 5.0 yang digagas oleh Jepang pada 2019 adalah masyarakat yang menggunakan teknologi mutakhir (state of the art technology), yakni segenap teknologi Era Industry 4.0 untuk menghasilkan barang dan jasa yang terbaik (top quality, harga relatif murah, aman, dan suplai berkelanjutan) guna memenuhi kebutuhan manusia, dengan tujuan agar manusia dapat hidup dengan nyaman.

Society 5.0 atau Super Smart Society adalah masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial, melalui sistem yang mengintegrasikan dunia maya (digital) dan ruang fisik.

Apa itu Society 5.0? Prof.  Rokhmin Dahuri menjelaskan. masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui system yang sangat mengintegrasikan dunia maya dan ruang fisik. Sosiety 5.0 ini dianggp mirip Industri 4.0, tetapi konsepnya jauh lebih luas yang sepenuhnya mentranformasi cara hidup.

Peta Jalan Pembangunan Menuju Indonesia Emas 2045

Pendekatan sistem untuk peta jalan pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Persyaratan dari Negara Middle-Income menjadi Negara Maju, Adil-Makmur dan Berdaulat: 1. Pertumbuhan ekonomi berkualitas rata-rata 7% per tahun selama 10 tahun. 2. Investasi + Ekspor > Konsumsi + Impor. 3. Koefisien Gini < 0,3 (inklusif), 4. Ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Definisi Transformasi Struktural Ekonomi  yaitu, Transformasi Ekonomi Struktural melibatkan realokasi faktor produktif dari pertanian tradisional ke pertanian modern, industri manufaktur, dan jasa; dan realokasi faktor-faktor produktif tersebut di antara kegiatan sektor manufaktur dan jasa.

Ini juga berarti mengalihkan sumber daya (faktor produktif) dari sektor produktivitas rendah ke sektor produktivitas tinggi. Hal ini juga terkait dengan kemampuan negara untuk mendiversifikasi struktur produksi nasional yaitu membangkitkan kegiatan ekonomi baru, memperkuat keterkaitan ekonomi dalam negeri, dan membangun kemampuan teknologi dan inovasi dalam negeri. (United Nations, 2008)

Tujuh Kebijakan Pembangunan TSE untuk Indonesia, antara lain: Pertama, dari dominasi eksploitasi SDA dan ekspor komoditas (raw materials) dan buruh murah, ke dominasi sektor manufaktur atau HILRISASI (sektor sekunder) dan sektor jasa (sektor tersier) yang produktif, berdaya saing, inklusif, mensejahterakan, dan berkelanjutan (sustainable).

Kedua, dari dominasi impor dan konsumsi ke investasi, produksi, dan ekspor. Ketiga, modernisasi sektor primer (kelautan dan perikanan, pertanian, kehutanan, dan ESDM) secara produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Sedangkan ciri Ekonomi Modern: Pertama, ukuran unit usaha memenuhi economy of scale. Kedua, menerapkan ISCMS (Integrated Supply Chain Management System). Ketiga, menggunakan teknologi mutakhir pada setiap mata rantai Supply Chain System, dan Keempat, mengikuti prinsip-prinsip Sustainable Development.

Keempat, revitalisasi industri manufakturing yang unggul sejak masa Orba: (1) Mamin, (2) TPT (Tekstil dan Produk Tekstil), (3) Elektronik, (4) Otomotif, (5) Pariwisata, dan lainnya. Kelima, pengembangan industri manufakturing baru: EBT, Semikonduktor, Baterai Nikel, Bioteknologi, Nanoteknologi, Kemaritiman, Ekonomi Kreatif, dan lainnya.

Keenam, pengembangan berbagai Ekonomi dan Industri di Luar Jawa, Wilayah Perdesaan, dan Wilayah Perbatasan untuk memperbaiki disparitas pembangunan antar wilayah. “Ketujuh, semua pembangunan ekonomi (butir-1 s/d 4) mesti berbasis pada Pancasila (pengganti Kapitalisme), Ekonomi Hijau (Green Economy) dan Ekonomi Digital (Industry 4.0) serta TKDN > 70%,” pungkas Prof. Rokhmin Dahuri.

Komentar