Senin, 08 Juni 2026 | 07:52
OPINI

Rindu Gulai Kepala Ikan Kakap Menu Utama Dari Cafe Bintang

Rindu Gulai Kepala Ikan Kakap Menu Utama Dari Cafe Bintang
Jacob Ereste

Oleh: Jacob Ereste 

ASKARA - Catatan kosong yang sulit kucari isinya, Rabu pagi 14 Juni 2023 aku kangen menjenguk salah satu Markas Kaum pergerakan di Percetakan Negara IV No. 1 Jakarta. Bunda Indra Sugandi yang selalu menyediakan tempat berkumpul, bercengkrama bahkan berdiskusi serius tentang satu tema yang tengah mengemuka, tak ada di tempatnya. 

Aku bersua dengan Bunda Farida Abidin dan bercerita tentang pengalaman spiritual yang sangat luas, hingga aku kewalahan  menangkap dan mencerna sebagian dari apa yang dicerikatannya. Dia pun berkisah banyak tentang aktivitas dan kegiatannya bersama anak dan cucunya di Pert, Australia.

Semua kisah, erat terkait dengan pengalaman dan percercapan spiritual yang dialaminya secara pribadi. Karena memang banyak hal selalu dilakoninya sendiri. Agak berbeda dengan apa yang dialami Sro Eko Sriyanto Galgendu, misalnya yang selalu bisa dirujuk kepada sejumlah kesaksian, setidaknya pada Wowok Prastowo, orang yang terbilang dekat dengan dirinya sejak beberapa tahun silam.

Catatan kosong yang kumaksud pada bagian tulisan diatas artinya, aku tidak menemukan siapa&siapa di Caffe Bintang sejak pagi hingga waktu makan siang. Padahal, aku ingin sekali sesekali mentraktir Bang Lubis, umpamanya yang sudah sering memberi inspirasi dan ide bagus untuk tulisan yang bisa dibagi ke berbagai media yang Sudi memuat dan menyebar-luaskannya hingga bisa menjadi konsumsi banyak orang.

Tentu saja, tentang gurih dan enaknya sajian tulisan itu sangat tergantung pada cita rasa selera kawab-kawan atau pembaca yang beragam. Tapi yang pasti, lewat media WhatsApp saja tidak kurang dari 36 guru besar, 52 perwira tinggi dan 28 perwira menengah, tak kurang dari 64 tokoh agama serta 127 media online yang ikut menjadi penjaga nilai dan mutu dari sajian tulisan yang aku bagikan. Meskipun sangat mungkin ada yang rikuh pakewuh untuk memberikan kritik atau tanggapan yang mungkin tidak sepakat dengan narasi atau isi dari tulisan yang kusajikan itu.

Aku merasa prihatin, Cafe Bintang yang pernah aku unggulkan untuk menjadi tempat pertemuan beragam ide dan gagasan serta diskursus berbagai masalah untuk ditemukan cara penyelesaiannya, kini terkesan merana dan sepi. Padahal, lokasi dan ruangannya cukup strategis dan mumpuni untuk menampung sejumlah aktivis yang selalu giat melakukan kegiatan, termasuk merancang aksi guna menyampaikan aspirasi untuk perbaikan kebijakan yang dianggap tidak sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat.

Sejak dikelola Bang Yusuf almarhum -- dulu namanya Cafe Venus -- hingga kemudian dilanjutkan oleh Daeng Naba dengan Bana Cafe Bintang, sempat mencuat naik pamornya hingga sempat menjadi tempat berkumpul yang paling ideal dan diidolakan oleh para aktivis yang ada di Ibu Kota Jakarta.

Atas dasar mengidolakan Cafe Bintang itu menjadi tempat rujukan para aktivis -- sekaligus menjadi alamat pertemuan bagi aktivis yang berdatangan dari daerah -- pihak manajemen Cafe Bintang selalu saya beri masukan agar tidak Alfa menyajikan makanan khas singkong gorengnya yang sudah mengena dilidah kampung maupun lidah kota kawan-kawan. Tapi siang kemarin -- Rabu 24 Juni 2023, aku bersama Bunda Farida Abidin tidak menemukan seorang aktivis pun, termasuk Yudha Gemin yang terlanjur dipercaya menjadi penjaga gawang posko di Percetakan Negara IV No. 1 Jakarta ini. 

Sejumlah tokoh dan pengamat politik maupun pengamat sosial dan pemerhati kebijakan publik, pernah mengisi ruang Cafe Bintang, sehingga gaung dan aroma nafas perjuangan dari kaum pergerakan terlanjur semerbak di langit biru. Dan aku juga kangen suasa heroik seperti itu.

Sementara bagi kawan-kawan aktivis di daerah, Posko Percetakan Negara IV No. 4 Jakarta sudah dicatat sebagai tempat rujukan untuk bertemu dengan aktivis Jakarta yang sudah pernah biasa menjadikan tempat tongkrongan sehari-hari. Termasuk aktivis emak-emak yang dikomando Bunda Wati Imhar, sempat keranjingan berkunjung dan mengajak menyantap gulai kepala ikan kakap yang lezat sebagai menu unggulan dari Cafe Bintang. Lha, hari Rabu kemarin cuma bisa melahap ikan baronang bakar. Toh, rasa kecewa tidak bersua kawan-kawan tidak juga bisa dimanipulasi dari hati. Padahal, dua gelas kopi kental sudah habis terlahap sebelum makan siang yang cuma berdua Bunda Farida Abidin saja.

Komentar