Memaknai Hijrah: Solidaritas Muslim di Tengah Dunia yang Tertindas
Oleh: Rahmat Mulyana
ASKARA - Hijrah dan pengungsian adalah dua fenomena yang memiliki makna yang mendalam dalam sejarah perjuangan awal Nabi Muhammas SAW. Saat ini, dalam dunia yang penuh dengan konflik dan kekerasan, jutaan orang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka demi mencari keamanan dan perlindungan. Menurut data dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), pada tahun 2022 terdapat sekitar 100 juta pengungsi di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 82,4 juta adalah pengungsi internal yang mengungsi ke dalam negeri mereka sendiri karena konflik atau kekerasan, sementara 16,4 juta adalah pengungsi internasional yang melarikan diri ke negara lain karena konflik atau kekerasan. Dari 16,4 juta pengungsi internasional, sekitar 53,2 persen adalah Muslim. Suriah, Afghanistan, dan Sudan Selatan adalah negara dengan jumlah pengungsi Muslim terbanyak.
Namun, terdapat ketidakseimbangan dalam penerimaan pengungsi oleh negara-negara Muslim. Termasuk yang terbesar sebagai negara penerima pengungsi internasional adalah Turki, Pakistan, dan Lebanon. Negara-negara Muslim kaya seperti Saudi Arabia, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait tidak menerima pengungsi sama sekali. Indonesia? mungkin sedang sibuk urusan internalnya. Hal ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk dari sesama Muslim.
Datangnya bulan Muharram dan perayaan Tahun Baru Hijrah memiliki makna yang erat kaitannya dengan hijrah, pengungsian, dan keterusiran dari kampung halaman. Bagi mereka yang menjalankan sunnah hijrah, kita sebagai Muslim wajib memuliakan sesama Muslim yang mengalami kondisi tersebut.
Kewajiban Muslim untuk Memuliakan Pengungsi
Dalam Islam, memuliakan pengungsi adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
"Dan bersegeralah untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan untuk surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat senang dan susah, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Ali Imran: 133-134).
Dalam ayat tersebut, Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang yang menafkahkan hartanya pada saat senang dan susah, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain, adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT.
Menafkahkan harta untuk membantu pengungsi adalah salah satu bentuk menafkahkannya pada saat senang dan susah. Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain adalah salah satu bentuk menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.
Oleh karena itu, sebagai Muslim, kita wajib memuliakan pengungsi. Kita dapat memuliakan pengungsi dengan cara memberikan bantuan berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan uang. Kita juga dapat memuliakan pengungsi dengan cara bersikap baik kepada mereka, mendengarkan keluhan mereka, dan memberikan dukungan moral kepada mereka.
Dengan memuliakan pengungsi, kita telah menjalankan perintah Allah SWT dan telah membantu sesama Muslim yang sedang membutuhkan.
Salah satu ayat yang mengungkapkan pentingnya memuliakan sesama Muslim adalah Surah An-Nisa ayat 97. Dalam ayat tersebut, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang dijajah dan diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Tuhan kami ialah Allah’. Dan sekiranya Allah tidak menolak sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat, dan masjid-masjid yang banyak mengandung nama Allah. Dan tentulah pasti akan menolong orang-orang yang menolong (agama) Allah. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa" (QS An-Nisa: 97).
Ayat ini menyampaikan pesan bahwa bumi ini luas sehingga orang-orang yang tertindas memiliki kesempatan untuk berhijrah ke tempat lain. Allah menegaskan bahwa Dia akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya. Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, kita dituntut untuk memberikan bantuan kepada sesama Muslim yang mengalami pengungsian.
Selanjutnya, Surat An-Nisa Ayat 100 juga memberikan pengertian yang penting: "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Ayat ini menjelaskan bahwa bagi mereka yang berhijrah karena Allah, akan diberikan tempat hijrah yang luas dan rezeki yang berlimpah. Bahkan jika seseorang meninggal dalam perjalanan hijrah, pahalanya tetap ada di sisi Allah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya hijrah sebagai bagian dari keyakinan dan ketundukan kepada Allah.
Al-Quran mengajarkan pentingnya menolong sesama Muslim dalam kebaikan dan takwa.
Surat Al-Hujurat ayat 10 menegaskan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." Hal ini mengindikasikan bahwa semua orang mukmin memiliki hubungan persaudaraan yang erat dan saling membantu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.
Surat Al-Maidah ayat 2 juga memberikan penekanan: "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya."
Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu saling membantu dalam melakukan perbuatan baik dan menjauhi dosa serta pelanggaran. Menolong sesama Muslim dalam kebaikan dan takwa adalah cara untuk memperkuat ikatan persaudaraan dan memuliakan mereka yang membutuhkan bantuan.
Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW juga menekankan pentingnya menjaga persaudaraan dan membantu sesama Muslim. Beliau bersabda, "Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat" (HR Muslim dan Ahmad). Dalam hadis lain, beliau juga menyatakan, "Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya" (HR. Muslim).
Kedua hadis ini menegaskan bahwa Allah akan memberikan bantuan dan kelegaan kepada mereka yang membantu sesama Muslim. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan, memberikan dukungan, dan berjuang untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang tertindas.
Meneguhkan Makna Hijrah dan Menghargai Sesama Muslim
Ada beberapa yang mempertanyakan bidah merayakan Tahun Baru Hijriah. Meskipun hal itu menjadi perdebatan, namun yang lebih penting adalah menyadari bahwa ada Muslim yang hidup dalam kondisi yang sulit, sementara ada Muslim lain yang hidup dengan kemewahan. Beberapa Muslim terlantar di pengungsian, bahkan ada yang tenggelam di lautan karena perahu yang mereka tumpangi kelebihan muatan.
Dalam konteks ini, perdebatan tentang bidah menjadi kurang relevan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita sebagai Muslim dapat membantu sesama Muslim yang benar-benar membutuhkan, seperti mereka yang mengalami pengungsian dan keterusiran.
Ketika merayakan Tahun Baru Hijriah, kita harus mengambil waktu untuk merenungkan makna hijrah, pengungsian, dan pentingnya menolong sesama Muslim. Kita harus berkomitmen untuk menjalankan sunnah hijrah dalam bentuk memberikan bantuan, dukungan, dan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Bulan Muharram dan Tahun Baru Hijrah adalah momen yang tepat untuk merenungkan makna hijrah, pengungsian, dan pentingnya menolong sesama Muslim. Dalam Islam, solidaritas, persaudaraan, dan bantuan kepada sesama Muslim adalah prinsip yang sangat dijunjung tinggi. Dalam menghadapi dunia yang berisi berbagai penindasan, marilah kita menjaga makna hijrah dan menghargai sesama Muslim dengan memberikan dukungan, kasih sayang, dan perhatian yang tulus.

Komentar