Sabtu, 13 Juli 2024 | 23:08
OPINI

Menjual Pasir Memperluas Singapura dan Menciutkan Wilayah Batas Laut Indonesia

Menjual Pasir Memperluas Singapura dan Menciutkan Wilayah Batas Laut Indonesia
Pemandangan reklamasi di lepas pantai barat Singapura. (AFP)

Oleh: Jacob Ereste 

ASKARA - Sejumlah pihak pantas mendesak Presiden Joko Widodo mencabut PP No. 26 Tahun 2023 yang membuka kembali  tambang dan ekspor pasir laut. Karena akibatnya bukan cuma mengancam makin banyak pulau kecil di Indonesia yang tenggelam -- hilang -- ditelan bumi, tapi juga memperkecil luas wilayah laut Indonesia yang tergeser akibat perluasan daratan Singapura sebagai pembeli pasir laut dari Indonesia yang sudah giat melakukannya sejak beberapa tahun silam.

Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) mencatat setidaknya sudah 20 pulau kecil di Indonesia yang tenggelam di sekitar Riau, Maluku dan kepulauan lainnya hilang ditelan bumi. Ke depan, diperkirakan sekitar 115 pulau segera menyusul,  seperti disulap oleh alam gaib.

Pada tahun 2000 di Kepulauan Riau dan sekitarnya bisa jutaan kubik pasir laut dan pasir darat yang dikeruk dari pulau Batam dan laut sekitarnya dengan harga antara 6.000 - 8000 rupiah per kubik. Sehingga Singapura mampu menambah luas daratannya sampai 200.000  hektar dalam waktu singkat. Saat mengikuti Kapal Patroli Petugas dari Kepulauan Riau antara tahun 2002 - 2004, kapal ketuk pasir laut milik Singapura yang super canggih itu tidak mampu dihalau oleh Kapal Patroli laut milik Indonesia. Kapal keruk pasir laut milik Singapura terus beroperasi setiap hari ketika itu, meski suplai dari pengusaha pasir laut dan pasir darat dari Indonesia nyaris tak pernah berhenti melakukan bisnis yang merusak alam dan lingkungan bumi Indonesia.

Dari catatan Atlantika Institut Nusantara, Negara Singapura memiliki wilayah terkecil di Asia Tenggara, hanya 722,5 km persegi, nyaris sama dengan Kota Samarinda, 718 km persegi. Saat ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles tahun 1819, Singapura masih berupa rawa bakau.

Perbatasannya dengan Malaysia di Utara, sedangkan Indonesia pada bagian Selatan dan Laut China Selatan. Selepas dari penjajahan Inggris tahun 1955, dan terpisah dari Malaysia tahun 1963 hingga mereka pada tahun 1965, negeri  berjuluk Singa itu terus melaju pesat ekonomi dan pembangunannya.

Ceritanya dahulu, Singapura itu dihuni oleh para nelayan dari Indonesia bersama para bajak laut sebagai pos terdepan Kerajaan Sriwijaya versi Ensiklopedia Britania (2015). Dalam prasasti Jawa dan China pada abad 14, Singapura dahulu bernama Tumasik yang berarti laut dari bahasa Jawa.

Catatan lebih jauh, Kerajaan Chola India Selatan, ketika Rajendra Chola berkuasa pernah menyerang Tumasik pada tahun 1025. Lalu serangan berikutnya pada tahun 1068. Artinya, ketika itu pun Singapura sudah menarik untuk direbut oleh bangsa asing. Sebab negeri Tumasik yang didirikan oleh Pangeran Sri Buana cukup menggiurkan dan strategis untuk dikuasai.

Tahun 1275, Raja Kertanegara sebagai penguasa Singasari pernah menyerbu Tumasik dan Pahang di pantai Timur. Dalam kitab Negarakertagama  (catatan Empu Tantular) tahun 1365, Tumasik merupakan salah satu yang berada dibawah Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-14.

Ketika Stanford Raffles sampai di Singapura, Januari  1819 kondisinya masih seperti kampung dahulu itu, berada dibawah pengawasan  Kesultanan Johor yang dikuasai oleh Belanda. Sejarah Singapura yang diketahui banyak orang atas jasa Stamford Raffles mulai melakukan reklamasi dari perairan sekitarnya untuk memperluas daratannya yang kecil itu. Catatan usaha reklamasi daratan Singapura sudah dilakukan sejak awal abad-19 hingga majin intens pada paruh akhir abad ke-20 karena ekonominya maju pesat.

Proyek reklamasi yang berawal dari luas daratan tidak lebih dari 600 km persegi hingga menjadi 719 km persegi. Semua lahan reklamasi itu gunakan untuk kawasan industri, pemukiman dan sarana bagi  pemerintahan dan militer.

Sejarah mencatat, pada tahun 1960, Singapura hanya dihuni sekitar 2 juta orang. Pada tahun 2008, sudah mencapai 4,5 juta. Itulah sebabnya, Singapura terpaksa memperluas daratannya sampai 22 persen sejak tahun 1965, meski sebagian masih dibiarkan kosong. Tapi, toh sampai hari ini Singapura masih terus membeli jutaan kubik pasir laut maupun pasir darat dari Indonesia untuk terus memperluas  lahan mereka yang membuat penyempitan Selat Malaka, sehingga luas perairan laut Indonesia pun jadi menciut.

Komentar